Sampai note ke 500, rupanya gw masih hidup. Hasil tes medical check up kemarin sedikit membuat gw tersenyum, gw terdiagnosa kelebihan sel darah putih alias leukosit. Apa artinya...?!, umh...gw gak musingin apalagi kuatir mengenai diri gw sendiri. Entah sejak kapan perasaan egosentris itu hilang. Gak lagi peduli dengan diri sendiri. Gak lagi berpikir besok mau apa, besok mau gimana, atau besok mau seperti apa...?!, terkadang gw berharap bahwa hari esok itu tidak akan pernah ada. Ketika berangkat tidur dan memejamkan mata, terkadang tak lagi ingin membuka mata kembali.
Kata dokter, ada infeksi di organ pernafasan gw. Gw menolak pengobatan sambil bilang ; "hidup itu apa sih, dok...?!", ke dokter yang memeriksa gw dan gak lama keluar dari ruangan praktek.
Ingatan gw kembali ke sebuah percakapan dengan seorang teman ketika gw kuliah.
"jadi, orang yang kamu sukai itu mati bunuh diri...?!"
"iya..."
"wow...hebat sekali dia..."
"entahlah...dibilang pemberani karena dia menjemput mautnya sendiri, dibilang pengecut karena dia lari dari kehidupan..."
"menurut loe, sebutan apa yang paling tepat buat dia...?!, pemberani atau pengecut...?!"
"diantaranya atau mengarah ke sesuatu yang disebut TIDAK TERDEFINISIKAN...maksudnya TIDAK TERDEFINISIKAN adalah ; gw gak tau motifnya dia ngelakuin itu apa..."
"diantaranya...?!, maksudnya abu-abu gitu...?!"
"iya...ada beberapa hal di dunia ini yang gak selalu hitam dan putih...ya itu tadi, abu-abu..."
"padahal dia itu masih sangat muda sekali..."
"ya...dia, dan juga mereka, maksud gw orang-orang lain yang juga mempunyai kecendrungan-kecendrungan seperti itu...gw juga gak ngerti, mereka masih muda, tapi sudah bosan hidup atau tak punya pengharapan lagi pada hidup. Jelas, ada sesuatu yang salah...tapi terlalu banyak faktor yang menjadi pemicunya..."
"gw pikir itu terlalu frontal..."
"maksud loe...?!"
"gantung diri, loncat dari gedung tinggi, memotong nadi dengan silet dan hal2 lain yang bisa dilakuin buat bunuh diri itu terlalu frontal...gak cerdas..."
"gak cerdas...?!"
"kenapa gak bunuh diri pelan2...?!, merusak diri loe sendiri dari dalam maksud gw. Kematian itu pasti datang dengan cepat, dan orang2 di sekitar akan berkata bahwa itu adalah kematian yang wajar, karena sakit, karena umur pendek, karena kebiasaan buruk, dan lain-lain..."
"menurut loe itu kematian yang cerdas...?!"
"umh...gak juga sih...hahahahaaa...mending gw mati ketabrak kontainer gara-gara nolongin anak kecil mau ngambil bola yang dia tendang ke jalan raya. Atau semacam itulah..."
"hooo...pengorbanan..."
"hahahahaaa...ada sesuatu yang selalu gw pikirkan setiap hari mengenai pengorbanan..."
"apa itu...?!"
"apakah ada orang yang berkorban tanpa mengharapkan imbalan, atau adakah orang yang melakukan pengorbanan tanpa mengharapakan sesuatu hal sebagai balasan atau timbal baliknya...?!"
Pertanyaan itu sampai sekarang belum terjawab, atau mungkin sudah terjawab tapi gw gak sedang mendengarkan.
Gw punya sebutan baru di kalangan teman-teman. Mereka menyebut gw ; CONSTANTINE. Pernah nonton filmnya kan...?!, si CONSTANTINE ini memang bandel, masih saja merokok meski batuknya sudah bercampur dengan darah segar. Ini yang gw sebut dengan bunuh diri pelan-pelan. A SILENT SUICIDE. Dan gw gak bangga dengan ini. Biasa aja. It's not noble but it's my number one pain killer.
Jadi, gw yang sebenarnya itu seperti apa...?!. Seorang kenalan baru *kenalnya gak sengaja dan gak pernah ada niat untuk kenal...tiba2 aja bisa kenal...seperti sebuah kebetulan...terkadang hidup memang seperti sebuah kumpulan-kumpulan kebetulan...*
Dia membaca semua tulisan gw. Tersenyum, tertawa, serius, memicingkan mata, mengerutkan dahi, dan sebagainya-dan sebagainya. Lalu dia bertanya seperti ini ;
"KASIH TAHU KE GW, SEDEPRESI APA SIH HIDUP LOE....?!"
Gw gak bisa lagi berkata-kata. Kedua tangan gw cuma bergetar. Gw mengganti topeng gw yang barusan hancur berantakan dengan topeng yang baru. Dia pun pergi. Sama seperti yang lain. Pergi.
Kali ini, gw membiarkan orang-orang yang pergi dan berlalu itu. Tak lagi ingin mereka kembali. Menjadi asing itu ide yang terlalu sempurna untuk diabaikan dan tak dijalankan. Seseorang mengajari gw hal itu. terima kasih banyak.
Seorang temen gw perempuan bertanya ke gw seperti ini ;
"loe pengen punya anak berapa...?!"
"tiga..."
"namanya siapa aja...?!"
"Luvena, Near, dan Kurenai..."
"namanya koq aneh-aneh...?!"
"ada artinya..."
"apa artinya...?!"
"Luvena itu anak perempuan, artinya kekasih yang mungil. Near itu anak laki-laki, it's like a pray that I hope he always be near when somebody is saved. Kurenai itu anak perempuan, kurenai means deep red, and deep red means love...."
"ibunya siapa...?!"
"siapa aja lah...yang penting halal..."
"hahahahaa...maksudnya...?!"
"siapapun ibunya anak-anak, minumnya teh botol sosro..."
"jaahhhh...hahahahaaa...dasar lemper....!!!"
Tak ada yang salah dengan mimpi. Begitu juga dengan angan-angan dan khayalan. Semuanya terasa benar sampai kenyataan membaurkannya dengan sempurna. Terlalu sempurna.
Ini sebuah cerita dari masa lalu gw, ketika gw lahir sampai berusia hampir 2 tahun, gw ditinggal oleh bokap gw yang tugas ke timor-timur. Bokap gw beberapa kali bertugas ke timor-timur dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Selama bokap gw bertugas, gw sering banget main sama anak tetangga yang seumuran gw, bokapnya waktu itu tidak dikirim bertugas ke timor-timur seperti bokap gw. Jadi, gw yang masih kecil banget itu menganggap kalo bokap gw ya bokapnya temen gw itu tadi.
Namanya juga anak kecil yang mengandalkan pengalaman dan perasaan. Ketika bokap gw pulang, gw memanggil bokap gw dengan sebutan "OM". Selama jangka waktu bokap gw pergi tugas, gw terbiasa dengan seorang perempuan yaitu nyokap gw di rumah, dan gw sebagai satu2nya laki2 di rumah. Jelas, dengan adanya bokap gw, gw menjadi terganggu. Bokap gw pun sedih dengan kenyataan seperti itu.
Ketika bokap gw ada di rumah, gw selalu bertanya seperti ini ke nyokap ;
"MAMA, SI OM ITU KOK GAK PULANG-PULANG SIH, MA...?!, SURUH PULANG DONG, MA...?!"
atau seperti ini ;
"MAMA, SI OM ITU DATANG LAGI, MA...USIR DONG, MA....!!!"
nyokap gw menjelaskan seperti ini ;
"ITU BUKAN OM, ITU PAPA..."
gw pun berteriak-teriak, kadang sampe histeris ;
"BUKAAAANNN...BOHOOOONNGG...ITU BUKAN PAPA...ITU CUMA SI OM...!!!, PAPA AKU BUKAN ITU...ITU BUKAN PAPA...!!!, MAMA BOHONG...!!!"
semakin sedihlah bokap gw itu. Gw pun gak mau dekat2 dengan bokap gw. Gak mau digendong atau dirayu dengan dibelikan mainan. Diajak ngobrol pun gw diam atau menjawab seadanya saja.
Semakin hari, gw pun tersiksa dengan kehadiran bokap gw. Sakitlah gw, sampai pernah demam 40 derajat celcius. Gw pun dibawa nyokap mengungsi ke rumah saudara yang rumahnya gak begitu jauh
karena gw tersikasa dengan kehadiran bokap gw yang asing itu.
Semakin tersiksalah batin bokap gw itu. Nyokap bilang seperti ini ke bokap gw waktu itu ;
"JANGAN DIPAKSAKAN KALO BUKAN DIA YANG MEMULAI DULUAN UNTUK KENAL..."
Bokap gw pun setuju. Tak berapa lama,b okap pun harus berangkat tugas lagi ke timor-timur. Bokap membawa baju yang sering gw pakai sebagai obat kangen katanya. Sering ketika di hutan atau sedang ada waktu luang, bokap gw itu memandangi baju gw yang dibawa, diciumi, atau membayangkan gw sedang ada di pelukannya. Entah karena sugesti rasa rindu atau apa, gw pun jadi sakit-sakitan.
Ketika bokap gw bercerita ke nyokap gw tentang perasaannya, nyokap pun menegur bokap gw ;
"IKHLASKAN SAJA, TAK PERLU RISAU. KAMU BERSEDIH DAN TERTEKAN BATIN SEPERTI INI UNTUK APA...?!, DIA ANAK KAMU, KAMU AYAHNYA, PASTI DIA AKAN MENERIMA KAMU..."
Pada akhirnya, gw pun memanggil si OM itu dengan panggilan PAPA.
Teringat obrolan gw dengan bokap gw di beranda rumah di waktu sore. Gw masih SMA waktu itu ;
"bang, kamu mau gak jadi tentara...?!"
"enggak..."
"jadi polisi...?!"
"enggak..."
"jadi PNS...?!"
"enggak..."
"lho...kenapa gak mau...?!"
"papa sudah lupa...?!, jadi abdi negara itu tujuannya cuma satu ; PENGABDIAN. Perasaan papa pernah ngomong gitu deh...?!, sudah lupa apa lagi nge-tes...?!"
bokap gw pun tertawa dengan tawanya yang khas.
"aku bukan tipe orang seperti itu, pa...makanya aku gak mau...aku gak bisa..."
"ya...sedih memang bila melihat kenyataan yang ada sekarang, bang..."
"kenyataan apa, pa...?!, ceritain dong, pa...oh ya, sekalian juga cerita-cerita waktu papa tugas di daerah konflik...abang kan udah gede, pa...cerita dong, pa...?!"
Bokap gw pun terdiam sebentar, memandangi gw, lalu masuk ke dalam rumah. Bokap gw itu gak pernah cerita ke gw saat-saat dia ada di daerah konflik. Tentang perang dan semacamnya yang pernah bokap gw lalui. Ada kengerian di matanya, ada ketakutan, ada trauma, ada semacam luka yang tak ingin diketahui oleh anak-anaknya.
Seorang teman dekat bokap gw pernah bercerita *karena gw paksa buat cerita* tentang sebuah hari di timor-timur. Kira-kira seperti ini ceritanya ;
Seorang teman dekat bokap besok dapet ijin cuti untuk pulang dengan beberapa prajurit yang lain. Denngan senangnya dia bercerita dan tertawa senang tentang kerinduannya untuk bertemu dengan keluarga dan orang2 yang disayanginya. Untuk seorang tentara, bisa pulang sejenak dari daerah konflik, jelas itu adalah kebahagiaan. Malam harinya terjadi kontak senjata dengan pasukan yang kala itu disebut sebagai Gerakan Pengacau Keamanan. Teman bokap yang besok hendak pulang itu gugur.
Untuk beberapa lama, bokap gw tak tahu bagaimana caranya untuk tertawa.
Di Kamboja kala itu, konvoi pasukan bokap yang jumlahnya cuma puluhan orang di kepung oleh ratusan gerilyawan Khmer Merah. There's no way out. Evakuasi personel pun dilakukan dengan helikopter. Beruntung tak ada gerilyawan yang menembakkan RPG ke arah helikopter itu. Belum lagi bagaimana jantungannya bokap gw kala berunding dengan gerilyawan Khmer Merah dengan sejata yang harus dilucuti sebagai syaratnya.
Sempet juga bokap mau ditugaskan di Bosnia, tapi nyokap melarang bokap untuk pergi.
Gw jadi tahu kenapa bokap gw menangis ketika sambil memeluk nyokap, memeluk gw, dan juga memeluk adik2 gw ketika kembali dari tugas di daerah konflik.
Perasaan yang sama saat gw menonton film WE ARE SOLDIER. Di balik seragam itu, mereka juga manusia, sama seperti manusia yang lainnya.
Oh ya, jadi teringat sama seorang teman gw yang sempat hilang itu. Akhir2 ini dia sering muncul lagi lewat chattingan. Sekarang dia telah menjadi seorang maniak komputer. Selalu dan selalu saat memulai obrolan, dia selalu mengetik HAHAHAHAHAHAAA...jadilah gw memanggil dia dengan sebutan OM JIN. OM JIN sedang sibuk dengan program2 LINUX sekarang. Katanya mau bikin buku tutorial LINUX buat para EXPERT. Gaya bener dah itu si OM JIN. Minatnya di TEKNIK NUKLIR, kuliahnya di FARMASI, hasratnya di SATRA, PSIKOLOGI, DAN FILSAFAT. Sekarang asyik ngutak-ngatik KOMPUTER. Jelaslah sudah kalau FARMASI itu tempat yang asyik untuk MENDAMPARKAN diri sejenak *buat anak2 farmasi, jangan dimasukkin ke hati. Ini subyektif aja, gak pernah ada yang sia2 dari ilmu yang didapat*
Teringat akan obrolan dengan seorang teman, waktu itu gw nginep di kost-an nya dia. Waktu itu dia mau menikah, sekarang ini sudah menikah dan istrinya sedang mengandung anak pertama.
"cuy...loe kapan marriednya...?!"
"kapan-kapan deh...itu juga kalo inget..."
"nungguin jandanya ya loe...?!"
"yee...perawan banyak ngapain nungguin janda...?!, sepaket pula...?!"
"hahaha...dodol loe...!!!, berani loe ngomong gitu di depan dia...?!"
"mana berani gw...!!!, gila apa...?!"
"yaudah, buruan married loe...!!!"
"berisik loe...!!!, gaya loe aja kayak orang bener kalo married...!!!"
"jiaahh...pedes bener omongan loe...?!?!"
"loe mah sama kayak anak muda-anak muda sekarang....married jadi obsesi...!!!, TOLOL...!!!"
"sial...gw dikatain tolol...!!!"
"ya..kalo anggapan married itu kayak cuma seneng2, kayak jalan2 dan traveling, atau kayak lagi main game sih ya gw bilang itu TOLOL...!!!"
"heeeuuu..."
"dengerin...loe ketemu cewek yang bakalan loe lihat terus mukanya sampe loe mati, loe liatin terus badannya dari mulai yang seksi sampe amburadul kayak adonan donat, terus loe raba dan belai kulitnya yang kenceng sampe kendor dan berkerut-kerut...loe bisa ngasih jamninan ke gw gak kalo loe gak bakalan bosen sama dia...?!, loe bisa ngasih jaminan ke gw kalo loe terima dia meski anggota badannya gak utuh karena sesuatu setelah loe nikahin dia...?!, loe bisa gak menerima keluarga besarnya yang loe gak tahu seperti apa sifatnya sama seperti loe menerima dia apa adanya...?!, loe bisa melalui saat2 berat bersama dia gak...?!, apapun yang terjadi loe akan selalu dengan dia...?!, loe bisa tahan dengan kecemasan2, kegelisahan2 dan ketakutan2 dalam rumah tangga gak...?!, kira2 loe bisa terima keadaaan anak loe gak...?!, kali aja lahirnya cacat atau autis atau epilepsi, atau karena kelainan2 lain...?!, loe bisa terima itu gak...?!, kira2 loe bisa ngasih contoh ke anak2 loe gak...?!, kira2 loe punya gambaran mental seorang suami dan juga seorang ayah seperti itu gak...?!, kalo loe gak punya, terus ngapain nikah...?!, inget, nikah itu cuma sekali, kecuali loe punya planning menikah berkali-kali...itu bukan suatu masalah..."
