Tampilkan postingan dengan label I'm In Pain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I'm In Pain. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Agustus 2010

Someone Note [Somehow, we're connected by PAIN]

"And I don't want the world to see me, cause I don't think that they'd understand. When everything's made to be broken, I just want you to know who I am..." [Goo Goo Dols - Iris]

What if...

I just gave up,

i'm done,

i'm signing off,

this time will be for real.

will be once and for all will be forever,

will it change anything...?

will things going to be normal...?

So this is it...

I can't face this again and again in the future,

there's nothing left,

everything is totally broken,

what could possible being torn apart is already vanished,

crushed into the very tiniest pieces,

and choose to blow them away this time,

so they wont be there to be mended,

only to be crushed again and again.


ps : [dear you, we'll find a way...you'll find a way...somehow, someday, you'll find your way "home"...we'll find our way "home"...]

Our Sanctuary...

Untuk manusia-manusia bivalen yang keras kepala ;

Kami telah melihat seraut wajah menyeramkan serupa wajah setan,

Merenggut paksa hasrat dan keinginan kami,

Untuk para pengkhianat yang lupa dan ceroboh ;

Kami telah menatap mata merah darah yang menatap kami dengan tajam,

Untuk para pengecut yang lari ketakutan ;

Kami tak gentar dan kami melawan,

Kami adalah ksatria lugu yang akhirnya terbaring beku.



Kami mempertanyakan rasa kami pada tuhan,

Apakah tuhan sedang bermain dadu ?

Kami mempertanyakan doa-doa kami,

Apakah tuhan mendengar doa kami ?

Kami mempertanyakan keberadaannya,

Apakah tuhan sedang berada di dekat kami ?

Tuhan terlalu asing buat kami,

Meski kami menyebut namanya setiap hari,

Namun tuhan terasa asing bagi kami.



Seorang malaikat turun,

Menangkapi jiwa-jiwa kami di udara,

Tersenyum sinis sembari berkata ;

"kalian mati untuk apa ? sebandingkah bila diukur dengan nyawa ?"

Kami ingin bicara ;

"kami tak peduli !!! benar atau salah, kami tak peduli !!!"

Kami ingin teriak ;

"tahu apa kau tentang sesuatu yang samar ?"

Tapi cahaya di matanya membuat suara kami tercekat,

Tertahan di dada kami sambil memeluk erat rasa .



Kami berontak dan terlepas dari genggaman malaikat itu,

Kami melesat ke tempat perlindungan kami,

Ke tempat perlindungan yang kami buat sendiri ;

Malaikat itu berteriak marah ;

"kalian menganggap tak ada cinta lain di dunia ? itu karena kalian tak pernah cukup sadar untuk mengetahuinya !!! padahal ia hadir di dekat kalian !!! ia selalu hadir pada waktunya !!!"

Kami tertawa,

Kami berkata pada malaikat itu ;

"Biarkanlah kami disini, kami tak ingin cinta yang lain itu. Tempat perlindungan kami sekarang adalah keheningan dan kebisuan. Biarkanlah kami tinggal disini diterangi rasa kami. Memahat nama orang yang kami cintai di dinding-dindingnya. Sesungguhnya kami begitu membenci manusia-manusia bivalen yang kerasa kepala itu, membenci mereka yang hidup dalam kesamaran dunia kami. Kami begitu membenci mereka hingga kami akan selalu terjaga !!!"

Cahaya di mata malaikat itu berkedip,

seolah bergetar dan perlahan hilang.



Ketika seseorang pergi biarkanlah kami memilih,

Untuk tetap seperti ini ataupun berubah,

Kau, kalian, tak akan tersakiti,

Kami hanya akan menyakiti diri kami sendiri.

Broken Heart.Inc #Broken Hearted Since...#

Kami telah mengikuti perasaan kami.

Mengikuti 'common sense' dan menomorsatukannya.

Tapi kenyataannya, kami kalah karena keadaan.

Keadaan yang menjadi atribut, pola pikir, dan pengkotakan-kotakan manusia.

Kami hanya ingin memiliki apa yang ingin kami miliki.

Kami tidak ingin belajar untuk bisa memiliki apa yang sebenarnya tidak ingin kami miliki.

Kami ingin hidup dengan impian kami dan berjalan di jalan yang kami ketahui.

Kami tidak ingin hidup dengan impian orang-orang lain yang mereka paksakan dan jejalkan pada kami.

Kami tidak ingin berjalan di jalanan asing yang membuat kami seolah sedang berjalan di dalam labirin dan menghabiskan sisa hidup kami disana.

Kami hanya ingin hidup dengan harapan kami yang sederhana.

Harapan yang tak pernah melebihi dari apa yang kami harapkan.

Kami ingin hidup dengan 'rasa' kami.

Kami tidak tahu darimana datangnya 'rasa' itu.

Sejak kapan 'rasa' itu muncul pun kami tidak tahu.

Kami tidak tahu bagaimana bentuknya.

Kami hanya tahu bahwa 'rasa' itu hidup di dada kami.

Berdenyut disana setiap hari.

Kami tidak tahu cara membuat 'rasa'.

Kami pun tak ingin membuat 'rasa' lain dan menggantikannya.

Tapi, kami menggantinya.

kami mengacuhkannya.

Kami meludahinya.

kami membunuhnya.

Karena keadaan.

Sesuatu yang mereka bilang benar.

Sesuatu yang mereka bilang seharusnya kami lakukan.

Sesungguhnya kami tak pernah sanggup.

Kami kalah.

Kami berpaling.

Kami menjadi orang lain.

Kami yang sebenarnya telah mati.



ps : pilihan terhadap 'rasa' hanya ada dua ; pilih akal sehat meski hati sakit ATAU pilih hati sehat meski akal sakit...^^

Your Suicidal Lullaby...

She...

Plays a song called the harmonius cry,

Flying me deep into her silhouette and sorrow,

I said ;

"No, you can't fall this time...",

I'll take this shame for you.


I...

Look at you from my deepest fear,

Taking place of someone seat as your admirer,

To sacrifice nothing but pain,

This feeling is come and go,

To live and to die apart.




I miss you,

I miss you,

I meant it,

I really meant it.


I miss you,

I miss you,

Good bye,

Good bye.

Tentang hujan...Tentang arti yang dibawanya serta...

Saat hujan turun, semua orang di lobby ini seperti terhipnotis. Ada tatapan yang menerawang entah kemana, pikiran berlarian kesan-kemari.

Seorang pria menghampiri seorang wanita yang sedang duduk melamun sendirian.

"bolehkan aku duduk disini...?!", tanya pria itu sambil mengeluarkan rokok dari saku kemejanya.

sang wanita melemparkan pandangannya ke sekeliling sambil kemudian mengangguk pelan.

"masih merokok...?!", tanya pria itu sambil menyodorkan sebungkus rokok miliknya.

"iya, tapi aku punya rokok sendiri...", tolak wanita itu dengan halus.

"ohh..okay...", sahut pria itu sambil menyalakan rokoknya.

asap putih mengepul dari mulut dan hidung pria itu. Hujan masih turun dengan derasnya, udara memang tak begitu dingin, namun entah kenapa bisa membuat orang2 di lobby ini seolah2 membeku.

"menunggu hujan berhenti...?!", tanya pria itu sambil memasukkan kembali rokoknya ke dalam saku kemeja.

wanita itu mengangguk.

"kamu sendiri...?!", tanya wanita itu sambil membenarkan posisi duduknya.

"umh...maunya sih hujan-hujanan...", jawab pria itu sambil tersenyum.

"oh ya...?!, serius...?!", tanya wanita itu lagi sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari tas jinjing yang tergeletak disampingnya.

"iya, tapi ini masih jam kerja, bisa runyam urusannya...", jawab pria itu sambil tersenyum.

wanita itu balas tersenyum sambil menyalakan rokok putihnya. Asap mengepul dari mulutnya.

"adakah hujan berarti sesuatu...?!", tanya pria itu sambil memalingkan wajahnya keluar lobby.

"maksud kamu...?!", tanya wanita itu sambil membenarkan posisi duduknya kembali.

"umh, entahlah...akhir2 ini sering terbesut di dalam pikiranku...", jawab pria itu sambil terus menatap keluar lobby. Memandangi hujan.

wanita itu ikut memalingkan wajahnya ke luar lobby. mereka berdua memandangi hujan.

"maksudku, kita terbiasa dengan rutinitas saat hari cerah. Dengan kesibukan dan tugas-tugas pekerjaan atau yang lainnya. Manusia saat hari cerah seperti memakai kacamata kuda, pikiran manusia pun seperti itu, umh...entahlah...", lanjut pria itu sambil menatap wanita itu dalam2.

wanita itu masih memandangi hujan, memandangi gemericik air hujan.

"hujan ini seperti fungsi 'PAUSE' buatku...", pria itu menambahkan.

wanita itu memalingkan wajahnya dan menatap wajah pria yang ada di hadapannya itu.

"aku tak mengerti maksud kata2mu, sama seperti maksud dari kata2mu yang dulu. Entah bagaimana aku tak bisa mengerti...", sahut wanita itu dengan suara yang agak keras.

"maafkan aku...", ujar pria itu pelan.

wanita itu tak menjawab, diisapnya rokoknya dalam2 dan dikepulkannya asap rokok tersebut dengan keras.

"ada sesuatu yang hilang dan itu kurasakan saat aku harus berdiam sebentar karena hujan yang turun. Saat aku menunggu hujan reda, aku berpikir tentang kamu, berpikir tentang orang2 yang berarti buatku. Aku tahu dan sadar bahwa aku telah kehilangan kamu dan mereka semua...", ujar pria itu lirih.

wanita itu tak menjawab, hanya menatap wajah pria itu.

"kamu tahu, akhir2 ini hujan sering turun...?!, sesering itulah aku memikirkan dirimu, aku menyesal...sungguh, aku terlalu menyesal karena terlambat tuk menyadari...", lanjut pria itu sambil mematikan rokoknya.

"tapi aku tak sendiri, orang2 di sekitarku yang menunggu hujan pun sama sepertiku. Mereka melamun, menerawang, berpikir, atau mungkin mereka menumpahkan penyesalan mereka sama seperti aku. aku tahu aku tak sendiri...", pria itu menambahkan.

"aku sibuk...aku tak bisa berbincang terlalu lama...", sahut wanita itu dengan pelan.

"aku tahu kamu sibuk, aku pun tak masalah jika kamu membalaskan hal yang sama seperti yang kulakukan padamu, aku tak pernah memasalahkan itu. aku akan memudahkannya agar kita impas. sungguh, aku tak apa2 dengan itu...", ujar pria itu sambil mencoba tersenyum meski sulit.

"lalu apa...?!, mau kamu apa...?!", tanya wanita itu sambil menahan air mata.

"aku tak sendiri dalam menyesali semua yang kulakukan padamu, seperti yang kuceritakan padamu tadi, beberapa orang yang kutemui saat menunggu hujan berhenti, mengalami hal yang sama denganku, mereka sama menyesalnya seperti aku. Hanya saja, jika kesalahan mereka dimaafkan dan penyesalan mereka diterima oleh orang2 yang mereka cintai, sedangkan aku tidak, itu berarti aku benar2 sendiri...", ujar pria itu sambil berdiri dari duduknya.

wanita itu menangis, air matanya mengalir deras di kedua pipi putihnya.

"aku tak pernah ingin menyia-nyiakan dirimu, tapi itu yang terjadi. Aku berterima kasih pada Tuhan dan hujan yang telah menyadarkan aku dan memberi aku waktu tuk berpikir dan merenung. Menyadari semua kesalahanku dan menyesalinya. Aku ingin memulainya kembali, mencoba memperbaikinya kembali denganmu, atau dengan yang lainnya...", ujar pria itu dengan suara yang bergetar.

"kenapa kamu berdiri seperti itu...?!, kamu mau kemana...?!, di luar masih hujan...", sahut wanita itu dengan suara terisak.

pria itu tak menjawab dan kembali duduk.

"kamu tak ingin menyeka air mataku ini...?!", ujar wanita itu pelan sambil dicobanya tuk tersenyum.

pria itu pun tersenyum bersama air mata yang kini tumpah.

Hujan di luar masih turun dan semakin deras. Beberapa orang di lobby ini masih melamun, menerawang, pikiran mereka berlari kesana-kemari mencari jawab atas semua tanya, mencari sebab atas semua akibat, dan mungkin mencari maaf atas kesalahan yang kini mereka sesali. Orang2 itu masih terdiam dan membeku, hanya dua orang yang menemukan kehangatan yang dulu pernah ada diantara mereka dan sempat hilang.

Hujan yang turun selalu mempunyai arti, adakah hujan yang turun memiliki arti buatmu...?!

Sabtu, 27 Februari 2010

[Sesakit Inikah Rasanya Mencintai...?!] Vol.1 : KOMA

Seorang perempuan terbaring di ICU. Seorang pemuda duduk sambil tertunduk lesu di sampingnya. Kedua mata perempuan itu terpejam, wajahnya tak berekspresi jika ia sedang sakit. Wajahnya terlihat tenang. Sebuah masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya. Dua buah selang infus menancap dengan lembut di nadi tangan kanannya. Disampingnya, peralatan kedokteran untuk memantau kehidupannya terus bekerja.

Kedua jemari tangan pemuda itu bergetar, sebentar kemudian, kedua tangannya menutupi wajahnya. Sisa air mata pun terseka dari pipinya. Pemuda itu larut dalam kesedihan. Sebentar -sebentar ditatapnya perempuan yang sedang terbaring di depannya itu. Dilihatnya sebentar, ia tak kuasa menahan air matanya. Pemuda itu larut dalam rasa sesalnya yang dalam. Isak tangisnya yang ia tahan sesekali terdengar di ruangan ICU itu.

Pemuda itu mencoba untuk menahan emosinya, ditariknya nafasnya dalam2 namun percuma, rasa sesal itu seperti menyelimuti dirinya, rasa sesal itu seperti memeluknya dengan erat, Pemuda itu tak henti2nya menangis dan sesekali terisak. Dibenamkannya wajahnya ke kedua telapak tangannya. Air mata mengalir dari jemari tangannya dan tumpah ke lantai. Dicobanya untuk tenang dan mengendalikan dirinya yang larut dalam kesedihan dan penyesalan. Tapi entah kenapa, pemuda itu tak bisa.

Seorang dokter dan 2 orang perawat sedang berbincang dengan pelan tak jauh darinya. Banyak yang telinganya bisa tangkap dari pembicaraan mereka, namun hanya ada satu kata yang memenuhi pikirannya dan membuat hatinya hancur lebur seperti ini ; KOMA.