"menurut loe...?!"
"loe mah kebelet pengen kawin, bukannya pengen nikah...!!!, HAHAHAHAHAAAA...."
"MONYEEEEEEETTTTT.....!!!!"
"tapi, yang tadi itu serius..."
"ya..gw ngerti koq..."
"gw selangkah lebih maju dan lebih stress dari loe...heheheheheeeee...."
"ya..yaa..yaaa..family matters...."
"yups...jadi seorang ayah itu rupanya...gimana ya ngejelasinnya..."
"sulit banget ya...?!"
"kayak status di facebook lah ; IT'S COMPLICATED....hahahahahaaaa..."
"wakakakakakakakakk..."
Jadi memang benar, jadi Ayah itu adalah tugas yang paling HOROR dan MENGERIKAN...AJIB bener dah rasanya. IT'S COMPLICATED.
Kemarin gw bisa lega. Gw kirim lagu sebagai permintaan maaf gw ke mantan pacar gw. Lega banget.
(kalo mau dengar lagunya, cek disini ; http://www.youtube.com/watch?v=isHKXewiDMs)
(kalo mau download lagunya, disini aja ; http://www.bfwrecordings.com/releases/KorineConception-GlowInTransparancyAurora.php)
Memang benar kalo menjadi asing itu adalah ide yang paling keren. Gw seneng mengetahui dirinya baik2 aja *Semoga selalu baik2 aja*, dikelilingi teman2nya yang baik2 juga *semoga mereka itu adalah teman2 terbaik yang dia miliki*, bebas dari "hal-hal" yang ada sewaktu gw deket dari dia. Kalo gw definisikan sih ; "lebih baik dari dia yang dulu". Itu bagus. Mungkin, memang seperti itu seharusnya. Dan memang seharusnya gw dan dia saling asing seperti ini. Jika itu baik, kenapa tidak...?!, gw pun setuju jika itu berakhir dengan sebuah kebaikan. Sebuah win-win solution.
Maafin gw ya, gw pasti lagi stres berat waktu itu. Setelah gw baca ulang kemarin ; emang bodoh banget gw waktu itu. Tapi gak apa2,mungkin memang sudah seperti ini jalannya. Everything happen for a reason right...?!, jadi sekali lagi gw minta maaf. Kita akan sama-sama senang dan merasa baikan dengan saling menjadi orang asing. Oh ya, terima kasih buat semuanya *Semua yang pernah ada waktu itu, sekarang itu disebut masa lalu*. I MISS YOU....GOOD BYE.
Akhirul kalam *ceilaaaahhh...gaya banget dah...!!!* senangnya untuk mengetahui bahwa setiap orang punya PAIN-nya masing2. Jadi, gw pun punya PAIN gw sendiri. Kalian punya PAIN kalian sendiri juga.Topeng-topeng sudah dibakar semuanya. Saatnya mengobati PAIN itu sendiri. Jika beruntung, mungkin ada seseorang atau beberapa orang yang akan menemani sekaligus mengobati PAIN itu.
Kita akan terus berusaha...atau mati saat berusaha.
Pertanyaan ini pernah beberapa kali datang ke gw, ditanyakan oleh temen gw ;
"di umur 29 itu akan seperti apa sih...?!"
gw jawab dengan bermacam-macam jawaban, tapi di dalam hati gw menjawab ;
"kemungkinannya hanya dua ; kita masih hidup atau kita sudah berada di sebuah dunia yang kita sendiri tak tahu bentuknya seperti apa..."
Untuk para suami yang mengekang dan seolah memenjarakan istrinya, juga para istri yang selalu mencurigai suaminya, gw cuma mau bilang ; "LOVE IS FREE, FREE IS LOVE..." *pesan sponsor euy...peace ahh...*
SAMPAI JUMPA DI NOTE BERIKUTNYA...GOD BLESS YOU ALL...^^
Tampilkan postingan dengan label Plunge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Plunge. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Agustus 2010
Drive and Ride Safely, please...^^
MARI BERBICARA TENTANG APA YANG KITA LIHAT DAN RASAKAN SEHARI-HARI...
Minggu kemarin seorang teman meninggal karena kecelakaan motor. Umh...gw juga kemana-mana naik motor. Di jakarta, ketika kita berkendara dengan motor, jarak kita dengan maut hanya sekitar 1 inchi aja. Maut selalu mengintai para pengendara motor di jakarta. Beberapa hanya luka lecet-lecet aja, beberapa bisa patah atau retak tulang, beberapa bisa terkilir atau sendi yang bergeser, beberapa bisa gegar otak atau koma, dan beberapa lagi bisa menghadap Tuhan YME.
Gak peduli kita bawa motor dengan hati-hati atau berkendara dengan aman, karena kecelakaan bisa terjadi karena orang lain yang ugal-ugalan. Di jakarta, melihat motor-motor bersenggolan dengan kendaraan lain atau menyeruduk kendaran lain adalah hal yang biasa dan wajar. Terlalu sering terjadi makanya dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Gw sering menyaksikan dengan mata gw sendiri, kecelakaan demi kecelakaan. Melihat pengendara motor yang mengaduh di pinggir jalan, melihat pengendara motor yang pingsan sedang digotong oleh orang-orang, atau pengendara motor yang tergeletak di pinggir jalan atau trotoar yang telah ditutupi koran atau pakaian.
Pernah gw beberapa kali memaki kendara yang melaju dengan ugal-ugalan dan seenaknya, beberapa diantara mereka bernasib sial. Gw pun berhenti memaki ketika ada kendaraan yang ugal-ugalan akhir-akhir ini. Kasihan.
Kemarin-kemarin, sebuah motor dengan suara bising menyalip dengan zig-zag plus dengan kecepatan tinggi. Gw pun berkata ; "wah...kasihan, itu orang buru-buru banget mau buang air besar kali ya...?!, udah kebelet banget kali ya...?!, ckk..ckk..ckk...kasihan sekali...!!!"
Gak lama, gw melihat motor tadi sudah ringsek, dan pengendaranya tergeletak tak bergerak di bawah sebuah mobil truk yang berhenti. Darah segar terlihat jelas. Gw pun berujar : "wah...rupanya dia buang air besar di alam lain...ckk..ckk..ckk...".
Berapa nyawa yang melayang di jalan raya...?!
Terkadang gw suka kesal dengan orang-orang yang hendak membelokkan kendaraannya tanpa menggunakan lampu sein. Ada juga yang menyalakan lampu sein, tapi ketika berbelok lampu sein itu baru dinyalakan. Kenapa gak dari jauh-jauh lampu sein itu dinyalakan...?!, supaya pengendara di belakang bisa mengambil ancang-ancang.
Ada juga yang memotong jalur seenaknya tanpa melihat ke spion *beberapa spion motor bukanlah spion, hanya pemanis saja atau pelengkap saja supaya tidak ditilang*, mereka itu yang membahayakan orang lain.
Gw suka memaki mereka ;
"WOI MAS, ITU LAMPU SEIN / SPION bukan accesories dan pemanis belaka. LAMPU SEIN / SPION dipasang karena ada fungsinya. DIGUNAIN DONG...!!!"
atau seperti ini ;
"HEEHHH...LOE BIKIN SIM DI KELURAHAN YA....?!"
dan masih banyak lagi.
Oh ya, satu hal lagi yang penting. Kehidupan kota metropolitan seperti jakarta *emangnya jakarta itu kota metropolitan ya...?!*, terkadang membuat stress dan depresi. Dan jangan melampiaskan stress dan depresi itu di jalan raya. Itu tak hanya membahayakan diri sendiri, namun juga membahayakan orang lain.
Wajarkah itu semua...?!
Sebenarnya sih tidak wajar, namun karena dibiarkan terlalu lama, dianggap sebagai sebuah kewajaran. Pertambahan volume motor yang biadab dan membabi budeg, eh..buta pun dianggap sebagai biang kemacetan di jakarta.
Ini pengalaman gw kalo berangkat ke kantor di pagi hari. Ribuan motor bermacet-macet ria menuju jakarta. Bisa dibayangkan di setiap lampu merah, motor dan mobil mengantri berkilometer panjangnya menunggu lampu hijau menyala. Terkadang gw suka nyeletuk begini ;
"OKAY...INI UDAH KAYAK KEADAAN DI FILM DEEP IMPACT...MANA METEORNYA...?!"
atau ;
"JADI HARI INI, GUNUNG MANA YANG MELETUS / ADA AIR BAH DIMANA/ ADA TSUNAMI KAH...?!, sampai kita mengungsi rame-rame seperti ini...?!
dan masih banyak lagi celetukan-celetukan gw yang terkadang bisa bikin gw senyum-senyum sendiri.
Jakarta identik dengan kemacetan yang biadab di saat pagi dan sore hingga malam. Jika di saat-saat tersebut tidak macet, kita boleh bingung dan bertanya pada diri sendiri ; "INI JAKARTA KAN...?!".
Sebenarnya tak hanya motor saja yang bikin macet. Gw rasa orang-orang indonesia sekarang ini sudah kaya raya semuanya. Lihat pertambahan volume mobil pribadi yang gak mau kalah dengan pertambahan sepeda motor. Boleh-boleh saja dan sah-sah saja. Namun, yang membuat miris adalah ketika hampir semua mobil pribadi yang bermacet ria hanya berisi satu orang saja, itu jelas sebuah kesalahan. Beberapa mobil sekelas ALPHARD dan sejenisnya hanya diisi oleh satu orang saja. Betapa konyolnya kita ini.
SIAPA YANG SALAH...?!
Menurut gw semuanya BERSALAH...!!!, tak ada yang BENAR...!!!
Dari pembuat kebijakan, pemasar kendaraan, dan juga pemakai semuanya bersalah. Kita semua bersalah dengan tingkat dan jenis kesalahan yang berbeda-beda.
Jadi, ketika kita berkendara di jakarta, jangan hanya berpikir mengenai kepentingan diri sendiri, namun juga pikirkan kepentingan dan keselamatan orang lain.
TAK HANYA KELUARGAMU SAJA YANG MENUNGGU DI RUMAH, KELUARGA MEREKA PUN MENUNGGU MEREKA DI RUMAH.
DRIVE AND RIDE SAFELY, PLEASE.
Minggu kemarin seorang teman meninggal karena kecelakaan motor. Umh...gw juga kemana-mana naik motor. Di jakarta, ketika kita berkendara dengan motor, jarak kita dengan maut hanya sekitar 1 inchi aja. Maut selalu mengintai para pengendara motor di jakarta. Beberapa hanya luka lecet-lecet aja, beberapa bisa patah atau retak tulang, beberapa bisa terkilir atau sendi yang bergeser, beberapa bisa gegar otak atau koma, dan beberapa lagi bisa menghadap Tuhan YME.
Gak peduli kita bawa motor dengan hati-hati atau berkendara dengan aman, karena kecelakaan bisa terjadi karena orang lain yang ugal-ugalan. Di jakarta, melihat motor-motor bersenggolan dengan kendaraan lain atau menyeruduk kendaran lain adalah hal yang biasa dan wajar. Terlalu sering terjadi makanya dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Gw sering menyaksikan dengan mata gw sendiri, kecelakaan demi kecelakaan. Melihat pengendara motor yang mengaduh di pinggir jalan, melihat pengendara motor yang pingsan sedang digotong oleh orang-orang, atau pengendara motor yang tergeletak di pinggir jalan atau trotoar yang telah ditutupi koran atau pakaian.
Pernah gw beberapa kali memaki kendara yang melaju dengan ugal-ugalan dan seenaknya, beberapa diantara mereka bernasib sial. Gw pun berhenti memaki ketika ada kendaraan yang ugal-ugalan akhir-akhir ini. Kasihan.
Kemarin-kemarin, sebuah motor dengan suara bising menyalip dengan zig-zag plus dengan kecepatan tinggi. Gw pun berkata ; "wah...kasihan, itu orang buru-buru banget mau buang air besar kali ya...?!, udah kebelet banget kali ya...?!, ckk..ckk..ckk...kasihan sekali...!!!"
Gak lama, gw melihat motor tadi sudah ringsek, dan pengendaranya tergeletak tak bergerak di bawah sebuah mobil truk yang berhenti. Darah segar terlihat jelas. Gw pun berujar : "wah...rupanya dia buang air besar di alam lain...ckk..ckk..ckk...".
Berapa nyawa yang melayang di jalan raya...?!
Terkadang gw suka kesal dengan orang-orang yang hendak membelokkan kendaraannya tanpa menggunakan lampu sein. Ada juga yang menyalakan lampu sein, tapi ketika berbelok lampu sein itu baru dinyalakan. Kenapa gak dari jauh-jauh lampu sein itu dinyalakan...?!, supaya pengendara di belakang bisa mengambil ancang-ancang.
Ada juga yang memotong jalur seenaknya tanpa melihat ke spion *beberapa spion motor bukanlah spion, hanya pemanis saja atau pelengkap saja supaya tidak ditilang*, mereka itu yang membahayakan orang lain.
Gw suka memaki mereka ;
"WOI MAS, ITU LAMPU SEIN / SPION bukan accesories dan pemanis belaka. LAMPU SEIN / SPION dipasang karena ada fungsinya. DIGUNAIN DONG...!!!"
atau seperti ini ;
"HEEHHH...LOE BIKIN SIM DI KELURAHAN YA....?!"
dan masih banyak lagi.
Oh ya, satu hal lagi yang penting. Kehidupan kota metropolitan seperti jakarta *emangnya jakarta itu kota metropolitan ya...?!*, terkadang membuat stress dan depresi. Dan jangan melampiaskan stress dan depresi itu di jalan raya. Itu tak hanya membahayakan diri sendiri, namun juga membahayakan orang lain.
Wajarkah itu semua...?!
Sebenarnya sih tidak wajar, namun karena dibiarkan terlalu lama, dianggap sebagai sebuah kewajaran. Pertambahan volume motor yang biadab dan membabi budeg, eh..buta pun dianggap sebagai biang kemacetan di jakarta.
Ini pengalaman gw kalo berangkat ke kantor di pagi hari. Ribuan motor bermacet-macet ria menuju jakarta. Bisa dibayangkan di setiap lampu merah, motor dan mobil mengantri berkilometer panjangnya menunggu lampu hijau menyala. Terkadang gw suka nyeletuk begini ;
"OKAY...INI UDAH KAYAK KEADAAN DI FILM DEEP IMPACT...MANA METEORNYA...?!"
atau ;
"JADI HARI INI, GUNUNG MANA YANG MELETUS / ADA AIR BAH DIMANA/ ADA TSUNAMI KAH...?!, sampai kita mengungsi rame-rame seperti ini...?!
dan masih banyak lagi celetukan-celetukan gw yang terkadang bisa bikin gw senyum-senyum sendiri.
Jakarta identik dengan kemacetan yang biadab di saat pagi dan sore hingga malam. Jika di saat-saat tersebut tidak macet, kita boleh bingung dan bertanya pada diri sendiri ; "INI JAKARTA KAN...?!".
Sebenarnya tak hanya motor saja yang bikin macet. Gw rasa orang-orang indonesia sekarang ini sudah kaya raya semuanya. Lihat pertambahan volume mobil pribadi yang gak mau kalah dengan pertambahan sepeda motor. Boleh-boleh saja dan sah-sah saja. Namun, yang membuat miris adalah ketika hampir semua mobil pribadi yang bermacet ria hanya berisi satu orang saja, itu jelas sebuah kesalahan. Beberapa mobil sekelas ALPHARD dan sejenisnya hanya diisi oleh satu orang saja. Betapa konyolnya kita ini.
SIAPA YANG SALAH...?!
Menurut gw semuanya BERSALAH...!!!, tak ada yang BENAR...!!!
Dari pembuat kebijakan, pemasar kendaraan, dan juga pemakai semuanya bersalah. Kita semua bersalah dengan tingkat dan jenis kesalahan yang berbeda-beda.
Jadi, ketika kita berkendara di jakarta, jangan hanya berpikir mengenai kepentingan diri sendiri, namun juga pikirkan kepentingan dan keselamatan orang lain.
TAK HANYA KELUARGAMU SAJA YANG MENUNGGU DI RUMAH, KELUARGA MEREKA PUN MENUNGGU MEREKA DI RUMAH.
DRIVE AND RIDE SAFELY, PLEASE.
a Prelude...Before The Death...[bagian 2]
Ini doaku setiap malam ; suatu hari, setiap orang akan berada di tempat semestinya dan seharusnya dia berada.
Di perempatan-perempatan jalan di kota besar ini aku melihat mereka. Wajah-wajah itu. Setiap hari dan hampir setiap saat terbayang wajah-wajah itu. Mereka yang gusar. Sedih. Hina. Murung. Kosong. Sombong. Wajah-wajah yang seolah berkata ; "tolonglah saya", "saya tak tahu apa yang sedang saya lakukan", saya hanya menjalani ini semampu saya", saya sudah tak kerasan dengan hidup saya", saya bingung untuk apa saya berada disini sekarang", "saya lelah untuk berharap lagi", saya tak tahu harus bagaimana lagi", "saya bersyukur, meski tak tahu apa yang saya syukuri". Wajah-wajah itu sangatlah nyata. Kehidupan ini sangatlah nyata. Wajah-wajah itu terekam jelas dimataku. Wajah-wajah dibalik helm, dibalik kaca mobil pribadi, dibalik kaca kendaran umum, dibalik tawa dan senyum yang semu dan hambar. Tak bisa dinikmati. Bersyukurlah, meski tak tahu apa yang disyukuri. Kenyataan menjadikan sesuatu kosong dan hampa. Tak berisi. Tanpa isi.
Mereka yang lain mengira dirinya tahu tentang semuanya, padahal sedikit pun tidak. Kenapa...?!. Mereka berhenti melihat dan menutup mata. Mereka berhenti mendengar dan menutup telinga. Hatinya...?!, kemana hatinya...?!. Sudah mereka jual. Mereka jual dengan harga dan kondisi yang variatif. Tergantung pada apa yang disebut "Need" dan "Want" dari tiap-tiap mereka.
Tengoklah itu wahai Kapitalis, kematian para Imajiner...!!!. Suara Tuhan yang kalian bungkam dengan begitu mudahnya. Tangis dan teriakan mereka yang kalian buat tak terdengar. Tawa yang kalian renggut dengan paksa, lewat konspirasi, persekongkolan yang sedemikian rapi. Pada apa mereka berharap...?!, pada siapa mereka mengadu...?!. Pada faktor X yang disebut Tuhan...?!.
Ya, pada Tuhan sajalah manusia berharap. Berharap pada sesama manusia lain hanya akan melahirkan kekecewaan.
Doaku masih sama setiap malam ; Setiap orang akan berada di tempat dimana seharusnya dirinya berada. Melakukan apa yang mereka sukai. Meyakini apa yang mereka percaya.
Sebuah percakapan masih melekat jelas di kepalaku ;
"janganlah kamu melakukan apa yang kamu tidak suka..."
"kenapa...?!"
"karena itu hanya akan membuat mu terlihat seperti zombie..."
"maksudmu...?!"
"tak ada kesenangan yang nyata padanya. Sebuah hidup yang kamu paksakan. Kamu menjadi pelupa. Mudah untuk melupakan hal-hal yang terjadi. Kamu seperti berjalan saja, tanpa arah, tanpa tujuan..."
"lalu...?!"
"Kamu akan terasing dengan sendirinya. Mulai membenci orang-orang disekitarmu. Kamu menyalahkan mereka. Dan ketika orang-orang yang kamu salahkan telah habis. Kamu akan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu akan berakhir dengan membenci dirimu sendiri..."
"katakan padaku, kamu mengalaminya...?!"
"Ya, aku yakin aku sedang mengalaminya..."
"bagaimana kamu bisa begitu yakin...?!"
"Entahlah, buatku hari Jum'at terasa begitu indah dan hari minggu terasa begitu menyesakkan...!!!"
"Kenapa kamu tak berhenti dan melakukan apa yang kamu suka...?!"
"Seandainya bisa semudah itu, aku dengan senang hati akan melakukannya. Namun, dalam hidup ada begitu banyak variable yang terikat dalam hidup seseorang. Aku tak bisa menganggap variable-variable itu tak ada. Aku tak pernah sanggup...."
"Jadi...?!"
"Menunggu. Aku menunggu. Menjalin persahabatan dengan sang waktu. Memadu kasih dengan kesabaran. Aku tahu. Entah bagaimana, aku tahu bila waktu untukku melakukan apa yang aku suka dan pergi dari sini akan datang. Aku sedang menunggunya..."
"Bagaimana jika hal itu tak akan pernah datang...?!"
"Aku akan meminta satu permintaan pada Tuhan..."
"Apa itu...?!"
"Aku akan meminta pada Tuhan, tuk membuat wajahku tersenyum di saat terakhirku..."
"Itu saja...?!"
"Ya. Sebuah senyum saja. Meski aku tahu, senyum itu tetap tak mampu membendung tangis, tapi hanya itu yang aku inginkan..."
"Aku pun ingin tersenyum di saat terakhir dalam hidupku..."
"Mintalah pada Tuhan..."
Aku tahu pria itu. Bagian tergelap dari kehidupan. Merasakan apa yang setiap orang tidak ingin rasakan. Mengecap apa yang orang-orang tidak ingin kecap. Dia selalu seperti itu. Berusaha memahami apa yang dia sempat acuhkan di masa mudanya. Merindukan kembali apa yang telah lama dilupakannya.
Pria itu ada didalam doaku setiap malam. Selalu ada dalam doaku setiap malam.
TO BE CONTINUED...
Di perempatan-perempatan jalan di kota besar ini aku melihat mereka. Wajah-wajah itu. Setiap hari dan hampir setiap saat terbayang wajah-wajah itu. Mereka yang gusar. Sedih. Hina. Murung. Kosong. Sombong. Wajah-wajah yang seolah berkata ; "tolonglah saya", "saya tak tahu apa yang sedang saya lakukan", saya hanya menjalani ini semampu saya", saya sudah tak kerasan dengan hidup saya", saya bingung untuk apa saya berada disini sekarang", "saya lelah untuk berharap lagi", saya tak tahu harus bagaimana lagi", "saya bersyukur, meski tak tahu apa yang saya syukuri". Wajah-wajah itu sangatlah nyata. Kehidupan ini sangatlah nyata. Wajah-wajah itu terekam jelas dimataku. Wajah-wajah dibalik helm, dibalik kaca mobil pribadi, dibalik kaca kendaran umum, dibalik tawa dan senyum yang semu dan hambar. Tak bisa dinikmati. Bersyukurlah, meski tak tahu apa yang disyukuri. Kenyataan menjadikan sesuatu kosong dan hampa. Tak berisi. Tanpa isi.
Mereka yang lain mengira dirinya tahu tentang semuanya, padahal sedikit pun tidak. Kenapa...?!. Mereka berhenti melihat dan menutup mata. Mereka berhenti mendengar dan menutup telinga. Hatinya...?!, kemana hatinya...?!. Sudah mereka jual. Mereka jual dengan harga dan kondisi yang variatif. Tergantung pada apa yang disebut "Need" dan "Want" dari tiap-tiap mereka.
Tengoklah itu wahai Kapitalis, kematian para Imajiner...!!!. Suara Tuhan yang kalian bungkam dengan begitu mudahnya. Tangis dan teriakan mereka yang kalian buat tak terdengar. Tawa yang kalian renggut dengan paksa, lewat konspirasi, persekongkolan yang sedemikian rapi. Pada apa mereka berharap...?!, pada siapa mereka mengadu...?!. Pada faktor X yang disebut Tuhan...?!.
Ya, pada Tuhan sajalah manusia berharap. Berharap pada sesama manusia lain hanya akan melahirkan kekecewaan.
Doaku masih sama setiap malam ; Setiap orang akan berada di tempat dimana seharusnya dirinya berada. Melakukan apa yang mereka sukai. Meyakini apa yang mereka percaya.
Sebuah percakapan masih melekat jelas di kepalaku ;
"janganlah kamu melakukan apa yang kamu tidak suka..."
"kenapa...?!"
"karena itu hanya akan membuat mu terlihat seperti zombie..."
"maksudmu...?!"
"tak ada kesenangan yang nyata padanya. Sebuah hidup yang kamu paksakan. Kamu menjadi pelupa. Mudah untuk melupakan hal-hal yang terjadi. Kamu seperti berjalan saja, tanpa arah, tanpa tujuan..."
"lalu...?!"
"Kamu akan terasing dengan sendirinya. Mulai membenci orang-orang disekitarmu. Kamu menyalahkan mereka. Dan ketika orang-orang yang kamu salahkan telah habis. Kamu akan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu akan berakhir dengan membenci dirimu sendiri..."
"katakan padaku, kamu mengalaminya...?!"
"Ya, aku yakin aku sedang mengalaminya..."
"bagaimana kamu bisa begitu yakin...?!"
"Entahlah, buatku hari Jum'at terasa begitu indah dan hari minggu terasa begitu menyesakkan...!!!"
"Kenapa kamu tak berhenti dan melakukan apa yang kamu suka...?!"
"Seandainya bisa semudah itu, aku dengan senang hati akan melakukannya. Namun, dalam hidup ada begitu banyak variable yang terikat dalam hidup seseorang. Aku tak bisa menganggap variable-variable itu tak ada. Aku tak pernah sanggup...."
"Jadi...?!"
"Menunggu. Aku menunggu. Menjalin persahabatan dengan sang waktu. Memadu kasih dengan kesabaran. Aku tahu. Entah bagaimana, aku tahu bila waktu untukku melakukan apa yang aku suka dan pergi dari sini akan datang. Aku sedang menunggunya..."
"Bagaimana jika hal itu tak akan pernah datang...?!"
"Aku akan meminta satu permintaan pada Tuhan..."
"Apa itu...?!"
"Aku akan meminta pada Tuhan, tuk membuat wajahku tersenyum di saat terakhirku..."
"Itu saja...?!"
"Ya. Sebuah senyum saja. Meski aku tahu, senyum itu tetap tak mampu membendung tangis, tapi hanya itu yang aku inginkan..."
"Aku pun ingin tersenyum di saat terakhir dalam hidupku..."
"Mintalah pada Tuhan..."
Aku tahu pria itu. Bagian tergelap dari kehidupan. Merasakan apa yang setiap orang tidak ingin rasakan. Mengecap apa yang orang-orang tidak ingin kecap. Dia selalu seperti itu. Berusaha memahami apa yang dia sempat acuhkan di masa mudanya. Merindukan kembali apa yang telah lama dilupakannya.
Pria itu ada didalam doaku setiap malam. Selalu ada dalam doaku setiap malam.
TO BE CONTINUED...
a Prelude...Before The Death...[bagian 1]
Suatu hari ini harus diakhiri. Aku harap seseorang datang untuk mengakhiri. Terlalu lama berdiam disini dan rasa muak semakin menjadi-jadi, padamu, mereka, kalian semua. Bisikkanlah pada malaikat kematian, duhai kamu yang mengenalnya ; jenguklah diriku ini dan bawalah aku serta. Bisikkanlah dengan tegas dan tanpa keraguan. Malaikat kematian benci keragu-raguan. Bisikkanlah padanya, duhai kamu yang tahu dimana dirinya berada. Aku muak untuk menunggu. Sudah terlalu lama aku menunggu hadirnya.
Maukah kamu datang untuk mengakhiri ceritaku ini...?!
Pada sebuah tawa aku bersandar. Pada tawa itu aku tertawa. Pada tawa itu aku menangis. Pada tawa itu terekam jelas sesosok manusia. Peduli pada keluarganya. Peduli pada orang-orang disekitarnya. Peduli pada apa yang diyakininya. Bahkan terlalu peduli, terlalu baik, terlalu lugu. Setiap orang yang mengenal tawa itu, mengaguminya. Setiap orang yang mengenal tawa itu, menghormatinya. Setiap orang yang mengenal tawa itu, berhutang budi padanya. Tawa itu tak meminta apa-apa. Tak secuil pun. Tak sedikit pun. Tawa itu terlalu lugu dalam memandang kehidupan. Tawa itu hanya berharap dan tak meminta. Ia hanya berharap bahwa mereka yang mengenalnya, bisa tertawa seperti dirinya. Namun, tak ada yang bisa tertawa seperti dirinya. Tak ada yang mampu.
Tak ada lagi kah tawa yang bisa telingaku dengar, seperti sebuah tawa tempat aku bersandar sekarang...?!
Lalu tawa itu pun pergi. Tanpa berpesan. Tanpa pamit. Tanpa seucap kata pun. Tawa itu pergi dalam sekejap. Meninggalkan getaran dan goncangan. Getarannya terasa sampai jauh. Goncangannya belum berhenti sampai detik ini. Tawa itu sirna, dipeluk langit yang muram. Ditangisi semesta lewat hujan yang tebal. Tak ada tawa saat dirinya pergi, meski itu yang selama ini dirinya harapkan. Aku melihat wajah-wajah termenung. Aku melihat wajah-wajah pucat seolah tak percaya. Aku melihat wajah-wajah yang merobek jubahnya sebagai tanda duka yang dalam. Aku melihat wajah-wajah dipenuhi air mata. Aku melihat wajah-wajah yang tersedu sambil membenamkan waajahnya ke kedua telapak tangannya. Aku melihat wajah-wajah penuh penyesalan. Aku tak melihat wajah-wajah yang tertawa. Sebuah tawa yang terlalu lugu dalam memandang kehidupan. Harapannya dibawa serta saat dirinya pergi.
Dan nampaknya memang benar adanya ; tak ada tawa seperti tawa miliknya. Benarkah itu...?!
Lihat itu...!!!, lihalah itu...!!!, lihatlah kenyataan itu...!!!. Seseorang menuai apa yang mereka tanam. Jelas itu tertulis di dalam kitab suci. LIHAT AKU...!!!, aku menuai apa yang tidak aku tanam...!!!. Mereka itu jahanam-jahanam keji. Pengkhianat-pengkhianat dalam satu darah yang tak berperasaan. Mereka semua adalah role model keduniawian. Mereka mencabik-cabik hati demi uang. Mereka menumpahkan air mata demi uang. Mereka menyakiti darah yang sama dengan mereka demi uang. Mereka mengkhianatinya demi uang. Mereka lupa. Mereka lupa tempat mereka bersandar dulu. Sebuah tawa adalah tempat mereka dulu bersandar. Mereka lupa, dan tawa terlalu lugu dalam memandang kehidupan.
Aku mengacungkan jempol untuk mereka. Meludah. Lalu kemudian memalingkan wajahku dari mereka. Duhai tawa, salahkah aku...?!
Sentuhan lembut itu bernama kasih. Doa nya panjang di waktu malam. Setegar karang ia berdiri di kala siang. Senyumnya lembut di waktu senja. Perhatiannya penuh di waktu pagi menjelang. Tuhan menghitung setiap tetesan air mata yang jatuh dari matamu yang sayu. Tuhan mendengarkan serak paraunya suaramu saat dirimu berdoa. Selalu dan selalu, kau bentangkan selendang kesabaran milikmu itu setiap harinya. Kau menjauhkan aku dari dendam dan rasa sakit di hati. Meniup pergi kejengkelan, menghapus kepedihan, dan mengambil luka tanpa diminta. Anak kecil itu aku. Jemari mungil yang kau raih saat aku terjatuh. Anak kecil itu aku. Rambut halus di kepalaku yang kau belai. Anak kecil itu aku. Tubuh mungil yang kau peluk saat aku terbaring tiada daya. Sesungguhnya, anak kecil itu berlari dan berpeluh bukan untuk dirinya, melainkan untukmu. Meski sulit, anak kecil itu hanya ingin menghadirkan tawa bagimu. Seperti sebuah tawa yang kau cintai dengan hidupmu. Sebuah tawa yang telah pergi.
TO BE CONTINUED...
Maukah kamu datang untuk mengakhiri ceritaku ini...?!