Seorang perempuan terbangun di sebuah ruang remang-remang. Sedikit tersentak dirinya melihat sekeliling. Mengapa dia bisa ada disini...?!, tempat apa ini...?!, dilihatnya semua sudut ruangan yang minim cahaya itu dengan kedua matanya. Dicobanya berdiri dan melihat lebih seksama ruangan ini. Di hadapan matanya ada sebuah cahaya terang yang berada tak jauh di darinya. Dialihkan pandangannya ke belakang, ratusan foto yang terbingkai memenuhi dinding ruangan ini. Dirinya bingung tuk memilih, ragu tuk melangkah. Diliriknya sekali lagi beberapa gambar yang mampu dia lihat. Ada dirinya dalam gambar yang berbingkai itu. Keingintahuannya membawa langkah kakinya menuju gambar-gambar yang berbingkai itu.

"ahh...ini aku sewaktu berumur setahun..", gumam perempuan itu sambil tersenyum melihat gambar seorang bayi perempuan mungil.

Semua gambar yang berbingkai dalam ruangan itu adalah gambar dirinya dan semua kejadian yang telah terjadi. Semakin ia menikmati gambar-gambar berbingkai, semakin jauh langkahnya masuk kedalam ruangan itu, menjauhi cahaya putih yang ada di belakangnya.

gambar berikutnya adalah gambar2 dirinya semasa kecil bersama ayahnya. Perempuan itu menatap dengan dingin gambar2 itu. Diambilnya setiap bingkai yang bergambar dirinya yang sedang bersama ayahnya dan ibunya, lalu dilemparnya ke lantai.

"jika cinta adalah alasan kamu menikahi ibu, kenapa aku yang harus hancur karena keegoisan kamu...?!", ujar perempuan itu geram sambil membanting setiap bingkai yang memuat gambar dirinya dengan ayahnya.

"wahai ibu, kamu mati karena sakit hati atas kelakuan ayah, tak pernah terpikirkah buatmu untuk merawatku...?!, kenapa ibu meninggalkan aku...?!, kematianmu benar2 tak ada gunanya...!!!, mati karena seorang bajingan semacam itu...!!!", ujar perempuan itu sambil membanting beberapa buah bingkai yang berisi gambar dirinya dengan kibunya ke lantai ruangan ini.

perempuan itu membanting bingkai demi bingkai dengan rasa geram. Tak lama perempuan itu terduduk di lantai ruangan yang diingin sambil menangis tersedu. pecahan kaca, kayu, gambar2 yang robek memenuhi lantai ruangan.

"bagaimana kondisinya, dok...?!", pria itu bertanya.

"kami akan berusaha semampu kami. Berdoalah...", jawab seorang dokter pelan sambil memberikan suntikan melalui selang infus.

Perempuan itu tertegun menatap sebuah gambar, gambar dia dengan seorang perempuan lain yang sama2 mengenakan seragam SMA.

Perlahan air matanya mengalir.

"Tere...", ujar perempuan itu terisak menyebut satu nama.

Beberapa gambar selanjutnya yang dia lihat adalah gambar2 dirinya dengan seorang perempuan bernama Tere itu. Tangisnya semakin hebat saat dia memandangi satu persatu gambar2 tersebut.

Dirinya berhenti disebuah gambar. Ada dirinya dan orang2 yang mengenakan pakaian serba hitam. Sebuah peti mati berwarna coklat yang dingin dan membisu di atas sebuah liang lahat. Dirnya memegang sebuah foto perempuan bernama Tere tadi tepat di dadanya. Isak tangisnya tak tertahankan.

"kenapa kamu harus pergi, Tere...?!, aku rindu kamu...aku sayang kamu...aku...", ujar perempuan itu terisak lalu terhenti karena tangis yang hebat.

"aku mencintai kamu, Tere...", perempuan itu melanjutkan kata2nya yang sempat hilang oleh tangis.

perempuan itu pun terduduk di lantai sambil bersandar pada dinding ruangan ini. Tak ada kata yang terucap lagi, dia hanya bisa menangis.

Pria itu masih duduk disamping perempuan yang sedang terbaring KOMA itu. Bibirnya terlalu kelu tuk bersuara lagi, hatinya dipenuhi kegalauan yang luar biasa.

Perempuan itu semakin dalam memasuki ruangan yang dipenuhi oleh gambar2 dirinya dalam bingkai ini. Semakin dalam dia melangkah, semakin jauh dia dari cahaya putih yang bersinar terang itu. Semakin dalam dia melangkah, semakin dia menikmati hal2 yang pernah terjadi dalam dirinya.

"kami sudah berusaha semampu kami, tapi....", ujar seorang dokter.

"tapi apa dok...?!, apa...?!", tanya pria itu dengan raut wajah penuh kecemasan.

"kondisinya terus memburuk, Tuhan mungkin berkehendak lain, maafkan kami, kami sudah berusaha...", sahut dokter itu sambil memegang pundak pria itu.

tak ada jawaban dari pria itu.

"dia tak akan bertahan sampai sore ini, itu prediksi kami, maafkan kami...", ujar dokter sambil pergi berlalu dari ruangan itu.

pria itu membenamkan kepalanya ke tangan kiri perempuan yang sedang terbaring koma itu. Pria itu menangis.

Pikiran pria itu kembali ke sebuah sore yang mendung, 4 hari yang lalu.

"aku mencintai kamu, Dela..."

"sudahlah, ardi...!!!"

"kenapa kamu tak pernah memberi aku kesempatan...?!"

"sudah...!!!, kamu saja yang tak menyadarinya...!!!"

"okay..!!!, lalu bagaimana...?!"

"kamu baik, perhatian sama aku, selalu ada buat aku, aku suka kamu...hanya saja..."

"Tere...?!, iya kan...?!, Tere kan..?!"

"sudahlah, ardi..."

"bagiku itu bukan sebuah masalah, Del...aku mencintai kamu sebagaimana adanya kamu, dengan semua yang ada dirimu..."

"aku tahu...tapi..."

"bahkan aku tak meminta kamu untuk balik mencintai aku...aku bisa menerima bila kamu lebih mencintai Tere...bagiku tak apa..."

"buatku hanya ada satu orang yang kucintai dengan sangat dalam...Tere...pahamilah..."

"Tere sudah mati, Dela....!!!"

"hatiku pun mati sejak Tere pergi...!!!"

"seorang wanita ditakdirkan untuk bersama seorang pria, Del..."

"apa maksud kata2mu barusan...?!"

"empat tahun sudah, Del...aku berusaha membuatmu mencintai aku, tapi sepertinya semua itu sia2..."

"aku suka kamu, ardi...sungguh aku suka kamu..."

"tanpa cinta buatku itu percuma..."

"maaf...."

"aku rasa aku membuang waktuku dengan percuma selama empat tahun ini...aku pikir...aku pikir aku bisa mengubahmu..."

"kenapa kamu mau mengubahku...?!"

"karena aku cinta sama kamu, del...!!!, kenapa kamu masih saja bertanya tentang semua hal2 yang aku lakukan...?!"

"aku tahu...maafkan aku..."

"karena aku mencintai kamu, aku ingin mengubah kamu tuk menyukai aku...menyukai pria...!!!"

"aku suka sama kamu, ardi...!!!"

"untuk mencintai pria juga...!!!"

"aku...aku..."

"hanya karena ayahmu yang BAJINGAN itu, kamu menghakimi semua pria seperti ini...!!!"

"kamu tak tahu rasanya, ardi...!!!"

"karena kamu takut...!!!, bahkan kamu takut dengan bayang2 masa lalu kamu...!!!"

"okay, aku salah...!!!"

"bukan, kamu pengecut...!!!"

"kamu pikir selama ini aku tak melawan...?!, kamu pikir selama ini aku hanya berdiam diri saja menerima semua ini...?!"

"entahlah...!!!, aku tak pernah kau izinkan tuk masuk ke dalam hatimu, aku tak tahu...!!!"

"berhentilah menghakimi aku, ardi...!!!"

"siapa yang datang dan merawat saat kamu sakit...?!, tere...?!, siapa yang menghibur kamu saat kamu sedang sedih...?!, tere...?!, siapa yang ada saat kamu khawatir, cemas, dan jatuh...?!, tere...?!, tere sudah mati, dela....!!!, tere sudah mati...!!!"

"kenapa kamu menyakiti aku seperti ini...?!"

"hiduplah dengan tere, teruslah seperti ini, aku tak akan datang lagi...!!!"

"jangan pergi, ardi...!!!"

ardi pergi berlalu menyebrang sebuah jalan raya. Dela berusaha mengejar tanpa memperhatikan sebuah sedan yang sedang melaju kencang ke arahnya.

CKIITTT....!!!, BRAAAKKKKK.....!!!

"maafkan aku, dela...jika hari itu aku tak pergi meninggalkanmu, semua ini tak akan terjadi. Maafkan aku dela...", bisik pria itu lirih di dekat telinga perempuan yang sedang terbaring koma bernama dela.

"dela...", sebuah suara membuat dela mengalihkan wajahnya mencari arah datangnya suara yang memanggil namanya.

dela terhenyak melihat seorang perempuan yang berdiri tak jauh darinya.

"tere...?!, itu kamu tere...?!"

"iya..ini aku, dela..."

dela berlari menghampiri tere dan langsung memeluknya.

"aku rindu kamu, tere..."

"aku juga, del...maafkan aku yang harus pergi dari kamu..."

"kamu jahat, tere...kenapa kamu pergi...?!"

"aku pun tak mau pergi dari kamu, del..."

"aku sayang kamu, tere..."

"aku cinta kamu, del..."

"aku juga, tere..."

kedua perempuan itu masih berpelukan dan melepas rasa rindu mereka di ruangan yang semakin gelap ini.

Ardi masih memperhatikan alat pantau kehidupan dengan wajah yang sendu dan muram. Entah sudah berapa kali dia menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Matanya sembab.

"aku mencintai kamu, dela..."

tak ada jawaban. Dela membisu dalma keheningan ruangan ICU.

"jangan pergi lagi, tere..."

"tak akan...!!!, aku berjanji...!!!"

"aku percaya kamu..."

"ikutlah denganku...!!!, kita tak akan terpisah lagi, kita kan selalu bersama selamanya..."

"kemana...?!"

"ke tempatku..."

"selalu bersama dengan kamu, tere...?!"

"iya..."

"kamu tak akan meninggalkan aku lagi...?!"

"tidak akan...!!!, aku cinta kamu, aku tidak akan meninggalkan kamu..."

"baiklah..."

kedua perempuan itu berjalan lebih dalam lagi masuk ke dalam ruangan ini. Cahaya putih yang terang tadi semakin redup. Ruangan ini semakin bertambah gelap.

Dela menghentikan langkahnya saat melihat sebuah gambar dirinya bersama dengan seorang pria.

"ada apa..?!, kenapa berhenti, del..?!"

dela tak menjawab. dela menatap gambar itu dalam2.

"siapa itu, del...?!"

"ardi..."

"siapa dia...?!"

"saat kamu pergi, dia yang menjagai aku, dia yang selalu ada buat aku, dia seperti kamu. hanya saja dia itu seorang pria..."

"kamu suka dia, del...?!"

"iya..aku sangat menyukai, ardi..."

"kamu mencintai, del...?!"

dela tak menjawab. air matanya mengalir membasahi pipinya.

"kenapa, del..?!"

"aku belum menjawabnya, tere..."

"menjawab apa, del...?!"

"menjawab pertanyaan dia, apakah aku mencintai dia..."

"apa jawabanmu...?!"

"jangan pergi, del...aku mencintai kamu...jangan pergi, del....", bisik ardi lirih di telinga dela saat tanda pantau kehidupan nyaris menjadi garis lurus saat ini.

"aku mungkin tak tahu apa yang kamu rasakan, aku mungkin tak tahu dengan jelas masa lalu kamu, tapi kamu pun pasti tak tahu rasanya hati aku ini...aku bertahan hingga sekarang, del...aku bertahan buat kamu untuk bisa mempercayai aku, mempercayai seorang pria...karena aku mencintai kamu, dela...", ujar ardi sambil terisak.

bunyi denyut jantung di alat pemantau semakin lama semakin lambat.

"katakan padaku, apa kamu mencintainya...?!"

"ya...aku mencintainya, sama seperti aku mencintai kamu..."

"kenapa kamu tak bilang ke dia...?!"

"aku takut tuk kehilangan lagi, aku takut tuk merasakan sakitnya masa lalu aku...dia benar, aku memang pengecut..."

"lalu...?!"

"dia layak untuk mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada aku..."

"tapi dia mencintai kamu..."

dela mengalihkan pandangan matanya ke arah sinar yang semakin redup itu.

"jangan pergi, dela...demi aku, jangan pergi...", ardi terus berbisik di telinga dela.

"kamu dengar itu...?!, kamu dengar itu...?!"

"apa...?!"

"seperti suara ardi...dia sepertinya sedang memanggil diriku..."

"kamu ingin kembali padanya...?!"

"tidak, tere..dia layak mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku..."

"lalu, apa lagi yang kau tunggu, ayo kita ke tempatku..."

"iya...tunggu sebentar..."

ardi terus berada di samping dela yang terbaring. alat pemantau semakin lama semakin lambat. ardi seperti kehilangan kata2, ia hanya bisa menangis.

"dengar ini, ardi...aku mencintai kamu..."

dela mengambil bingkai kayu yang didalamnya terdapat gambar ardi. disekanya air mata yang mengalir di pipinya. Dipeluknya bingkai kayu itu tepat di dadanya sambil berjalan menyusul tere yang berjalan tak jauh di depannya. Cahaya pun sirna. Ruangan ini pun menjadi gelap sempurna.

alat pemantau kehidupan mengeluarkan sebuah suara yang konstan. seorang dokter menutup tubuh dela dengan kain putih. ardi berteriak dan menangis sekaligus. suaranya memenuhi setiap sudut ruangan ICU ini.

ardi berjalan keluar dari ruang ICU menuju taman di rumah sakit itu. terduduk sambil terisak di bangku taman yang basah oleh hujan gerimis. senja ini murung dan sendu, semurung dan sesendu dirinya. senaj ini gerimis turun, seperti air mata ardi yang masih terus mengalir.

"sesakit inikah rasanya mencintai...?!", gumam ardi sambil terisak seolah bertanya kepada langit yang hitam.

[ SAAT BUMI BERTANYA KEPADA LANGIT ; "SESAKIT INIKAH RASANYA MENCINTAI...?!", LANGIT PUN MENJADI MURUNG DAN SENDU, LALU KEMUDIAN MENANGIS ]

[Sesakit Inikah Rasanya Mencintai...?!] Vol.2 : Dialogue at The Telephone

Sebuah senja yang murung terhampar di depan mata seorang pria yang sedang terduduk diam. Hujan yang menghantam bumi berkali-kali baru saja reda. Tak ada pelangi. Lagipula siapa yang membutuhkan pelangi...?!, hanya orang cengeng yang perlu melihat pelangi sehabis hujan.