Pada sebuah tawa aku bersandar. Pada tawa itu aku tertawa. Pada tawa itu aku menangis. Pada tawa itu terekam jelas sesosok manusia. Peduli pada keluarganya. Peduli pada orang-orang disekitarnya. Peduli pada apa yang diyakininya. Bahkan terlalu peduli, terlalu baik, terlalu lugu. Setiap orang yang mengenal tawa itu, mengaguminya. Setiap orang yang mengenal tawa itu, menghormatinya. Setiap orang yang mengenal tawa itu, berhutang budi padanya. Tawa itu tak meminta apa-apa. Tak secuil pun. Tak sedikit pun. Tawa itu terlalu lugu dalam memandang kehidupan. Tawa itu hanya berharap dan tak meminta. Ia hanya berharap bahwa mereka yang mengenalnya, bisa tertawa seperti dirinya. Namun, tak ada yang bisa tertawa seperti dirinya. Tak ada yang mampu.
Tak ada lagi kah tawa yang bisa telingaku dengar, seperti sebuah tawa tempat aku bersandar sekarang...?!
Lalu tawa itu pun pergi. Tanpa berpesan. Tanpa pamit. Tanpa seucap kata pun. Tawa itu pergi dalam sekejap. Meninggalkan getaran dan goncangan. Getarannya terasa sampai jauh. Goncangannya belum berhenti sampai detik ini. Tawa itu sirna, dipeluk langit yang muram. Ditangisi semesta lewat hujan yang tebal. Tak ada tawa saat dirinya pergi, meski itu yang selama ini dirinya harapkan. Aku melihat wajah-wajah termenung. Aku melihat wajah-wajah pucat seolah tak percaya. Aku melihat wajah-wajah yang merobek jubahnya sebagai tanda duka yang dalam. Aku melihat wajah-wajah dipenuhi air mata. Aku melihat wajah-wajah yang tersedu sambil membenamkan waajahnya ke kedua telapak tangannya. Aku melihat wajah-wajah penuh penyesalan. Aku tak melihat wajah-wajah yang tertawa. Sebuah tawa yang terlalu lugu dalam memandang kehidupan. Harapannya dibawa serta saat dirinya pergi.
Dan nampaknya memang benar adanya ; tak ada tawa seperti tawa miliknya. Benarkah itu...?!
Lihat itu...!!!, lihalah itu...!!!, lihatlah kenyataan itu...!!!. Seseorang menuai apa yang mereka tanam. Jelas itu tertulis di dalam kitab suci. LIHAT AKU...!!!, aku menuai apa yang tidak aku tanam...!!!. Mereka itu jahanam-jahanam keji. Pengkhianat-pengkhianat dalam satu darah yang tak berperasaan. Mereka semua adalah role model keduniawian. Mereka mencabik-cabik hati demi uang. Mereka menumpahkan air mata demi uang. Mereka menyakiti darah yang sama dengan mereka demi uang. Mereka mengkhianatinya demi uang. Mereka lupa. Mereka lupa tempat mereka bersandar dulu. Sebuah tawa adalah tempat mereka dulu bersandar. Mereka lupa, dan tawa terlalu lugu dalam memandang kehidupan.
Aku mengacungkan jempol untuk mereka. Meludah. Lalu kemudian memalingkan wajahku dari mereka. Duhai tawa, salahkah aku...?!
Sentuhan lembut itu bernama kasih. Doa nya panjang di waktu malam. Setegar karang ia berdiri di kala siang. Senyumnya lembut di waktu senja. Perhatiannya penuh di waktu pagi menjelang. Tuhan menghitung setiap tetesan air mata yang jatuh dari matamu yang sayu. Tuhan mendengarkan serak paraunya suaramu saat dirimu berdoa. Selalu dan selalu, kau bentangkan selendang kesabaran milikmu itu setiap harinya. Kau menjauhkan aku dari dendam dan rasa sakit di hati. Meniup pergi kejengkelan, menghapus kepedihan, dan mengambil luka tanpa diminta. Anak kecil itu aku. Jemari mungil yang kau raih saat aku terjatuh. Anak kecil itu aku. Rambut halus di kepalaku yang kau belai. Anak kecil itu aku. Tubuh mungil yang kau peluk saat aku terbaring tiada daya. Sesungguhnya, anak kecil itu berlari dan berpeluh bukan untuk dirinya, melainkan untukmu. Meski sulit, anak kecil itu hanya ingin menghadirkan tawa bagimu. Seperti sebuah tawa yang kau cintai dengan hidupmu. Sebuah tawa yang telah pergi.
TO BE CONTINUED...
Senin, 23 November 2009
Ini bukanlah kritik, ini hanya note.
Sempat terpikir oleh saya, bahwa peradaban, kebudayaan, serta jati diri sebuah bangsa atau negara bisa dilihat dari perempatan –perempatan jalan di ibukotanya, atau kota-kota besar lainnya.
Tengoklah Jakarta, sempatkanlah diri anda menikmati perempatan-perempatan jalan di Jakarta dari trotoar atau pedestrian ( itu pun bila masih ada ruang untuk anda ), lihatlah kehidupan disana. Yang sedang anda lihat adalah peradaban orang-orang Indonesia. Yang sedang anda saksikan adalah kebudayaan orang-orang Indonesia. Yang sedang anda perhatikan adalah jati diri orang-orang Indonesia.
Saya adalah orang yang sering memandangi Jakarta dari perspektif saya sendiri. Dari apa yang saya lihat, saya punya pandangan sendiri tentang Jakarta. Setiap pagi dan sore kemacetan yang luar biasa terjadi dimana-mana, volume kendaraan melimpah ruah di jalanan yang hanya mengalami pelebaran setiap satu dasawarsa sekali. Salahkanlah diri kita sendiri. Pemerintah membuat lajur busway bukan untuk dimasuki kendaraan pribadi dan motor-motor, tapi lihatlah, kemacetan yang sudah tidak masuk akal membuat jalur busway pun menjadi rute favorit untuk dilewati. Salahkanlah diri kita sendiri.
Saya pernah berbincang dengan teman kantor, berbincang mengenai kemacetan di Jakarta. Teman saya itu bilang begini ; “kamu tahu tidak, kemacetan di Jakarta itu terjadi karena gengsi. Hitung jumlah mobil yang bertambah setiap tahunnya. Hitung jumlah motor yang bertambah setiap tahunnya. Coba kamu lihat berapa banyak mobil pribadi yang ternyata hanya ada satu orang di dalamnya…?!, hampir semua mobil pribadi seperti itu. Salahkanlah diri kita sendiri, stereotype orang sukses di Jakarta adalah punya mobil pribadi. Siapa yang memberi stereotype itu…?!, ya kita-kita juga…!!!. Rupanya, kampanye pembodohan structural telah sukses. Kita semua telah menjadi bodoh dan arogan, tapi anehnya, kita koq gak menyadarinya ya…?!”.
Saya hanya tersenyum mendengarkan teman saya itu.
Perempatan-perempatan jalan di ibukota itu memang tepat rasanya menggambarkan keadaan sebuah bangsa. Lihatlah ke barisan kendaraan yang menunggu lampu merah menjadi hijau, terkadang lampu hijau belum menyala, beberapa kendaraan sudah melaju. Atau sebelumnya, sebelum lampu hijau menjadi merah, beberapa kendaraan yang dalam posisi nanggung akan menambah kecepatannya dengan maksud agar tidak berhenti karena lampu merah.
Saya sempat kesel dan marah ketika sedang menunggu lampu merah menjadi hijau di bilangan warung buncit menuju mampang. Lampu masih merah, namun sudah tidak ada kendaraan dari arah samping. Seorang pengendara sepeda motor dibelakang saya membunyikan klaksonnya dan berteriak agar saya segera jalan. Saya cuekkin. Ketika lampu hijau, saya memacau motor saya, dan pengendara motor itu memaki saya. Saya hanya bisa menahan kesal dan tidak mau ikut-ikutan bodoh seperti pengendara motor tadi.kejadian seperti itu sering sekali saya alami. Dan memang, kecelakaan lalulintas baik itu kecelakaan kecil atau kecelakaan besar bukan hal yang aneh dan mengejutkan abgi warga Jakarta, karena setiap harinya kita bisa melihat itu terjadi.
Lihatlah pengemis-pengemis yang berserakan, anak-anak jalanan, lansia, dan juga orang-orang cacat. Mereka menjual derita dan kekurangan mereka demi rupiah. Trotoar bukanlah tempat pejalan kaki, semua sudah di-booking oleh pedagang kaki lima. Dan lagi-lagi , kejadian orang terserempet kendaraan bukanlah hal yang aneh dan mengejutkan di Jakarta ini.
Musisi jalanan alias pengamen pun tak mau kalah, lari kesana-kesini, naik dan turun dari bis satu ke bis satunya lagi. Semuanya demi rupiah, semuanya demi bertahan hidup. Angkot-angkot nge-tem berjejer dengan bus-bus besar. Badan jalan yang semakin sempit membuat kemacetan bertambah parah. Calon-calon penumpang tak segera beranjak ke bus, mereka menunggu sampai bus sedikit penuh, baru setelah itu masuk ke dalam bus. Dan waktu nge-tem bus-bus itu pun semakin lama. Belum lagi, suhu udara di Jakarta yang bila sedang panas-panasnya, bisa menyakiti kulit. Wajah-wajah marah, gak terima, kesal, dan stress pun bisa tertangkap dengan jelas dari pengendara-pengendara yang terkena macet. Dan itu harus mereka lalui setiap harinya.
Orang-orang penting di Negara ini pun sepertinya tidak sadar dengan kemacetan ini, dengan keabsurdan ibu kota ini, bagaimana mereka mau tersadar, mereka gak pernah merasakan kemacetan koq, kita yang harus rela macet saat mereka mau lewat. Kita yang bayar pajak, kita yang bayar gaji mereka, kita juga yang sengsara di jalan raya. Ini benar-benar kebodohan yang sudah tidak bisa diterima oleh akal sehat. Sekedar saran dari saya untuk orang-orang penting di Negara ini ; berhentilah gunakan kendaraan darat, mulailah gunakan helicopter. Itu lebih masuk akal.
Jakarta oh Jakarta, romantisme masa lalumu telah pudar di mata saya. Entah bagaimana saya bisa menikmati kehidupanmu Jakarta…?!. Saya dengar kalau Jakarta akan tenggelam dalam beberapa tahun mendatang…?!, saya rasa itu baik. Sebuah suksesi menuju ke arah perbaikan. Jadi, kota mana yang akan ditunjuk sebagai ibukota…?!, mari kita bangun bersama, agar nasibnya tidak sama seperti Jakarta.
Nikmatilah perempatan-perempatan di ibukota suatu Negara. Karena disitu bisa terlihat dengan jelas peradaban, kebudayaan, dan jati diri sebuah bangsa. Setidaknya menurut saya seperti itu.
Tengoklah Jakarta, sempatkanlah diri anda menikmati perempatan-perempatan jalan di Jakarta dari trotoar atau pedestrian ( itu pun bila masih ada ruang untuk anda ), lihatlah kehidupan disana. Yang sedang anda lihat adalah peradaban orang-orang Indonesia. Yang sedang anda saksikan adalah kebudayaan orang-orang Indonesia. Yang sedang anda perhatikan adalah jati diri orang-orang Indonesia.
Saya adalah orang yang sering memandangi Jakarta dari perspektif saya sendiri. Dari apa yang saya lihat, saya punya pandangan sendiri tentang Jakarta. Setiap pagi dan sore kemacetan yang luar biasa terjadi dimana-mana, volume kendaraan melimpah ruah di jalanan yang hanya mengalami pelebaran setiap satu dasawarsa sekali. Salahkanlah diri kita sendiri. Pemerintah membuat lajur busway bukan untuk dimasuki kendaraan pribadi dan motor-motor, tapi lihatlah, kemacetan yang sudah tidak masuk akal membuat jalur busway pun menjadi rute favorit untuk dilewati. Salahkanlah diri kita sendiri.
Saya pernah berbincang dengan teman kantor, berbincang mengenai kemacetan di Jakarta. Teman saya itu bilang begini ; “kamu tahu tidak, kemacetan di Jakarta itu terjadi karena gengsi. Hitung jumlah mobil yang bertambah setiap tahunnya. Hitung jumlah motor yang bertambah setiap tahunnya. Coba kamu lihat berapa banyak mobil pribadi yang ternyata hanya ada satu orang di dalamnya…?!, hampir semua mobil pribadi seperti itu. Salahkanlah diri kita sendiri, stereotype orang sukses di Jakarta adalah punya mobil pribadi. Siapa yang memberi stereotype itu…?!, ya kita-kita juga…!!!. Rupanya, kampanye pembodohan structural telah sukses. Kita semua telah menjadi bodoh dan arogan, tapi anehnya, kita koq gak menyadarinya ya…?!”.
Saya hanya tersenyum mendengarkan teman saya itu.
Perempatan-perempatan jalan di ibukota itu memang tepat rasanya menggambarkan keadaan sebuah bangsa. Lihatlah ke barisan kendaraan yang menunggu lampu merah menjadi hijau, terkadang lampu hijau belum menyala, beberapa kendaraan sudah melaju. Atau sebelumnya, sebelum lampu hijau menjadi merah, beberapa kendaraan yang dalam posisi nanggung akan menambah kecepatannya dengan maksud agar tidak berhenti karena lampu merah.
Saya sempat kesel dan marah ketika sedang menunggu lampu merah menjadi hijau di bilangan warung buncit menuju mampang. Lampu masih merah, namun sudah tidak ada kendaraan dari arah samping. Seorang pengendara sepeda motor dibelakang saya membunyikan klaksonnya dan berteriak agar saya segera jalan. Saya cuekkin. Ketika lampu hijau, saya memacau motor saya, dan pengendara motor itu memaki saya. Saya hanya bisa menahan kesal dan tidak mau ikut-ikutan bodoh seperti pengendara motor tadi.kejadian seperti itu sering sekali saya alami. Dan memang, kecelakaan lalulintas baik itu kecelakaan kecil atau kecelakaan besar bukan hal yang aneh dan mengejutkan abgi warga Jakarta, karena setiap harinya kita bisa melihat itu terjadi.
Lihatlah pengemis-pengemis yang berserakan, anak-anak jalanan, lansia, dan juga orang-orang cacat. Mereka menjual derita dan kekurangan mereka demi rupiah. Trotoar bukanlah tempat pejalan kaki, semua sudah di-booking oleh pedagang kaki lima. Dan lagi-lagi , kejadian orang terserempet kendaraan bukanlah hal yang aneh dan mengejutkan di Jakarta ini.
Musisi jalanan alias pengamen pun tak mau kalah, lari kesana-kesini, naik dan turun dari bis satu ke bis satunya lagi. Semuanya demi rupiah, semuanya demi bertahan hidup. Angkot-angkot nge-tem berjejer dengan bus-bus besar. Badan jalan yang semakin sempit membuat kemacetan bertambah parah. Calon-calon penumpang tak segera beranjak ke bus, mereka menunggu sampai bus sedikit penuh, baru setelah itu masuk ke dalam bus. Dan waktu nge-tem bus-bus itu pun semakin lama. Belum lagi, suhu udara di Jakarta yang bila sedang panas-panasnya, bisa menyakiti kulit. Wajah-wajah marah, gak terima, kesal, dan stress pun bisa tertangkap dengan jelas dari pengendara-pengendara yang terkena macet. Dan itu harus mereka lalui setiap harinya.
Orang-orang penting di Negara ini pun sepertinya tidak sadar dengan kemacetan ini, dengan keabsurdan ibu kota ini, bagaimana mereka mau tersadar, mereka gak pernah merasakan kemacetan koq, kita yang harus rela macet saat mereka mau lewat. Kita yang bayar pajak, kita yang bayar gaji mereka, kita juga yang sengsara di jalan raya. Ini benar-benar kebodohan yang sudah tidak bisa diterima oleh akal sehat. Sekedar saran dari saya untuk orang-orang penting di Negara ini ; berhentilah gunakan kendaraan darat, mulailah gunakan helicopter. Itu lebih masuk akal.
Jakarta oh Jakarta, romantisme masa lalumu telah pudar di mata saya. Entah bagaimana saya bisa menikmati kehidupanmu Jakarta…?!. Saya dengar kalau Jakarta akan tenggelam dalam beberapa tahun mendatang…?!, saya rasa itu baik. Sebuah suksesi menuju ke arah perbaikan. Jadi, kota mana yang akan ditunjuk sebagai ibukota…?!, mari kita bangun bersama, agar nasibnya tidak sama seperti Jakarta.
Nikmatilah perempatan-perempatan di ibukota suatu Negara. Karena disitu bisa terlihat dengan jelas peradaban, kebudayaan, dan jati diri sebuah bangsa. Setidaknya menurut saya seperti itu.
welcome aboard, stranger...^^
Di sebuah hari…
Gw sedang menikmati pemandangan pantai dari kolam renang di sebuah hotel di Ancol. Saking asyiknya memandangi lautan lepas dan melarikan pikiran ke suatu tempat, gw gak sadar sedang di perhatikan oleh seseorang. Seseorang itu dari jarak yang tak begitu jauh, asyik memainkan kamera DLSR nya. Lama kelamaan, blitz dari kamera miliknya mengganggu kesenangan gw. Gw pun memandangi dia, dia tersenyum. Gw gak ambil peduli.
Gw masih asyik dengan kesenangan gw yang mewah ini ; melarikan pikiran ke sebuah tempat, tapi lagi2 terganggu oleh kilatan lampu blitz, dan gw rasa, dia sedang mengambil foto2 gw. Gw pun memandangi dia lagi, dan dia tersenyum lagi. Sepertinya gw kenal dia, tapi gak ada petunjuk di kepala gw tentang siapa dia.
“ihh…itu cewek kenapa senyum2 sendiri…?!, cakep2 koq gila…?!, ihh…”, batin gw sambil melihat dirinya.
Dia pun berjalan menghampiri gw.
“hey…”, sapanya riang
“ya…?!”, entah itu jawaban atau pertanyaan
“wah…dah lupa ya sama gw…?!”, ini jelas2 pertanyaan
“siapa ya…?!” ditanya malah balik nanya
“elo allez kan…?!”, dia nanya lagi
“umh..iya, elo siapa…?!”, tetep balik nanya
“ya ampun, elo dah lupa beneran sama gw…?!”, nanya terus jadinya dia
“umhh…siapa ya…?!”, balik nanya lagi, gak ada ilham sama sekali
“umhh…masih inget gak pas elo ikut bimbel buat tes masuk perguruan tinggi…?!”, dia ngasih sedikit petunjuk
“enggak tuh…elo ikut bimbel di situ juga…?!”, lagi2 gw nanya
“iya…kita sekelas waktu itu…”, jawab dia sambil tersenyum
“oh ya…?!, wah…maaf…maaf…gw bener2 lupa…”, kali ini gw gak nanya lagi
“kalo seseorang lupa sama suatu rentang waktu tertentu, artinya seseorang itu gak nikmatin rentang waktu itu…”, ujarnya sedikit berteori
“apa sih…?!, nyindir gw …?!, batin gw dalam hati.
Oke. Dia itu rupanya temen bimbel gw pas gw ikut bimbel buat tes masuk perguruan tinggi. Dan memang, masa2 itu memang gak gw nikmatin. Cenderung gw lupakan. Dan emang bener2 lupa.
Sebut saja dia El (bukan nama sebenarnya). Dia itu sekelas sama gw pas bimbel (katanya dia itu juga), dan kalo emang bener dia sekelas, kenapa gw bisa nyuekkin cewek secakep itu ya…?!, waalaaaahhh…kacrut banget gak sih gw…?! Heheheee ^^
Cukup lama obrolan antara gw dan si El, ngobrolin tentang masa bimbel (pedih bener harus nge-restore file2 memory yang udah masuk ke “recycle bin” otak), cerita tentang kerjaan dia di bidang “majalah medis” (gak aneh kalo dia nenteng2 DLSR), dan obrolan cukup seru saat ngobrol tentang dunia medis.
Si El ini adalah seorang jurnalis, open minded, ceria, dan cakep tentunya (tetep gak terima kenapa gw gak nyadar kalo dia sekelas sama gw pas bimbel..?!?!, heheheheee…). Dia bener2 menyenangi dunianya, hidupnya, sambil mencari2 beberapa bagian yang pernah hilang darinya, beberapa bagian sudah dia dapatkan. Itu yang gw tangkap dari obrolan gw dengan dia. Dia begitu bersemangat dan hangat saat bercerita tentang sesuatu, seolah itu baru saja terjadi. APAKAH GW SEDANG BERCERMIN….?!
Gw sedang menikmati pemandangan pantai dari kolam renang di sebuah hotel di Ancol. Saking asyiknya memandangi lautan lepas dan melarikan pikiran ke suatu tempat, gw gak sadar sedang di perhatikan oleh seseorang. Seseorang itu dari jarak yang tak begitu jauh, asyik memainkan kamera DLSR nya. Lama kelamaan, blitz dari kamera miliknya mengganggu kesenangan gw. Gw pun memandangi dia, dia tersenyum. Gw gak ambil peduli.
Gw masih asyik dengan kesenangan gw yang mewah ini ; melarikan pikiran ke sebuah tempat, tapi lagi2 terganggu oleh kilatan lampu blitz, dan gw rasa, dia sedang mengambil foto2 gw. Gw pun memandangi dia lagi, dan dia tersenyum lagi. Sepertinya gw kenal dia, tapi gak ada petunjuk di kepala gw tentang siapa dia.
“ihh…itu cewek kenapa senyum2 sendiri…?!, cakep2 koq gila…?!, ihh…”, batin gw sambil melihat dirinya.
Dia pun berjalan menghampiri gw.
“hey…”, sapanya riang
“ya…?!”, entah itu jawaban atau pertanyaan
“wah…dah lupa ya sama gw…?!”, ini jelas2 pertanyaan
“siapa ya…?!” ditanya malah balik nanya
“elo allez kan…?!”, dia nanya lagi
“umh..iya, elo siapa…?!”, tetep balik nanya
“ya ampun, elo dah lupa beneran sama gw…?!”, nanya terus jadinya dia
“umhh…siapa ya…?!”, balik nanya lagi, gak ada ilham sama sekali
“umhh…masih inget gak pas elo ikut bimbel buat tes masuk perguruan tinggi…?!”, dia ngasih sedikit petunjuk
“enggak tuh…elo ikut bimbel di situ juga…?!”, lagi2 gw nanya
“iya…kita sekelas waktu itu…”, jawab dia sambil tersenyum
“oh ya…?!, wah…maaf…maaf…gw bener2 lupa…”, kali ini gw gak nanya lagi
“kalo seseorang lupa sama suatu rentang waktu tertentu, artinya seseorang itu gak nikmatin rentang waktu itu…”, ujarnya sedikit berteori
“apa sih…?!, nyindir gw …?!, batin gw dalam hati.
Oke. Dia itu rupanya temen bimbel gw pas gw ikut bimbel buat tes masuk perguruan tinggi. Dan memang, masa2 itu memang gak gw nikmatin. Cenderung gw lupakan. Dan emang bener2 lupa.
Sebut saja dia El (bukan nama sebenarnya). Dia itu sekelas sama gw pas bimbel (katanya dia itu juga), dan kalo emang bener dia sekelas, kenapa gw bisa nyuekkin cewek secakep itu ya…?!, waalaaaahhh…kacrut banget gak sih gw…?! Heheheee ^^
Cukup lama obrolan antara gw dan si El, ngobrolin tentang masa bimbel (pedih bener harus nge-restore file2 memory yang udah masuk ke “recycle bin” otak), cerita tentang kerjaan dia di bidang “majalah medis” (gak aneh kalo dia nenteng2 DLSR), dan obrolan cukup seru saat ngobrol tentang dunia medis.
Si El ini adalah seorang jurnalis, open minded, ceria, dan cakep tentunya (tetep gak terima kenapa gw gak nyadar kalo dia sekelas sama gw pas bimbel..?!?!, heheheheee…). Dia bener2 menyenangi dunianya, hidupnya, sambil mencari2 beberapa bagian yang pernah hilang darinya, beberapa bagian sudah dia dapatkan. Itu yang gw tangkap dari obrolan gw dengan dia. Dia begitu bersemangat dan hangat saat bercerita tentang sesuatu, seolah itu baru saja terjadi. APAKAH GW SEDANG BERCERMIN….?!
Kamis, 24 September 2009
SATRIA...?!, DAMN HIM...!!!, DAMN THAT MAN...!!!
[Kepala gw sakit dan pusing berat]
Descartes pernah bilang begini "DE OMNIBUS DUBITANDUM !!!", kalo gak salah artinya SEGALA SESUATU HARUS DIRAGUKAN !!!.
Apakah salah jika seseorang meragukan sesuatu...?!,
kalo salah, dimananya yang salah...?!,
saya meragukan semuanya, citra, nuansa, hampir semuanya saya ragukan...!!!
apa saya salah...?!,
apa dia salah...?!,
apa mereka salah...?!,
apa kami salah...?!,
hey...!!!, dimanakah KEHENDAK BEBAS berada sekarang...?!, bukankah itu hak setiap orang...?!, FREE WILL...!!!, FREE TO DECIDE...!!!.
lalu siapakah anda yang mengetok palu dan menghakimi kami dengan dakwaan anda...?!,
hanya orang yang tak punya kesalahan dan dosa pada dirinya yang berhak menghakimi orang lain...!!!,
apakah anda tidak menemukannya di diri anda...?!,
NON-SENSE...!!!
kami hanya mengintip masa depan dengan keraguan kami, masa depan yang kami semua masih ragukan juga akan seperti apa jadinya...!!!,
ketika kami meragukan sesuatu, anda malah ingin kami membuat pernyataan tanpa keraguan...!!!
apakah itu sebuah kebenaran untuk anda...?!,
saya seperti PILATUS di masa kini yang kembali bertanya ; "APAKAH KEBENARAN...?!", sebelum akhirnya saya akan menyalibkan anda.
ketika saya meragukan anda, anda bilang saya "KIRI"...!!!,
mengapa kita harus terjebak pada DUALISME...?!,
jika seandainya saya memang "KIRI", lantas kenapa...?!,
apakah KANAN selalu baik dari KIRI...?!,
Okay, saya bersalaman dengan tangan KANAN, dan cebok dengan tangan KIRI...!!!,
lihat tujuannya ; antara cebok dan salaman, yang pertama untuk kebersihan, yang kedua untuk basa-basi...!!!,
hahahaaa...ayolah...!!!, jika anda dan saya bersalaman lalu kemudian saling membenci, itu memang benar-benar sebuah basa-basi...!!!.
maaf...!!!, bila saya meragukan anda...!!!
tak ada maksud apa-apa dibaliknya,
hanya saja, saya memang mulai meragukan semua hal, hampir semuanya...!!!
dengarlah HAMLET yang berseru kepada OPHELIA ;
"doubt thou the stars are fire,
doubt the sun dont move,
doubt truth to be a liar,
but never doubt I love..."
semoga anda mengerti apa yang sedang saya katakan, dan satu hal lagi ;
DON'T EVER JUDGE ME.......!!!!!
[Kepala gw masih sakit dan pusing berat, entah kenapa..., dengan dia gw menjadi seseorang yang lain, seseorang yang radikal, entah kenapa...]
Descartes pernah bilang begini "DE OMNIBUS DUBITANDUM !!!", kalo gak salah artinya SEGALA SESUATU HARUS DIRAGUKAN !!!.
Apakah salah jika seseorang meragukan sesuatu...?!,
kalo salah, dimananya yang salah...?!,
saya meragukan semuanya, citra, nuansa, hampir semuanya saya ragukan...!!!
apa saya salah...?!,
apa dia salah...?!,
apa mereka salah...?!,
apa kami salah...?!,
hey...!!!, dimanakah KEHENDAK BEBAS berada sekarang...?!, bukankah itu hak setiap orang...?!, FREE WILL...!!!, FREE TO DECIDE...!!!.
lalu siapakah anda yang mengetok palu dan menghakimi kami dengan dakwaan anda...?!,
hanya orang yang tak punya kesalahan dan dosa pada dirinya yang berhak menghakimi orang lain...!!!,
apakah anda tidak menemukannya di diri anda...?!,
NON-SENSE...!!!
kami hanya mengintip masa depan dengan keraguan kami, masa depan yang kami semua masih ragukan juga akan seperti apa jadinya...!!!,
ketika kami meragukan sesuatu, anda malah ingin kami membuat pernyataan tanpa keraguan...!!!
apakah itu sebuah kebenaran untuk anda...?!,
saya seperti PILATUS di masa kini yang kembali bertanya ; "APAKAH KEBENARAN...?!", sebelum akhirnya saya akan menyalibkan anda.
ketika saya meragukan anda, anda bilang saya "KIRI"...!!!,
mengapa kita harus terjebak pada DUALISME...?!,
jika seandainya saya memang "KIRI", lantas kenapa...?!,
apakah KANAN selalu baik dari KIRI...?!,
Okay, saya bersalaman dengan tangan KANAN, dan cebok dengan tangan KIRI...!!!,
lihat tujuannya ; antara cebok dan salaman, yang pertama untuk kebersihan, yang kedua untuk basa-basi...!!!,
hahahaaa...ayolah...!!!, jika anda dan saya bersalaman lalu kemudian saling membenci, itu memang benar-benar sebuah basa-basi...!!!.
maaf...!!!, bila saya meragukan anda...!!!
tak ada maksud apa-apa dibaliknya,
hanya saja, saya memang mulai meragukan semua hal, hampir semuanya...!!!
dengarlah HAMLET yang berseru kepada OPHELIA ;
"doubt thou the stars are fire,
doubt the sun dont move,
doubt truth to be a liar,
but never doubt I love..."
semoga anda mengerti apa yang sedang saya katakan, dan satu hal lagi ;
DON'T EVER JUDGE ME.......!!!!!
[Kepala gw masih sakit dan pusing berat, entah kenapa..., dengan dia gw menjadi seseorang yang lain, seseorang yang radikal, entah kenapa...]
Wanita Seperti Apa...?! [Buat Para Pria]
Tadi malam gw iseng2 corat-coret di kertas. Ini dia coretan gw.
[ gw yakin, beberapa pria pun merasakan hal yang sama dengan gw ]
Wanita seperti apa...?!,
yang akan bangunkan aku dari tidurku di waktu pagi,
yang akan membuatkan aku sarapan sebelum aku berangkat kerja,
yang tak bosan tuk berkata "hati-hati di jalan...",
yang tak jemu tuk berpesan "perhatikan kesehatanmu...",
yang tak lelah tuk sekedar bertanya "bagaimana kerjamu...?!, apakah kamu sudah makan siang...?!",
yang sebisa mungkin menyambutku ketika pulang dan selalu bertanya "bagaimana harimu...?!",
yang menemaniku makan malam sambil berbincang tentang hari ini,
yang selalu menanti cerita dariku dan selalu mendengarkan semua rencana tentang hari esok,
yang melihatku tertidur di waktu malam.
Tak lama, gw berhenti menulis dan terdiam.
Gw pun menaruh pulpen dan menutup buku corat-coret gw.
"SEBENARNYA GW MAU NYARI PENDAMPING HIDUP ATAU NYARI PEMBANTU PLUS MERANGKAP BABY SITTER SIH...?!"
OKAY, tulisan diatas terlalu EGOIS...!!!
Gw berharap wanita melakukan hal-hal yang gw mau diatas, tapi kalo dibalik, apa gw bisa dan mampu melakukan itu semua buat wanita...?!
BISA YA, BISA JUGA TIDAK...!!!
Dan gw menyadari bahwa hal-hal yang gw tulis diatas terlihat sepele namun terkadang sulit tuk dilakukan.
Gw pun beringsut menuju ke beranda. Gw duduk di kursi beranda. Menatap langit dan berbisik kepada Sang Pencipta ;
"kuharap ia adalah seseorang yang biasa-biasa saja,
namun penuh dengan perhatian dan membagi perhatian itu tanpa perlu alasan-alasan,
dan ajarlah aku tuh menaruh perhatian yang sama kepadanya seperti yang dilakukannya padaku,
karena,
perhatian adalah ungkapan cinta - kasih yang sesungguhnya".