Bunyi ringtone di HP menarik pria itu dari lamunannya. Diperhatikannya identitas penelfon yang muncul di layar HP nya. Dengan wajah dingin didekatkannya HP itu ke telinganya.

p : "halo..."

w : "hai...kamu sedang sibuk...?!"

p : "enggak..."

w : "bener..?!"

p : "ya..."

w : "sedang apa kamu...?!"

p : "tidak sedang melakukan apa-apa..."

w : "aku rindu mendengar suaramu..."

p : "kamu sedang mendengarkannya sekarang..."

w : "iya...tak berubah..."

p : "ya..."

w : "kenapa kamu tak pernah menelfonku...?!"

p : "bukankah kamu yang bilang waktu itu ; kamu yang akan menelfon aku, aku tak perlu menelfon kamu. Kamu sudah lupa...?!"

w : "aku masih ingat, hanya saja..."

p : "apa...?!"

w : "tidak, aku hanya berpikir..."

p : "berpikir tentang apa...?!"

w : "apakah kamu tak pernah merindukan aku...?!"

p : " pernah..."

w : "benarkah...?!"

p : "sering..."

w : "oh ya...?!"

p : "setiap saat..."

w : "lalu, kenapa kamu tak pernah menelfonku...?!"

p : "aku berpegang pada kata-katamu itu..."

w : "kenapa tak kamu langgar bila kamu merindukan aku...?!"

p : "semua kata-katamu itu kuanggap sebagai sebuah kepercayaan buta dimana aku tak perlu tuk bertanya kenapa ?, dan bagiku, bila aku tak patuh pada kata-katamu atau melanggarnya, itu artinya aku sedang menyakiti kamu secara tidak langsung..."

w : "kamu tak pernah menyakiti aku, sekalipun tidak..."

p : "karena aku mencintai kamu..."

w : "aku pun mencintai kamu..."

p : "kamu pun tak pernah menyakiti aku, sekalipun tidak. Tapi, kenapa aku merasakan rasa sakit yang luar biasa bila aku mengingatmu...?!, terlebih ketika aku sadar bahwa aku mencintai kamu. Cinta itu seharusnya menjadi sebuah perasaan yang menyenangkan, membuat seseorang bahagia. Tapi, cinta yang kumiliki ini menyakiti diriku sendiri..."

w : "aku pun merasakan rasa sakit yang sama..."

p : "niatkanlah aku tuk mengerti rasa sakit yang kamu rasakan, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya..."

w : "kamu pikir aku menikmati semua ini...?!, semua omong kosong ini...?!"

p : "waktu yang berlalu semakin membaurkan semua hal tentangmu. Terlebih, tentang perasaanmu padaku..."

w : "kamu sedang menyayat hatiku lewat kata-katamu barusan..."

p : "maafkan aku bila itu menyakitimu, aku hanya ingin jujur..."

w : "kamu tak pernah tahu rasanya...!!!"

p : "maafkan aku..."

w "untuk merasa seperti diperkosa setiap malam...!!!"

p : "sudahlah...tak perlu kamu teruskan..."

w : "untuk melahirkan seorang anak yang didalamnya mengalir darah orang yang terpaksa aku cintai...!!!, aku sayang pada anakku...!!!, tapi mengapa bukan darahmu yang mengalir di tubuh anakku...?!"

p : "aku mengerti..."

w : "tidak...!!!, kamu tak mengerti...!!!, kamu tak tahu bagaimana rasanya...!!!"

p : "tak perlu kamu teruskan lagi...."

w : "aku adalah seorang istri dan seorang ibu yang menjalani ini tanpa jiwa dan hati...aku bisa tersenyum pada suamiku dan anakku, tapi kosong. Aku bisa tertawa, tapi hampa. Sandiwara yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sebuah antiklimaks yang terlalu menyakitkan....!!!"

p : "maafkan aku..."

w : "posisimu lebih enak dibandingkan aku, sakitmu tak seberapa dibandingkan aku..."

p : "kenapa kamu bisa berkata begitu...?!"

w : "kamu masih sendiri..."

p : "menurutmu itu sebuah keuntungan...?!"

w : "mungkin..."

p : "tak seperti yang kamu bayangkan..."

w : "lalu seperti apa...?!"

p : "kamu mau dengar...?!"

w : "tentu saja..."

p : "meski itu menyakitkan buatmu..."

w : "sakit, tersakiti, itu tak lagi menjadi sebuah masalah..."

p : "baiklah..."

w : "ceritakan, aku ingin mendengarnya..."

p : "kamu tahu betapa aku sungguh-sungguh mencintai kamu..."

w : "ya. tak perlu kamu katakan itu, aku tak pernah sekalipun meragukannya..."

p : "sempat terpikir olehku tuk mencari seseorang yang bisa menggantikan tempatmu di hatiku..."

w : "lalu...?!"

p : "tak ada yang bisa...!!!"

w : "kenapa tak bisa...?!"

p : "perlu waktu yang lama untuk menceritakan kisah kita, terlebih lagi menceritakan arti dirimu buatku..."

w : "aku tahu, aku pun sering kembali ke masa lalu, mengenang masa-masa indah itu..."

p : "ya. tak ada satu pun yang mampu menggantikan dirimu..."

w : "lalu...?!"

p : "aku sempat mengalami depresi dan stress. aku larut dalam obat-obatan penahan rasa sakit, meski aku sendiri tak tahu tentang penyakit yang berdiam di tubuhku ini. aku larut dalam minuman. aku larut dalam kesenangan-kesenangan dan hampir setiap hal yang aku lakukan hanyalah untuk lari dan lari lagi. tapi, semakin kencang aku berlari, hal-hal yang membuatku merasa depresi dan stress itu pun semakin kencang mengejarku..."

w : "lalu...?!"

p : "aku ingin sembuh. aku tak mau seperti itu, setidaknya, aku tak mau kamu tahu dan melihatku dalam keadaan seperti itu..."

w : "apa kamu sudah sembuh sekarang...?!"

p : "ya. beberapa bulan yang lalu aku mengikuti beberapa sesi dengan seorang psikiater kenalanku. Dia benar-benar membantuku mengatasi kecanduanku..."

w : "kamu menyembunyikan ini semua dariku...?!"

p :"aku tak ingin kamu melihatku jatuh...!!!"

w : "kenapa kamu menyimpannya sendiri...?!"

p : "karena aku mencintai kamu...!!!, aku tak ingin kamu terluka melihatku hancur seperti itu...!!!"

w : "karena aku mencintai kamu...!!!, seharusnya aku ada di sampingmu saat kamu jatuh...!!!"

p : "maafkan aku, hanya saja..."

w : "apa...?!"

p : "meskipun kamu tahu, kamu tak akan ada di samping aku..."

w : "maafkan aku..."

p : "bukan salahmu..."

w : "lalu, setelah itu...?!"

p : "setelah itu, aku berusaha lagi mencari seseorang tuk menggantikan dirimu..."

w : "lalu...?!"

p : "tetap saja tak ada yang bisa menggantikanmu..."

w : "kenapa...?!"