[ gw yakin, beberapa pria pun merasakan hal yang sama dengan gw ]
Wanita seperti apa...?!,
yang akan bangunkan aku dari tidurku di waktu pagi,
yang akan membuatkan aku sarapan sebelum aku berangkat kerja,
yang tak bosan tuk berkata "hati-hati di jalan...",
yang tak jemu tuk berpesan "perhatikan kesehatanmu...",
yang tak lelah tuk sekedar bertanya "bagaimana kerjamu...?!, apakah kamu sudah makan siang...?!",
yang sebisa mungkin menyambutku ketika pulang dan selalu bertanya "bagaimana harimu...?!",
yang menemaniku makan malam sambil berbincang tentang hari ini,
yang selalu menanti cerita dariku dan selalu mendengarkan semua rencana tentang hari esok,
yang melihatku tertidur di waktu malam.
Tak lama, gw berhenti menulis dan terdiam.
Gw pun menaruh pulpen dan menutup buku corat-coret gw.
"SEBENARNYA GW MAU NYARI PENDAMPING HIDUP ATAU NYARI PEMBANTU PLUS MERANGKAP BABY SITTER SIH...?!"
OKAY, tulisan diatas terlalu EGOIS...!!!
Gw berharap wanita melakukan hal-hal yang gw mau diatas, tapi kalo dibalik, apa gw bisa dan mampu melakukan itu semua buat wanita...?!
BISA YA, BISA JUGA TIDAK...!!!
Dan gw menyadari bahwa hal-hal yang gw tulis diatas terlihat sepele namun terkadang sulit tuk dilakukan.
Gw pun beringsut menuju ke beranda. Gw duduk di kursi beranda. Menatap langit dan berbisik kepada Sang Pencipta ;
"kuharap ia adalah seseorang yang biasa-biasa saja,
namun penuh dengan perhatian dan membagi perhatian itu tanpa perlu alasan-alasan,
dan ajarlah aku tuh menaruh perhatian yang sama kepadanya seperti yang dilakukannya padaku,
karena,
perhatian adalah ungkapan cinta - kasih yang sesungguhnya".
Sabtu, 08 Agustus 2009
Question & Ask
Apakah Tuhan akan memberikan kebahagiaan pada seseorang, bila seseorang itu ingin mendapatkan kebahagiaan itu dengan cara melupakan orang lain?,
Apakah Tuhan akan memberikan kebahagiaan pada seseorang, bila seseorang itu ingin mendapatkan kebahagiaan itu dengan cara membenci orang lain?,
Apakah Tuhan akan memberikan kebahagiaan pada seseorang, bila seseorang itu ingin mendapatkan kebahagiaan itu dengan cara mengacuhkan orang lain?,
Apakah Tuhan akan memberikan kebahagiaan pada seseorang, bila seseorang itu ingin mendapatkan kebahagiaan itu dengan cara menyakiti orang lain?,
Adakah diantara kalian yang membaca note gw ini bisa memberikan penjelasan?.
Lalu, kebahagiaan macam apa yang akan Tuhan berikan pada orang-orang semacam itu?,
Apakah sebuah kebahagiaan yang sejati yang akan diberikan oleh Tuhan kepada mereka?,
Atau, kebahagiaan semu dan sesaat saja?,
Atau mungkin, hanya sebuah “topeng” yang bernama kebahagiaan belaka?,
Adakah diantara kalian yang sudi menjelaskannya ke gw yang bodoh ini?.
Bila gw bertanya ; “siapa yang ingin bahagia?”,
Gw tahu persis jawaban yang akan keluar dari mulut kalian semua.
Bila gw bertanya : “siapa yang ingin bahagia, tapi kebahagiaan itu akan menyakiti orang-orang terdekat loe, kebahagiaan itu akan menjauhkan loe dari orang-orang yang menyayangi loe, kebahagiaan itu akan membuat orang-orang terdekat loe kehilangan loe?”,
Jawaban apa yang akan gw dengar dari mulut kalian?.
Dan bila gw bertanya ; “siapa yang ingin tidak bahagia, supaya orang terdekat atau orang yang loe sayangi menjadi bahagia?”,
Apa jawaban kalian?.
Apakah kebahagiaan dapat tumbuh subur dari benih kebencian?,
Apakah kebahagiaan dapat tumbuh dari benih rasa sakit?,
Apakah kebahagiaan dapat tumbuh dari benih pengingkaran?,
Setiap orang punya jawaban yang berbeda atas setiap petanyaan,
Gw rasa, manusia-manusia pintar seperti kalian tahu jawabannya,
Dan gw yakin, manusia-manusia cerdas memiliki jawaban tersendiri.
Apakah Tuhan akan memberikan kebahagiaan pada seseorang, bila seseorang itu ingin mendapatkan kebahagiaan itu dengan cara membenci orang lain?,
Apakah Tuhan akan memberikan kebahagiaan pada seseorang, bila seseorang itu ingin mendapatkan kebahagiaan itu dengan cara mengacuhkan orang lain?,
Apakah Tuhan akan memberikan kebahagiaan pada seseorang, bila seseorang itu ingin mendapatkan kebahagiaan itu dengan cara menyakiti orang lain?,
Adakah diantara kalian yang membaca note gw ini bisa memberikan penjelasan?.
Lalu, kebahagiaan macam apa yang akan Tuhan berikan pada orang-orang semacam itu?,
Apakah sebuah kebahagiaan yang sejati yang akan diberikan oleh Tuhan kepada mereka?,
Atau, kebahagiaan semu dan sesaat saja?,
Atau mungkin, hanya sebuah “topeng” yang bernama kebahagiaan belaka?,
Adakah diantara kalian yang sudi menjelaskannya ke gw yang bodoh ini?.
Bila gw bertanya ; “siapa yang ingin bahagia?”,
Gw tahu persis jawaban yang akan keluar dari mulut kalian semua.
Bila gw bertanya : “siapa yang ingin bahagia, tapi kebahagiaan itu akan menyakiti orang-orang terdekat loe, kebahagiaan itu akan menjauhkan loe dari orang-orang yang menyayangi loe, kebahagiaan itu akan membuat orang-orang terdekat loe kehilangan loe?”,
Jawaban apa yang akan gw dengar dari mulut kalian?.
Dan bila gw bertanya ; “siapa yang ingin tidak bahagia, supaya orang terdekat atau orang yang loe sayangi menjadi bahagia?”,
Apa jawaban kalian?.
Apakah kebahagiaan dapat tumbuh subur dari benih kebencian?,
Apakah kebahagiaan dapat tumbuh dari benih rasa sakit?,
Apakah kebahagiaan dapat tumbuh dari benih pengingkaran?,
Setiap orang punya jawaban yang berbeda atas setiap petanyaan,
Gw rasa, manusia-manusia pintar seperti kalian tahu jawabannya,
Dan gw yakin, manusia-manusia cerdas memiliki jawaban tersendiri.
Jumat, 17 Juli 2009
Note punya seseorang...seseorang yang selamanya berarti buat gw...seseorang yang memberi arti...^^
allez neva: pokoknya jangan lupa belajar, klo kamu suntuk or bosen pas
belajar, telp aku, atau suruh aku nelfon kamu
allez neva: di dalam hati aku, bilang: do something for her....
I just stunned, looking blankly at the words on my desktop screen. "That" feeling posessed me once again. "That" tingle in my stomach. "That" feeling I kept inside and made me a bad person, who neglected him, who said I love him but I kept thinking about someone else.
That sincerity. Siapa yang tahan? Siapa yang mau menolak perasaan menyenangkan itu? Seseorang yang begitu tulus memperhatikanmu. Memikirkanmu di hari-harinya. Tersenyum saat kamu tersenyum, menangis saat kamu menangis. Marah pada orang yang menyakiti kamu. Dan akan melakukan apapun agar kamu bahagia dan bisa menjalani hidup dengan baik.
Kenapa sincerity itu, di samping membuat nyaman, terasa menyesakkan juga?
Tepatnya, kenapa aku nggak merasakan hal yang sama untuk dia? Sama orang yang sudah begitu sayang pada aku? Aku pengen menikmati perhatian itu dan membalasnya. Aku nggak mau jadi orang jahat, atau worse, parasit yang meminta dia untuk memperhatikan aku tapi aku nggak bisa memperhatikan dia balik. Aku nggak bisa...
Suara Hayley Williams di lagu Decode mengalun di sebelah aku sekarang.
"How can I decide what's right? When you're clouding up my mind... I
can't win... You're losing fight all the time." (Paramore - Decode, Twilight
Soundtrack 2008)
Aku suatu hari pernah mengeluh pada Tuhan. "Tuhan, rasanya seumur hidup, saya tidak pernah merasakan apa yang dirasakan orang-orang dan dipotret di film-film itu. Saya tidak pernah menyayangi seseorang sebegitu dalam dan merasakan disayangi balik oleh orang itu. Kalaupun ada yang sayang pada saya, saya tidak pernah bisa menyayangi dia balik..."
Kenapa?
Aku benci dia. Aku benci dia. Aku nggak mau mikirin dia lagi. Aku udah capek... Ya Tuhan, aku udah sangat capek... Aku nggak mau nangis dan terus mikirin dia. Aku nggak bisa...
Aku cuma mau sayang sama Allez dan melupakan semua ini. Atau siapapun, bertemu siapapun yang bisa aku sayang dan nyayangin aku...
ps : "F.S"
belajar, telp aku, atau suruh aku nelfon kamu
allez neva: di dalam hati aku, bilang: do something for her....
I just stunned, looking blankly at the words on my desktop screen. "That" feeling posessed me once again. "That" tingle in my stomach. "That" feeling I kept inside and made me a bad person, who neglected him, who said I love him but I kept thinking about someone else.
That sincerity. Siapa yang tahan? Siapa yang mau menolak perasaan menyenangkan itu? Seseorang yang begitu tulus memperhatikanmu. Memikirkanmu di hari-harinya. Tersenyum saat kamu tersenyum, menangis saat kamu menangis. Marah pada orang yang menyakiti kamu. Dan akan melakukan apapun agar kamu bahagia dan bisa menjalani hidup dengan baik.
Kenapa sincerity itu, di samping membuat nyaman, terasa menyesakkan juga?
Tepatnya, kenapa aku nggak merasakan hal yang sama untuk dia? Sama orang yang sudah begitu sayang pada aku? Aku pengen menikmati perhatian itu dan membalasnya. Aku nggak mau jadi orang jahat, atau worse, parasit yang meminta dia untuk memperhatikan aku tapi aku nggak bisa memperhatikan dia balik. Aku nggak bisa...
Suara Hayley Williams di lagu Decode mengalun di sebelah aku sekarang.
"How can I decide what's right? When you're clouding up my mind... I
can't win... You're losing fight all the time." (Paramore - Decode, Twilight
Soundtrack 2008)
Aku suatu hari pernah mengeluh pada Tuhan. "Tuhan, rasanya seumur hidup, saya tidak pernah merasakan apa yang dirasakan orang-orang dan dipotret di film-film itu. Saya tidak pernah menyayangi seseorang sebegitu dalam dan merasakan disayangi balik oleh orang itu. Kalaupun ada yang sayang pada saya, saya tidak pernah bisa menyayangi dia balik..."
Kenapa?
Aku benci dia. Aku benci dia. Aku nggak mau mikirin dia lagi. Aku udah capek... Ya Tuhan, aku udah sangat capek... Aku nggak mau nangis dan terus mikirin dia. Aku nggak bisa...
Aku cuma mau sayang sama Allez dan melupakan semua ini. Atau siapapun, bertemu siapapun yang bisa aku sayang dan nyayangin aku...
ps : "F.S"
Minggu, 24 Mei 2009
Farida Susanty
Awalnya mah lucu, ada yang ngambek gara2 masalah "listening and not listening", lantas masalah menelefon sambil liat fesbuk dan blog hehehe......*sori bgt yah, gw bener2 gak tau*
eh, pas gw lagi sibuk menggeledah rumah mencari charger HP jahanam itu, dianya matiin HP-nya, heeuuu...
klo gak salah gw nelfon lagi, lantas ngobrol kesana kemari, gak tau kenapa gw mendominasi percakapan, ngobrolin tentang film dan musik, sementara dianya bete dan hanya dengerin lagu sambil nyanyi2, dan bete plus ilfil dengan suksesnya hehe...*padahal gw dah tau klo dia bete* dan saking bete dan ilfil-nya dengan sukses pula dia mencet tombol buat mutusin sambungan telepon hohoho...
Kemudian, dia nelfon lagi...sambil bilang kata2 yang bikin dia sendiri "merinding" hahaha...gw sendiri gak nyangka,hmm...it's a touche, nice touche,darl...!!!
wish you all the best.
eh, pas gw lagi sibuk menggeledah rumah mencari charger HP jahanam itu, dianya matiin HP-nya, heeuuu...
klo gak salah gw nelfon lagi, lantas ngobrol kesana kemari, gak tau kenapa gw mendominasi percakapan, ngobrolin tentang film dan musik, sementara dianya bete dan hanya dengerin lagu sambil nyanyi2, dan bete plus ilfil dengan suksesnya hehe...*padahal gw dah tau klo dia bete* dan saking bete dan ilfil-nya dengan sukses pula dia mencet tombol buat mutusin sambungan telepon hohoho...
Kemudian, dia nelfon lagi...sambil bilang kata2 yang bikin dia sendiri "merinding" hahaha...gw sendiri gak nyangka,hmm...it's a touche, nice touche,darl...!!!
wish you all the best.
Muntah Dan Mencret kata - Kata
entah kenapa "nyasar" tak lagi menyenangkan,padahal "nyasar" memberikan gw kesempatan tuk tahu tempat2 baru, dan hal2 yang baru. memulai obrolan dengan orang2 yang gak gw kenal tak lagi mengasyikkan, gw semakin apatis dan tak berperasaan.
kepala penuh dengan ide2 yang tak tersalurkan, kerja gw hanya menahan dengan tangan, jangan sampai pecah kepala gw yang mulai overload.
dan mungkin ada benarnya kata orang2, bahwa gw bisa memanipulasi pikiran dan perasaan gw, tapi badan gw gak bisa berbohong.
kenapa waktu tak pernah cukup buat gw dan selalu saja kurang.
yang terparah adalah mereka-mereka itu yang miskin kreatifitas dan selalu "itu-itu saja", membosankan, gayanya selangit, sok ini lah-sok itulah, merasa bahwa mereka itu "lebih".mereka ini yang gw temui sehari-hari.
lantas, kenapa gw dihadapkan pada para pria beristri alias para suami yang menjalin cinta dengan wanita lain, melihat mereka berkencan, mendengarkan cerita mereka tentang selingkuhannya, mendengarkan obrolan mereka dengan selingkuhannya di telefon, mengangkat alis dan tersenyum tipis mengiyakan terpaksa alibi seperti "maklumlah, puber kedua", "biar hidup lebih hidup", istri gw membosankan, istri gw gak menarik lagi, istri gw gak secantik selingkuhan gw, bla..bla..bla...".
jadi, adakah hal2 yang seperti dulu hadir kembali?, hal2 yang lebih baik dari ini semua.
gw bosan tuk memuaskan ego seseorang, bosan tuk merasa kalau semua ini adalah cobaan dan "kejatuhan".
berdiam disini terlalu lama rasa2nya meghancurkan kecerdasan dan memeluk kebodohan.
terlalu lama di sini membuat gw mandek dan miskin kreatifitas, menjadi "yes men" pada ke-a-moral-an.
biarlah ini menjadi dunia mereka dan bukan dunia gw.
gw gak bisa terima diperlakukan seperti ini, dan gw menggugat.
gw menggugat sambil menunggu momen dan waktu yang tepat.
pay back time!!!
kepala penuh dengan ide2 yang tak tersalurkan, kerja gw hanya menahan dengan tangan, jangan sampai pecah kepala gw yang mulai overload.
dan mungkin ada benarnya kata orang2, bahwa gw bisa memanipulasi pikiran dan perasaan gw, tapi badan gw gak bisa berbohong.
kenapa waktu tak pernah cukup buat gw dan selalu saja kurang.
yang terparah adalah mereka-mereka itu yang miskin kreatifitas dan selalu "itu-itu saja", membosankan, gayanya selangit, sok ini lah-sok itulah, merasa bahwa mereka itu "lebih".mereka ini yang gw temui sehari-hari.
lantas, kenapa gw dihadapkan pada para pria beristri alias para suami yang menjalin cinta dengan wanita lain, melihat mereka berkencan, mendengarkan cerita mereka tentang selingkuhannya, mendengarkan obrolan mereka dengan selingkuhannya di telefon, mengangkat alis dan tersenyum tipis mengiyakan terpaksa alibi seperti "maklumlah, puber kedua", "biar hidup lebih hidup", istri gw membosankan, istri gw gak menarik lagi, istri gw gak secantik selingkuhan gw, bla..bla..bla...".
jadi, adakah hal2 yang seperti dulu hadir kembali?, hal2 yang lebih baik dari ini semua.
gw bosan tuk memuaskan ego seseorang, bosan tuk merasa kalau semua ini adalah cobaan dan "kejatuhan".
berdiam disini terlalu lama rasa2nya meghancurkan kecerdasan dan memeluk kebodohan.
terlalu lama di sini membuat gw mandek dan miskin kreatifitas, menjadi "yes men" pada ke-a-moral-an.
biarlah ini menjadi dunia mereka dan bukan dunia gw.
gw gak bisa terima diperlakukan seperti ini, dan gw menggugat.
gw menggugat sambil menunggu momen dan waktu yang tepat.
pay back time!!!