p : "aku tak ingin merasa terpaksa mencintai seseorang. buatku itu adalah perbuatan terhina yang pernah ada, apapun alasannya..."

w : "kamu mengatai aku hina...?!"

p : "buatku, bila aku tetap tak bisa menemukan seseorang yang bisa menggantikan dirimu, aku akan tetap sendiri..."

w : "tak peduli apa yang orang-orang bilang...?!"

p : "aku tak pernah peduli dengan omongan mereka. mereka boleh mengatai aku macam-macam. buatku itu bukan sebuah masalah..."

w : "kenapa...?!"

p : "karena mereka tak tahu rasanya. mereka tak mengerti tentang perasaanku. mereka tak mengerti tentang cinta, cinta buat mereka adalah memiliki, jika mereka tak dapat memiliki, maka itu bukanlah cinta.buatku ; cinta lebih dari itu. dan lagi, mereka tak tahu arti dirimu buatku. lagipula, mungkin mereka tak pernah benar-benar mengenal siapa kita ; aku dan kamu..."

w : "tambah lama tambah dalam perasaanku ini buatmu. terus mengalir, tak bisa habis, tak pernah surut.."

p : "aku pun sama sepertimu..."

w : "untuk tahu ada seseorang yang selalu memikirkanku, merindukanku, selalu berdoa untukku, mencintaiku dari awal cinta itu lahir hingga detik ini, demi Tuhan, aku tak ingin menggantinya dengan apapun juga...!!!"

p : "aku tak akan bergeming sampai seseorang hadir dan membuatku bergeming, meski aku tak pernah menginginkan seseorang datang tuk membuatku bergeming..."

w : "kamu punya cintaku yang utuh dan tak terbagi, meski kamu tak bisa memiliki aku..."

p : "dan kamu masih memiliki aku dari sejak awal cinta itu lahir hingga detik ini...."

This is it...!!!, My 400th Note...!!! ^^

Rasanya baru kemarin gw nulis di Note gw yang ke 300, sekarang udah note yang ke 400.

Beberapa note ada yang copy paste dari sebuah forum, web, atau blog. Beberapa yang lain adalah adaptasi atau gubahan dari forum, web, atau blog yang gw tulis ulang dengan "GAYA" gw.

Sebagian besar Note ini adalah tulisan2 gw sendiri. Sebagian besar Note gw bercirikan "KOMEDI, KEDODOLAN, KEANEHAN, DAN KELUCUAN-KELUCUAN YANG TERKADANG MUSTAHIL".

Beberapa dari cerita2 gw ini berasal dari kisah nyata yang pernah terjadi dengan PE-LEBAY-AN disana-sini tentunya. Beberapa dari "CURI DENGAR". Beberapa dari "KHAYALAN" yang kalo bahasa gaulnya sekarang adalah "BENGONG".

Untuk orang2 di sekitar gw yang telah menjadi sumber inspirasi dan menjadi tokoh dalam Note2 gw ini. Gw ucapkan terima kasih. Terlepas dari penting atau tidaknya tulisan2 gw. Jujur aja, gw gak begitu memikirkan anggapan orang2 tentang Note gw. Dan akhirnya, gw pun gak memikirkan anggapan orang2 tentang gw.

Di bilang SINTING...?!, boleh...!!!

Di bilang ANEH...?!, monggo...!!!

Di bilang GILA...?!, silahkan...!!!

Dibilang CERDAS...?!, okay...itu keterlaluan...!!! LoL

Dibilang GAK PENTING...?!, dunia akan terus berputar tanpa gw...!!!, kehidupan akan terus berjalan tanpa gw...!!!, atau mungkin tanpa beberapa dari kalian...!!!

Dibilang GANTENG...?!, itu fitnah...!!! LoL

Silahkan berkomentar apa saja, ini dunia yang bebas dengan manusia2 yang memiliki kehendak bebas di dalamnya.

Gw selalu diingatkan oleh sebuah lirik dari lagu yang membuat gw gak terlalu mikirin tentang komentar orang ;

"...And I don't want the world to see me,

Cause I don't think that they'd understand.

When everything's made to be broken,

I just want you to know who I am....."

[GOO GOO DOLS - IRIS]



percakapan berikut terjadi dengan si LADY IN RED.

dia : "kamu senang membuat orang tertawa rupanya...?!"

gw ngangguk2.

dia: "kenapa...?!"

gw: "laughter is the medicine of life, del..."

dia: "tapi, kamu koq gak ketawa pas bikin note yang buat orang2 ketawa...?!"

gw: " I have my own medicine, del..."

dia :"aku rasa aku tahu...orange float kan...?!"

gw ngangguk2.

dia: "gak heran sih, kamu bisa bikin cerita bersambung banyak banget yang ngebahas tentang dia atau terinspirasi dari dia..."

gw: "mengalir aja sih nulisnya, aku juga gak ngerti kenapa..."

dia: "hmm...seharusnya kamu berada dengan dia sekarang, bukannya sama aku..."

gw: "kenapa harus gitu...?!"

dia: "entahlah...hanya saja, kamu yang berada terus dalam bayang2 dia itu gak enak banget buat aku..."

gw gak bisa menjawab. gw cuma bisa diam.




"...don't waste your time on me,

you're already the voice inside my head..."

[BLINK 182 - I MISS U]





So, ternyata masih sulit untuk menghapus bayangan dirinya dari kehidupan gw. Dan rasanya tidak adil bila ada seseorang yang menyayangi kita, tapi kita tak bisa membalasnya. I'm sorry, Del.

Beberapa hari yang lalu gw ngobrol2 dengan si MESSENGER antara gw dan si Ms.Orange Float.

gw : "I think I should move on..."

mess : "with who...?!"

gw : "someone..."

mess : "you like her...?!"

gw: "yup..."

mess : "you love her...?!"

gw; "I don't know for sure, but I'll try..."

mess : "and your feeling to my friend...?!" *Mess Friend = Ms.Orange Float*

gw: "i'm going to kill it..."

mess : "serius loe...?!"

gw: "yup...!!!"

mess : "dia akan sedih sekali...dan loe pasti tahu itu..."

gw: "iya, gw tahu..."

mess : "but it's your choice..."

gw: "I have choose..."

mess : "should I tell her...?!"

gw: "ya...you tell her...she will understand..."

mess : "off course she will understand...after all, there is no woman can understand you except her..."

gw : "you tell her...tell her everything...everything that she want to listen...everything that she want to know..."

mess : "okay..."

gw : "thank you..."



Jadi, inilah note ke-400 itu. Saat gw semakin detach dari realitas, keyakinan, dan kehidupan.

Saat gw bingung harus memilih untuk tetap normal atau menjadi gay saja. LoL

Semuanya terjadi untuk beberapa alasan dan maksud, tapi gw gak lagi peduli.

Hujan tak pernah berhenti, hujan itu semakin besar dan semakin deras. Tak pernah berhenti.


"...He's a stranger to some

And a vision to none

He can never get enough

Get enough of the one.

For a fortune he'd quit

But it's hard to admit

How it ends and begins

On his face is a map of the world.

From yesterday, it's coming!

From yesterday, the fear!

From yesterday, it calls him

But he doesn't want to read the message here..."

[30 Seconds To Mars - From Yesterday]


Enjoy my next note...semoga masih bisa nyampe note ke 500...dan semoga gw gak semakin diliputi kemalasan *ngetik itu capek ternyata...hehehe*, dan semoga masih di publish di FB, bukannya nebeng di Blog Temen *ngarep dot com* hehehehe...