So, This is What you Call L.O.V.E....?!?!
Sebenarnya mau mulai dari mana, gw juga bingung sendiri, berawal dari percakapan biasa orang yang pacaran via handphone, dua orang yang pacaran,berbincang tentang hari-hari yang masing-masing dari mereka lalui dan juga rasa kangen, pengen ketemu dan obrolan lain yang disertai canda, semuanya seperti obrolan biasa dan seperti obrolan hari-hari kemarin.
Tiba-tiba suaranya di seberang sana menjadi lebih serius dari biasanya, entah kenapa, gw sendiri juga bingung kalau ditanya tentang perubahan dirinya yang lebih bijak, lebih dewasa, dan lebih mau tahu lagi tentang semua hal yang dilakukannya. Namun, ada juga hal-hal yang tak bisa dihilangkan dan tak bisa disangkal yaitu rasa cemburu, rasa ingin tahu, perasaan tak percaya 100%, takut inilah, takut itulah,takut dikhianati, takut ditinggalkan,dan perasaan lainnya, perasaan-perasaan yang gw tahu sendiri kalau dia terlalu cuek dan masa bodoh bahkan pada pacarnya sendiri.
Meski berkelamin wanita, sifatnya seperti seorang pria, setidaknya persahabatan kami sebelumnya telah memberi bukti yang sahih tentang sifat dan ego yang ada di dalam dirinya. Justru karena sifatnya itulah, dia menjadi berharga di mata gw, bukan sembarang wanita yang seperti kebanyakan yang bergelimpangan dan setiap hari gw temui, dia lebih dari itu, dia bukan wanita yang populasinya banyak, namun terancam punah oleh modernitas gak jelas, dan budaya tai kucing seperti sekarang.
Kira-kira sudah sekitar setengah jam kami berbincang, hingga terdengar lagu The Cranberries yang judulnya When You’re Gone sayup-sayup mengiringi suaranya yang terdengar semakin lirih.
Hold on to love that is what I do, now that I've found you
And from above everything’s stinking, they’re not around you
And in the night I could be helpless
I could be lonely, sleeping without you
And in the day everything’s complex
There’s nothing simple when I’m not around you
But I miss you when you’re gone
That is what I do, babe, babe, babe
And it’s going to carry on
That is what I knew, babe, babe, babe
Hold on to my hands I feel I'm sinking, sinking without you
And to my mind everything’s stinking, stinking without you
And in the night I could be helpless
I could be lonely, sleeping without you
And in the day everything’s complex
There’s nothing simple when I’m not around you
And I miss you when you’re gone
That is what I do, babe, babe, babe
And it’s going to carry on
That is what I knew, babe, babe, babe
Entah kenapa, gw gak bisa tuk mencela dia seperti biasanya ketika dia mulai bernyanyi, gw cuma bisa terdiam mendengar suara lirihnya, dalam hati gw cuma ada satu pertanyaan yang mengganggu dari kemarin; kenapa dia bisa serapuh sekarang?, dia bukan seperti dia yang kukenal?, apa yang membuatnya seperti sekarang ini?
Sebenarnya, gw terlalu tahu tentang perasaannya, tentang semua luka dan dukanya di masa lalu, tentang keinginannya dan impiannya yang satu per satu bisa dia raih. Kita baru saja memulai, tetapi rasa di hatinya sudah sedalam ini, dan menjadi takut untuk kehilangan, menjadi pencemburu yang selalu menaruh curiga. Seharusnya gw senang karena secara tidak langsung dia membuka dirinya dan isi hatinya, tapi gw cuma takut itu akan mengganggu pekerjaannya, terlebih kesehatannya, gw peduli lebih dari yang dia harapkan, gw marah ketika dia berpikir bahwa dia akan kehilangan gw, gw marah ketika dia berpikir bahwa dia gak bisa bertemu dengan gw, gw marah karena dia berpikir perasaan gw gak 100% buat dia, bukan karena apa-apa, hanya saja gw gak mau dia menjadi terganggu dengan pikirannya itu.
"Aku akan ngelakuin apa aja, ketika aku yakin dengan perasaanku, APAPUN ITU…!!!", ya, agak kaget gw mendengar itu dari bibir tipisnya, agak keras nada suaranya saat itu, seolah ingin memberi pernyataan bahwa ada yang gak berubah dari sifatnya, ya…ketegasannya dan rasa amarah nya terkadang membuat gw merinding, tapi apa asmara harus mengorbankan keyakinan? haruskah…? bisakah?, bahkan untuk cinta sekalipun, kita hanya akan dipanggil "orang murtad", dia hanya terdiam, entah apa yang berkecamuk di dalam hatinya?, setengah mati menahan gejolak hati miliknya.
Lantas, gw bercerita bahwa ada atasan gw yang nawarin tuk pindah ke kotanya, karena gw sebelumnya bercerita ke bos gw itu, kalau gw ingin sekali kembali ke sana, untunglah dia bisa ngasih jaminan buat gw bahwa selama dia masih jadi bos disana dan ada tempat yang kosong dan berpotensi, dia akan selalu menerima gw. Setidaknya, dia bisa senang mendengar ini, mungkin setahun atau dua tahun lagi gw akan kesana, karena kondisi sekarang gak memungkinkan sama sekali, dan untunglah, si pacar gw ini mengerti akan kondisi gw, terkadang rasa pengertiannya bisa hadir saat dia marah sekalipun, gw hanya bisa salut sekaligus heran.
Hei…pacarku yang terlalu peduli, pengertianmu yang kau berikan buatku, seharusnya kau berikan juga pada dirimu sendiri, status tak perlu dipikirkan sampai mengerutkan dahi, status cuma embel-embel yang hanya berisikan omong kosong belaka, seharusnya apa yang kita miliki sekarang sudah lebih dari cukup tuk bisa buatmu tertawa dan terbang menggapai impianmu yang lain, tak perlu lagi kautanyakan aku dengan siapa?, lagi apa?, ngapain aja?,kemana aja?, dia itu siapa?, percuma kau tanyakan, mereka itu bukan siapa-siapa buatmu, terlalu banyak yang telah kau lakukan daripada mereka yang belum melakukan apa-apa, cukuplah itu buatmu merasa lebih di mataku, janganlah berpikir tentang esok pada hari ini, itu berarti kita tidak adil.
Jadilah kamu yang dulu, anggaplah aku seperti temanmu, kita bisa jujur dan maklum atas apa yang telah terjadi. ya…seperti dulu, seperti dulu kita tertawa dan melahap setiap hari dengan keceriaan, cerialah selalu.
------------------------------------------------------------------------------------------
[ Keraguan itu memang milikmu, bukan milikku,
meski bukanlah aku yang kau ragukan, tetapi pada arti kita yang sekarang ini,
ketahuilah bahwa aku telah siap untuk melihatmu jatuh,
melihat sinar di matamu yang menghilang perlahan,
menyaksikan senyum di bibirmu yang sebentar kan memudar,
memandang dirimu yang tak bisa lagi berikan arti padaku,
aku kan berkeras tuk tetap tinggal meski tak kau inginkan aku lagi.
Keraguan itu masihlah milikmu, dan tidak kan pernah menjadi milikku,
karena aku tak punya alasan yang masuk akal tuk meragukanmu,
terlebih lagi, aku hanya ingin menjalani ini semampuku,
bukankah kau yang memintanya waktu itu?
bukankah kau pun berkata hal yang sama, bahwa kau ingin menjalaninya semampumu,
lantas untuk apa keraguan yang sekarang ini ada di hatimu?
bisakah kau mengusirnya pergi?
sebelum aku yang kan pergi darimu. ]
PS : jarak tak pernah benar2 jadi pemisah, manusia lah yang menjadikan jarak sebagai alasan untuk berpisah...!!!
Tiba-tiba suaranya di seberang sana menjadi lebih serius dari biasanya, entah kenapa, gw sendiri juga bingung kalau ditanya tentang perubahan dirinya yang lebih bijak, lebih dewasa, dan lebih mau tahu lagi tentang semua hal yang dilakukannya. Namun, ada juga hal-hal yang tak bisa dihilangkan dan tak bisa disangkal yaitu rasa cemburu, rasa ingin tahu, perasaan tak percaya 100%, takut inilah, takut itulah,takut dikhianati, takut ditinggalkan,dan perasaan lainnya, perasaan-perasaan yang gw tahu sendiri kalau dia terlalu cuek dan masa bodoh bahkan pada pacarnya sendiri.
Meski berkelamin wanita, sifatnya seperti seorang pria, setidaknya persahabatan kami sebelumnya telah memberi bukti yang sahih tentang sifat dan ego yang ada di dalam dirinya. Justru karena sifatnya itulah, dia menjadi berharga di mata gw, bukan sembarang wanita yang seperti kebanyakan yang bergelimpangan dan setiap hari gw temui, dia lebih dari itu, dia bukan wanita yang populasinya banyak, namun terancam punah oleh modernitas gak jelas, dan budaya tai kucing seperti sekarang.
Kira-kira sudah sekitar setengah jam kami berbincang, hingga terdengar lagu The Cranberries yang judulnya When You’re Gone sayup-sayup mengiringi suaranya yang terdengar semakin lirih.
Hold on to love that is what I do, now that I've found you
And from above everything’s stinking, they’re not around you
And in the night I could be helpless
I could be lonely, sleeping without you
And in the day everything’s complex
There’s nothing simple when I’m not around you
But I miss you when you’re gone
That is what I do, babe, babe, babe
And it’s going to carry on
That is what I knew, babe, babe, babe
Hold on to my hands I feel I'm sinking, sinking without you
And to my mind everything’s stinking, stinking without you
And in the night I could be helpless
I could be lonely, sleeping without you
And in the day everything’s complex
There’s nothing simple when I’m not around you
And I miss you when you’re gone
That is what I do, babe, babe, babe
And it’s going to carry on
That is what I knew, babe, babe, babe
Entah kenapa, gw gak bisa tuk mencela dia seperti biasanya ketika dia mulai bernyanyi, gw cuma bisa terdiam mendengar suara lirihnya, dalam hati gw cuma ada satu pertanyaan yang mengganggu dari kemarin; kenapa dia bisa serapuh sekarang?, dia bukan seperti dia yang kukenal?, apa yang membuatnya seperti sekarang ini?
Sebenarnya, gw terlalu tahu tentang perasaannya, tentang semua luka dan dukanya di masa lalu, tentang keinginannya dan impiannya yang satu per satu bisa dia raih. Kita baru saja memulai, tetapi rasa di hatinya sudah sedalam ini, dan menjadi takut untuk kehilangan, menjadi pencemburu yang selalu menaruh curiga. Seharusnya gw senang karena secara tidak langsung dia membuka dirinya dan isi hatinya, tapi gw cuma takut itu akan mengganggu pekerjaannya, terlebih kesehatannya, gw peduli lebih dari yang dia harapkan, gw marah ketika dia berpikir bahwa dia akan kehilangan gw, gw marah ketika dia berpikir bahwa dia gak bisa bertemu dengan gw, gw marah karena dia berpikir perasaan gw gak 100% buat dia, bukan karena apa-apa, hanya saja gw gak mau dia menjadi terganggu dengan pikirannya itu.
"Aku akan ngelakuin apa aja, ketika aku yakin dengan perasaanku, APAPUN ITU…!!!", ya, agak kaget gw mendengar itu dari bibir tipisnya, agak keras nada suaranya saat itu, seolah ingin memberi pernyataan bahwa ada yang gak berubah dari sifatnya, ya…ketegasannya dan rasa amarah nya terkadang membuat gw merinding, tapi apa asmara harus mengorbankan keyakinan? haruskah…? bisakah?, bahkan untuk cinta sekalipun, kita hanya akan dipanggil "orang murtad", dia hanya terdiam, entah apa yang berkecamuk di dalam hatinya?, setengah mati menahan gejolak hati miliknya.
Lantas, gw bercerita bahwa ada atasan gw yang nawarin tuk pindah ke kotanya, karena gw sebelumnya bercerita ke bos gw itu, kalau gw ingin sekali kembali ke sana, untunglah dia bisa ngasih jaminan buat gw bahwa selama dia masih jadi bos disana dan ada tempat yang kosong dan berpotensi, dia akan selalu menerima gw. Setidaknya, dia bisa senang mendengar ini, mungkin setahun atau dua tahun lagi gw akan kesana, karena kondisi sekarang gak memungkinkan sama sekali, dan untunglah, si pacar gw ini mengerti akan kondisi gw, terkadang rasa pengertiannya bisa hadir saat dia marah sekalipun, gw hanya bisa salut sekaligus heran.
Hei…pacarku yang terlalu peduli, pengertianmu yang kau berikan buatku, seharusnya kau berikan juga pada dirimu sendiri, status tak perlu dipikirkan sampai mengerutkan dahi, status cuma embel-embel yang hanya berisikan omong kosong belaka, seharusnya apa yang kita miliki sekarang sudah lebih dari cukup tuk bisa buatmu tertawa dan terbang menggapai impianmu yang lain, tak perlu lagi kautanyakan aku dengan siapa?, lagi apa?, ngapain aja?,kemana aja?, dia itu siapa?, percuma kau tanyakan, mereka itu bukan siapa-siapa buatmu, terlalu banyak yang telah kau lakukan daripada mereka yang belum melakukan apa-apa, cukuplah itu buatmu merasa lebih di mataku, janganlah berpikir tentang esok pada hari ini, itu berarti kita tidak adil.
Jadilah kamu yang dulu, anggaplah aku seperti temanmu, kita bisa jujur dan maklum atas apa yang telah terjadi. ya…seperti dulu, seperti dulu kita tertawa dan melahap setiap hari dengan keceriaan, cerialah selalu.
--------------------------
[ Keraguan itu memang milikmu, bukan milikku,
meski bukanlah aku yang kau ragukan, tetapi pada arti kita yang sekarang ini,
ketahuilah bahwa aku telah siap untuk melihatmu jatuh,
melihat sinar di matamu yang menghilang perlahan,
menyaksikan senyum di bibirmu yang sebentar kan memudar,
memandang dirimu yang tak bisa lagi berikan arti padaku,
aku kan berkeras tuk tetap tinggal meski tak kau inginkan aku lagi.
Keraguan itu masihlah milikmu, dan tidak kan pernah menjadi milikku,
karena aku tak punya alasan yang masuk akal tuk meragukanmu,
terlebih lagi, aku hanya ingin menjalani ini semampuku,
bukankah kau yang memintanya waktu itu?
bukankah kau pun berkata hal yang sama, bahwa kau ingin menjalaninya semampumu,
lantas untuk apa keraguan yang sekarang ini ada di hatimu?
bisakah kau mengusirnya pergi?
sebelum aku yang kan pergi darimu. ]
PS : jarak tak pernah benar2 jadi pemisah, manusia lah yang menjadikan jarak sebagai alasan untuk berpisah...!!!