Okay....SUICIDE SEASONS IS COMING.....!!!, HERE I COME.....!!!

Kamis, 29 Oktober 2009

[Topeng Retak]

Beberapa orang asing yang datang padaku, kemudian akrab dan hangat, lalu kemudian menjadi asing kembali. Beberapa orang asing yang datang, kemudian menjadi akrab, dan seterusnya akrab, tak bisa menjadi asing.
Pernah terpikir di kepalaku ; mengapa beberapa orang menjadi asing dan mengapa beberapa orang lagi bisa untuk terus akrab ?!.

Apakah karena perbedaan…?!,
Atau karena rasa benci…?!,
Atau karena kepercayaan yang dikhianati..?!,
Atau mungkin karena cinta yang disakiti…?!,
Mungkin juga karena rasa sayang yang tak bisa tuk dilampiaskan…?!,
Atau karena apa..?!.

Perasaan kehilangan memang selalu menyesakkan hati. Apapun jenis kehilangan itu.
Aku pernah kehilangan seorang ayah, lalu kehilangan cinta sejati, lalu kehilangan teman-teman. Beberapa terjadi karena takdir, beberapa terjadi karena aku dan mereka kalah oleh keadaan.
Lalu aku sempat berpikir ; kehilangan macam apa lagi yang akan terjadi..?!, aku menerka-nerka dan menebak-nebak.

“kita tidak pernah menanamkan apa-apa, kita tidak akan kehilangan apa-apa…”, kata dari SOE HOEK GIE yang terus terngiang di pikiran ku.
Perasaan takut untuk kehilangan lagi itu semakin menjadi-jadi. Bahkan bisa dibilang aku menjadi sedikit paranoid. Terkadang aku menjadi takut tuk kehilangan, namun di sisi lain, aku berpikir ; ya sudahlah, kalau memang harus kehilangan, silahkan…!!!. Ini memang semacam paranoid yang aneh. Ya, aku memang aneh.

Beberapa teman-teman terbaikku, orang-orang terbaik yang pernah kukenal hilang satu-persatu. Seperti yang sudah kubilang tadi, sebagian hilang karena takdir, sebagian hilang lewat proses pertengkaran, saling mendiamkan, dan kemudian menjadi asing kembali. Adakah yang salah…?!, siapa yang harus dipersalahkan.
Aku ingat masa-masa kuliah dulu, aku senang sekali memakai T-SHIRT yang bertuliskan kata-kata “I WON’T GROW UP…!!!”. Beberapa teman menertawakanku, tapi buatku tak apa karena mereka tak tahu rasanya menjadi dewasa. Menjadi dewasa yang sebenarnya. Untuk tahu dan paham mengenai diri sendiri dan sekitarnya, itulah kedewasaan. Setidaknya, buatku, ya seperti itu.

Lalu saya membuka sebuah buku yang sempat dibaca oleh almarhum ayah saya. Buku terakhir yang beliau baca sebelum meninggal. Ada kata-kata yang menarik ; kehidupan adalah kehilangan dan perolehan.

Buatku, kalimat itu bermakna seperti ini ;
Seseorang tidak akan pernah tahu rasanya kehilangan sebelum ia mengalaminya sendiri. Beberapa kehilangan membuat seseorang memperoleh sesuatu dari kehilangan tersebut, apapun itu. Kehilangan yang seseorang alami akan mendapatkan ganti, ia akan bertemu hal-hal yang baru, suasana baru, bahkan orang-orang baru, terlepas apakah ia akan kehilangan orang-orang baru itu lagi dan menjadi asing, atau orang-orang baru itu tetap akrab dan tak menjadi asing.

Kehilangan seseorang yang berarti buatku rasanya seperti mau mati saja. Terlebih karena pertengkaran, sakit hati, pengkhianatan, iri hati, kesombongan, lingkungan, dan perbedaan. Pertanyan-pertanyaan tentang siapa, apa, dan bagaimana yang menyebabkan seseorang itu pergi selalu membisiki pikiranku.

“kamu dan aku pernah berusaha. Ya, kita sudah berusaha sekuat tenaga, dan sebentar lagi kita akan menyerah. Jangan pernah berkata bahwa kita tidak pernah melakukan apa-apa. Kita sudah berusaha semampu kita. Lewat tawa, tangis, emosi, kemarahan, kesedihan, dan sebuah harapan dari apa yang kita berdua rasakan, kita berdua sekarang berdiri di depan pintu perpisahan. Bila kita menjadi asing, ingatlah ini baik-baik ; bukan kita yang menginginkan hal itu terjadi, tapi keadaanlah yang membuat hal itu terjadi. Kita, kamu dan aku kalah oleh keadaan, tapi, setidaknya kita sudah berusaha, meski pada akhirnya kita berdua kalah dan menyerah…”

Aku masih ingat kata-kata itu meluncur dari bibirnya yang bergetar. Matanya yang berkaca-kaca menahan air mata namun percuma, jemarinya yang menyeka air mata di pipinya. Aku masih ingat dengan jelas adegan di sebuah senja yang murung itu.

Berapa banyak air mata yang tumpah saat seseorang menahan dan berusaha untuk tidak kehilangan orang-orang yang disayanginya..?!. Dan saat kehilangan itu terjadi, berapa banyak air mata lagi yang harus tumpah…?!. Atau mungkin seseorang bisa tertawa sampai terbahak barangkali saat mengalaminya..?!, adakah yang pernah…?!.

Aku pernah bertanya pada ibuku ; “di kitab suci ada tercatat, apa yang dia tanam, itu yang dia tuai. Tapi, mengapa kita menuai apa yang kita tidak tanam..?!”
Ibuku menjawab dengan tenang ; “itu artinya, Tuhan sedang menguji kita…”

Aku tidak pernah menanam angin, mengapa aku menuai badai…?!, ohh…rupanya Tuhan sedang mengujiku. Baiklah, aku jalani saja ujian dari Tuhan semampuku. Dan aku pun tidak tahu apakah aku akan lulus ujian atau tidak. Terkadang aku tak lagi perduli.

Dalam hidup di saat sekarang ini, dimana pengkotak-kotakkan terasa seperti pagar besi. Dimana keterasingan seperti kawat berduri yang akan mengoyakkan kulit dan daging siapa saja yang berusaha melewatinya. Dimana – isme-isme seperti dinding yang dingin dan kokoh. Dimana ketidakwajaran dianggap sebagai sebuah kewajaran dan kita berikan pemaafan padanya setinggi-tingginya dan sedalam-dalamnya. Dimana kehidupan tak lagi berbentuk dan menjadi absurd. Dimana pikiran dan bukannya perasaan seseorang yang menjadi pencetus pada setiap gerak dan tingkah laku. Dimana apa yang akan kita peroleh menjadi lebih penting dari apa yang sudah kita milki. Dimana cinta dan kasih sayang tak lagi universal dan murni. Aku hanya ingin berada dekat dengan orang-orang tersayang. Memeluk mereka utuh tanpa perlu tuk memperdebatkan point-point perbedaan diantara kami. Aku hanya ingin mengerti dan memahami mereka seutuhnya. Terlebih lagi, aku ingin mengerti dan memahami mengenai semua hal yang telah terjadi padaku akhir-akhir ini.

Karena semuanya terasa menyakitkan. Aku tak lagi bisa menikmati hidup. Meski kutahu bahwa hidup itu cuma sekali, hanya saja aku tak bisa untuk belajar menikmatinya. Karena semuanya terasa menyakitkan.