Sesi Regresi Bersama "R" ^^
disana, ia tertawa entah karena apa...?!,
rasa sayang, ku tahu hanyalah bualan.
entah karena dia terluka,
entah karena apa.
aku masih peduli pada rasa,
coba tuk tahu sebabnya apa ?!,
tapi, wajahnya selalu berpaling saat kutatap.
aku jadi ingin tertawa.
aku biarkan ia berlalu,
pergi dan tak kembali pun tak apa,
nanti pun akan terlupa.
entah penyesalan atau benci yang berkecamuk dalam diriku sekarang,
aku mulai tak peduli,
biarlah berakhir seperti ini.
aku jadi semakin ingin tertawa.
rasa sayang, ku tahu hanyalah bualan.
entah karena dia terluka,
entah karena apa.
aku masih peduli pada rasa,
coba tuk tahu sebabnya apa ?!,
tapi, wajahnya selalu berpaling saat kutatap.
aku jadi ingin tertawa.
aku biarkan ia berlalu,
pergi dan tak kembali pun tak apa,
nanti pun akan terlupa.
entah penyesalan atau benci yang berkecamuk dalam diriku sekarang,
aku mulai tak peduli,
biarlah berakhir seperti ini.
aku jadi semakin ingin tertawa.
[from the sidewalk]
*"...ada yang tak bisa diucapkan, pada bintang, angin dan lautan ; melati dihatimu, dan senyuman".*
Terduduk pilu pria itu...matanya nanar menatap debu jalanan...temaram lampu-lampu jakarta temani senja muram miliknya...tak ia pedulikan lagi orang-orang yang berlalu lalang di depannya...entah sudah berapa lama ia duduk disana...bermandikan udara diingin selepas hujan yang deras...pikiran-pikiran yang menetap di kepalanya buatnya gentar tuk tersenyum...layu matanya...kuyu wajahnya...entah karena apa dan siapa...ia enggan tuk mengadu...
Kekasih di kejauhan...cintaku yang tulus kuberikan padanya tanpa pamrih...bencikah kau padaku saat ini?...jika kusebut namamu di dalam doaku, bencikah kau padaku?...jika aku menyapamu tuk sekedar tahu kabarmu, bencikah kau padaku?...di setiap detik aku ingat dirimu, bencikah kau padaku?...jika aku merindukanmu, bencikah kau padaku?...jika aku ingin selalu berada dekat denganmu namun tak pernah bisa, bencikah kau padaku?...entah darimana benci itu muncul di hatimu...
Kekasih yang jelita namun tak bisa kumiliki selamanya...hanya sesaat...mengapa terlalu sulit tuk memahami dirimu?...kutemukan cemburu di matamu yang sayu...entah kenapa?...mungkin rasa sayang yang hebat...mungkin jugapenuh tanda tanya yang tak pasti...kenangan mengendap dan mengeras di hati...kurasa cinta yang lain tak mampu tuk kikis cintamu itu...sederas apapun benci mengalir...ia tetap ada disana...tak pernah berkurang...
Aku merindumu saat ini...melihatmu tersenyum dan tertawa...tangis pilumu...tatapan sendu matamu...aku merindumu saat ini...cinta yang serupa bintang-bintang di cakrawala...sedang apa dirimu saat ini?...tidurkah kau?...atau sedang terjagakah kau?...mengapa waktu tak pernah cukup untuk kita?...bahkan tidur pun tak bisa lelap..mimpiku tentangmu selalu lelapkan ku yang resah...aku merindumu...
Ketahuilah...pria itu adalah aku...tak peduli seberapa hancur hati ini...jika bisa buatmu tersenyum...aku enggan tuk mengeluh...pahamilah diriku...
Pahamilah arti cintaku padamu...
Terduduk pilu pria itu...matanya nanar menatap debu jalanan...temaram lampu-lampu jakarta temani senja muram miliknya...tak ia pedulikan lagi orang-orang yang berlalu lalang di depannya...entah sudah berapa lama ia duduk disana...bermandikan udara diingin selepas hujan yang deras...pikiran-pikiran yang menetap di kepalanya buatnya gentar tuk tersenyum...layu matanya...kuyu wajahnya...entah karena apa dan siapa...ia enggan tuk mengadu...
Kekasih di kejauhan...cintaku yang tulus kuberikan padanya tanpa pamrih...bencikah kau padaku saat ini?...jika kusebut namamu di dalam doaku, bencikah kau padaku?...jika aku menyapamu tuk sekedar tahu kabarmu, bencikah kau padaku?...di setiap detik aku ingat dirimu, bencikah kau padaku?...jika aku merindukanmu, bencikah kau padaku?...jika aku ingin selalu berada dekat denganmu namun tak pernah bisa, bencikah kau padaku?...entah darimana benci itu muncul di hatimu...
Kekasih yang jelita namun tak bisa kumiliki selamanya...hanya sesaat...mengapa terlalu sulit tuk memahami dirimu?...kutemukan cemburu di matamu yang sayu...entah kenapa?...mungkin rasa sayang yang hebat...mungkin jugapenuh tanda tanya yang tak pasti...kenangan mengendap dan mengeras di hati...kurasa cinta yang lain tak mampu tuk kikis cintamu itu...sederas apapun benci mengalir...ia tetap ada disana...tak pernah berkurang...
Aku merindumu saat ini...melihatmu tersenyum dan tertawa...tangis pilumu...tatapan sendu matamu...aku merindumu saat ini...cinta yang serupa bintang-bintang di cakrawala...sedang apa dirimu saat ini?...tidurkah kau?...atau sedang terjagakah kau?...mengapa waktu tak pernah cukup untuk kita?...bahkan tidur pun tak bisa lelap..mimpiku tentangmu selalu lelapkan ku yang resah...aku merindumu...
Ketahuilah...pria itu adalah aku...tak peduli seberapa hancur hati ini...jika bisa buatmu tersenyum...aku enggan tuk mengeluh...pahamilah diriku...
Pahamilah arti cintaku padamu...
[UN - KON - SIS - JEE]
MINGGU KEMARIN DIA BILANG GINI :
Carilah dia, perempuanmu itu, bukan yang lain,
dan kau jadikan dia alasan tuk bercahaya,
sebelum cahayamu yang semakin redup itu benar-benar padam,
camkan ini di kepalamu;
"berpalinglah dari perbedaan",
kau, yang menangisi setiap perpisahan,
dan kau juga, yang berteriak saat kehilangan,
karena kau tak pantas tuk bersedih,
dan kesedihan tak sepatutnya untukmu,
aku butuh keceriaan dan canda yang sepenuhnya,
dan kau miliki itu tuk kau bagi,
banyak hal yang perlu dirimu di sana,
jiwamu yang penuh kepasrahan dan kesabaran,
tempat sahabat-sahabatmu berdiam disana,
jangan lagi kau buat luka baru,
karena kau tak kan izinkan aku tuk mengambil lukamu itu,
tak kan ada yang kan ku katakan lagi padamu, kecuali;
"carilah dia, perempuanmu itu, dan bukan yang lain".
MINGGU INI DIA BILANG GINI :
" kau sendiri yang buat harimu berat…tak bisakah kau berhenti menoleh ke belakang…?
putuskanlah pilihanmu…lihatlah ke depan…!!
aku yang ada di depanmu terlalu menahan sakit melihat wajahmu yang selalu menoleh ke belakang…
aku terlalu cemburu pada mereka semua yang hidup di masa lalumu…
apakah aku tak punya arti tuk kau pandang…?!?!"
MINGGU DEPAN GILIRAN GW NGOMONG GINI :
"mau kamu apa sih...?!?!"
Carilah dia, perempuanmu itu, bukan yang lain,
dan kau jadikan dia alasan tuk bercahaya,
sebelum cahayamu yang semakin redup itu benar-benar padam,
camkan ini di kepalamu;
"berpalinglah dari perbedaan",
kau, yang menangisi setiap perpisahan,
dan kau juga, yang berteriak saat kehilangan,
karena kau tak pantas tuk bersedih,
dan kesedihan tak sepatutnya untukmu,
aku butuh keceriaan dan canda yang sepenuhnya,
dan kau miliki itu tuk kau bagi,
banyak hal yang perlu dirimu di sana,
jiwamu yang penuh kepasrahan dan kesabaran,
tempat sahabat-sahabatmu berdiam disana,
jangan lagi kau buat luka baru,
karena kau tak kan izinkan aku tuk mengambil lukamu itu,
tak kan ada yang kan ku katakan lagi padamu, kecuali;
"carilah dia, perempuanmu itu, dan bukan yang lain".
MINGGU INI DIA BILANG GINI :
" kau sendiri yang buat harimu berat…tak bisakah kau berhenti menoleh ke belakang…?
putuskanlah pilihanmu…lihatlah ke depan…!!
aku yang ada di depanmu terlalu menahan sakit melihat wajahmu yang selalu menoleh ke belakang…
aku terlalu cemburu pada mereka semua yang hidup di masa lalumu…
apakah aku tak punya arti tuk kau pandang…?!?!"
MINGGU DEPAN GILIRAN GW NGOMONG GINI :
"mau kamu apa sih...?!?!"
A.b.S.u.R.d
> yang terbaik adalah tidak dilahirkan......
> yang kedua,dilahirkan tetapi mati muda.....
> yang terburuk adalah umur tua..........
> berbahagialah mereka yang mati muda.....
temen gw : "trus loe mau matinya kapan....???"
gw : " soon " ^^
> yang kedua,dilahirkan tetapi mati muda.....
> yang terburuk adalah umur tua..........
> berbahagialah mereka yang mati muda.....
temen gw : "trus loe mau matinya kapan....???"
gw : " soon " ^^
"R" is "a Delicious Person" ^^
Ini seakan menjadi cerita yang tak pernah berakhir…jernih aku berpikir semua tentangmu…coba pahami pesan yang kau sampaikan lewat kedua matamu…aku membuktikan mimpimu lewat lelahku…itu pun kuharap kau mau mengerti tuk secuil saja…haruskah ku katakan lewat kata-kata ?!
Aku hanya ingin diam dan mendengar suaramu saja…berbicaralah…sampaikanlah semuanya padaku…aku mendengarkanmu di balik bising suara…ceritakanlah padaku semuanya…untukmulah aku ada disini…kutunggu dan kutunggu suaramu…apakah aku menjadi asing buatmu ?!
Buatlah hatiku remuk redam…jika itu adalah kesenangan buatmu…rinduku adalah saat menyaksikan hitam batas dunia di cakrawala denganmu…udara dingin di waktu malam…benda-benda pijar yang bergantungan di langit sana…tak pernah kuabaikan tatapanmu…senyummu yang angkuh pun berubah menjadi kesederhanaan di mataku…kesederhanaan yang membuatku tak bisa beranjak dari sana.
Berharap dirimu adalah yang terakhir…cemasku didihkan suasana…bergolak dan meluap…seandainya rasa mampu tuk dipungkiri sekali lagi…namun rasa tak bisa dipersalahkan…ada harapan…meski sebagian hilang disapu angin…terpana pada rasa seluas semesta…bersama cuaca muram oleh cerita silam.
Sekeras hujan terpa aku sampai kuyup…sekencang angin dan gemuruh cuaca merobek-robek asa…mimpiku tercabut dan terbang tak bernyawa…aku ingin berhenti di hatimu…memberi arti dan memaknai…dalam kesederhanaan rasa…aku menunggu dan merindukanmu…sejak dari kandungan ibuku.
Aku hanya ingin diam dan mendengar suaramu saja…berbicaralah…sampaika
Buatlah hatiku remuk redam…jika itu adalah kesenangan buatmu…rinduku adalah saat menyaksikan hitam batas dunia di cakrawala denganmu…udara dingin di waktu malam…benda-benda pijar yang bergantungan di langit sana…tak pernah kuabaikan tatapanmu…senyummu yang angkuh pun berubah menjadi kesederhanaan di mataku…kesederhanaan yang membuatku tak bisa beranjak dari sana.
Berharap dirimu adalah yang terakhir…cemasku didihkan suasana…bergolak dan meluap…seandainya rasa mampu tuk dipungkiri sekali lagi…namun rasa tak bisa dipersalahkan…ada harapan…meski sebagian hilang disapu angin…terpana pada rasa seluas semesta…bersama cuaca muram oleh cerita silam.
Sekeras hujan terpa aku sampai kuyup…sekencang angin dan gemuruh cuaca merobek-robek asa…mimpiku tercabut dan terbang tak bernyawa…aku ingin berhenti di hatimu…memberi arti dan memaknai…dalam kesederhanaan rasa…aku menunggu dan merindukanmu…sejak dari kandungan ibuku.
Seven Years
Selama 7 tahun ini malam selalu menjadi teman sejati, malam selalu buatku tenang, meskipun pikiran ini terbang melayang. Kemarin, bulan purnama kekuningan hadir di kala senja, di saat kusandarkan penat tubuhku di kursi panjang, adakah ia berarti?, ataukah sesuatu yang wajar dan biasa saja?, aku semakin apatis. Kukira wajah-wajah malam selalu menakutkan, kurasa tak sepenuhnya benar, karena aku sedemikian hausnya dengan sesuatu yang baru, aku mudah bosan, enggan tuk terjebak dalam sebuah rutinitas, dan kuakui, aku semakin aneh saja.
Aku rindu wajah-wajah yang berpendaran hadir kembali dalam hidupku, wajah-wajah yang kunikmati sepanjang jalan hidupku, wajah-wajah yang mengerti tentang aku seutuhnya, aku merindukan kalian semua saat ini, dan aku tak mampu berlalu. Salahkah aku bernafas di sini?, jika aku tersesat, siapa yang akan datang dan memberiku arah?, aku sendirilah, aku dan aku sendiri lagi yang meneriaki diriku sendiri, jika kelam diriku sekarang, maka salahkanlah aku yang berlalu dari pandangan kalian, kulalui segalanya sendiri tanpa kalian, kuakui, hidup tuk menjadi terang bagi orang lain sangatlah terjal dan berliku.
Ketahuilah teman, semalam seseorang pergi dan mungkin tak akan kembali lagi, luka itu hadir lagi, dengarlah jeritanku, adakah kalian dengar?, bahkan di dalam doaku, aku hanya mampu tuk tersedu, tak ingin tuk menangis lagi. Mungkin esok, seseorang yang lain hadir, lantas pergi dan membuka luka itu kembali, aku tak mau lagi peduli, seberapa lebar dan dan seberapa kali pun luka itu kembali terbuka, aku tak mau lagi tuk peduli.
Jadi dengarlah ini sahabat, aku tak lagi bersedih, kehilangan kalian jauh lebih berat. Cinta tak lagi buatku tawar hati, senyum kalian yang menggarami hidupku sampai matiku.
Aku rindu wajah-wajah yang berpendaran hadir kembali dalam hidupku, wajah-wajah yang kunikmati sepanjang jalan hidupku, wajah-wajah yang mengerti tentang aku seutuhnya, aku merindukan kalian semua saat ini, dan aku tak mampu berlalu. Salahkah aku bernafas di sini?, jika aku tersesat, siapa yang akan datang dan memberiku arah?, aku sendirilah, aku dan aku sendiri lagi yang meneriaki diriku sendiri, jika kelam diriku sekarang, maka salahkanlah aku yang berlalu dari pandangan kalian, kulalui segalanya sendiri tanpa kalian, kuakui, hidup tuk menjadi terang bagi orang lain sangatlah terjal dan berliku.
Ketahuilah teman, semalam seseorang pergi dan mungkin tak akan kembali lagi, luka itu hadir lagi, dengarlah jeritanku, adakah kalian dengar?, bahkan di dalam doaku, aku hanya mampu tuk tersedu, tak ingin tuk menangis lagi. Mungkin esok, seseorang yang lain hadir, lantas pergi dan membuka luka itu kembali, aku tak mau lagi peduli, seberapa lebar dan dan seberapa kali pun luka itu kembali terbuka, aku tak mau lagi tuk peduli.
Jadi dengarlah ini sahabat, aku tak lagi bersedih, kehilangan kalian jauh lebih berat. Cinta tak lagi buatku tawar hati, senyum kalian yang menggarami hidupku sampai matiku.
Langganan:
Postingan (Atom)