Mati muda.

D.I.S.T.O.R.S.I

Kedua mata sandy sibuk mengawasi citra dari pinggir kolam renang, sambil sesekali melihat ke orang2 yang juga sedang berenang di kolam renang sebuah hotel di Ancol ini.

Semilir angin sepoi di sore yang teduh ini menyibak rambut sandy. Mulut sandy berulangkali menarik dan menghembuskan asap rokok. Angin sepoi membawa lari asap tersebut lalu kemudian hilang.

“kamu gak berenang, san…?!”, Tanya citra yang sudah duduk di sebelah sandy.

“sebentar lagi, aku lagi nunggu temen aku..”, jawab sandy sambil menikmati rokoknya.

“siapa…?!”, Tanya citra sambil mengambil orange jus di meja.

“Chandra…”

“ohh…”

“janjian jam berapa…?!”

“harusnya sih dia udah datang, mungkin kena macet…”, jawab sandy sambil mematikan rokoknya.

“ohh…”

“kamu seperti orang bingung, san…?!, ada apa…?!”, selidik citra.

“gak ada apa2 koq, cit…”, jawab sandy sambil tersenyum.

“hm…baguslah kalo begitu…”

Mata sandy menatap seorang pria yang sedang berjalan kearahnya. Chandra.

“lanjutin sana berenangnya, nanti aku nyusul…”, ujar sandy sambil membelai rambut citra.

“iya…”, sahut citra sambil berjalan meninggalkan sandy dan masuk ke kolam renang lagi.

“halo, san…”, sapa Chandra.

“Duduk, chan…”

Kedua pria itu berjabat tangan.

“citra mana…?!”, Tanya Chandra sambil mengambil buku menu, melihat-lihat minuman yang akan dia pesan.

“lagi berenang. Tuh…!!!”, jawab sandy sambil menunjuk ke arah citra yang sedang berenang di kolam renang.

Chandra memesan minuman. Sandy menyalakan rokok lagi. Chandra pun demikian.

“ada cerita apa…?!”, Tanya sandy sambil mengepulkan asap rokok.

“gw kemarin lusa ketemu dia…”, jawab Chandra.

“apa dia baik2 aja…?!, dia sehat2 saja kan…?!”, Tanya sandy sambil menaruh korek api ke meja.

Chandra mengangguk.

“Hanya saja…”, Chandra tak melanjutkan lagi kata2nya.

“hanya saja apa..?!”, Tanya sandy sambil mengubah posisi duduknya.

“umh…dia sepertinya sedang bingung, seperti sedang menyimpan masalah. Gw menangkapnya seperti itu. Semoga gw salah…”, jawab Chandra.

“oh ya..?!, kenapa gak loe cari tau…?!”

“Udah gw coba memancing-mancing dia buat cerita, tapi hasilnya nihil. Nol…”

“selain itu, ada apalagi…?!”

“dia bilang, dia mau pindah rumah. Rumah barunya nanti deket rumah orang tuanya…”

“ohh…”

Sandy terdiam. Chandra mengetuk-ngetukkan rokoknya di asbak. Beberapa abu rokok jatuh.

Sandy meraih HP miliknya yang tergeletak di meja. Tangannya sibuk menekan tombol2 di HP.

“nelfon siapa, san…?!”

“nelfon dia…”

“loe kan udah janji sama dia, selama dia gak nelfon loe, loe jangan nelfon dia. Keadaan loe dan dia sekarang udah jauh berbeda, gak kayak dulu lagi…!!!”

Sandy tak menjawab.

“ahh…!!!, dialihkan lagi….!!!”, ujar sandy sambil mematikan rokoknya.

Dicobanya lagi menelfon. Hasilnya sama ; dialihkan.

Terus dicobanya menelfon. Hasilnya tetap sama.

“masa sih, gak ada bayangan sama sekali dia kenapa…?!”, ujar sandy ketus.

“menurut loe, dia kenapa…?!”, sahut Chandra tak kalah ketus.

“dia memang seperti itu, gak mau cerita kalo gak di paksa…!!!”

“gw udah coba waktu itu. Maaf…”

Sandy menggaruk-garuk kepalanya. Diambilnya lagi sebatang rokok, lalu dinyalakannya.

“semua tentang dia selalu bikin loe seperti ini ya, san…?!”, Tanya Chandra sambil tersenyum.

“loe tahu alasannya kan…?!, apa perlu gw jawab untuk lebih menegaskan perasaan gw ke dia…?!”

“lalu citra…?!, bagaimana…?!”

“gw sayang sama citra, memangnya kenapa…?!”

“loe sayang citra, tapi di hati loe Cuma ada dia. Iya kan…?!”

“memangnya kenapa…?!, gak boleh…?!”

Chandra tersenyum.

“gw sayang sama citra. Gw juga memperlakukan citra dengan baik. Gw sama citra udah mau 3 tahun, gak mungkin kan waktu yang selama itu bakal terjadi kalo gw gak memperlakukan dia dengan baik..?!”, ujar sandy mnjelaskan.

“ya…!!!, selama itu pula loe ngebohongin dia…!!!, perasaan loe Cuma buat dia, bukan ke citra…!!!”

“tau apa loe tentang perasaan gw…?!”

“sayang loe ke citra itu palsu. Perlakuan loe ke citra itu palsu. Loe pake topeng ke citra, dan juga cewek2 yang pernah deket sama loe. Sementara dengan dia, loe gak pake topeng, loe apa adanya. Itu gak adil…!!!”

“gw memang pake topeng ke semua cewek yang deket sama gw setelah dia pergi. Gw mengakui itu. Tapi, gw gak merugikan mereka, gw gak menyakiti mereka, gw sayang sama mereka, gw memperlakukan mereka dengan baik. Gw memperlakukan dan menyayangi mereka seperti yang mereka inginkan…!!!”

“karena mereka gak tau, san…!!!. Mereka gak tau…!!!”

“sudahlah…!!!, loe kan Cuma pembawa pesan…!!!, gak usah komentarin gw…!!!”

Chandra tersenyum, sambil menarik nafas panjang.

“apa yang ada di pikiran loe…?!”, Tanya Chandra sambil meminum lemon tea.

“dia. Dia sedang apa…?!, apa yang dia pikirkan…?!, apa yang jadi masalahnya sekarang…?!, apakah dia baik2 saja…?!”,jawab sandy sambil mengalihkan pandangan matanya ke lautan lepas.

“tanamkan pikiran ini san ; dia baik2 aja, dia bahagia, dan dia menikmati hidupnya…”

“gw gak akan berfikir hal semacam itu, kecuali gw denger itu langsung dari dia. Sugesti model begitu gak pernah ada di kamus gw…”

“kalo loe berpikir seperti tadi, kapan loe akan berpikir untuk mulai membuka pintu hati loe…?!, membuka pintu hati loe buat citra…?!”

“hahahaaa…”

“kenapa tertawa…?!”

“gw ini kayak planet saturnus. Dia ada di dalam gw, di dalam planet inti, sementara citra dan yang lainnya hanya berada di cincinnya, berada di sekeliling planet inti. Tak bisa lebih dari itu…”

“itu gak adil buat citra…!!!”

“tau apa loe tentang keadilan…?!, dia direnggut paksa dari gw dan harus hidup dengan orang asing, orang yang gak begitu dia kenal. Apa itu adil buat dia…?!, adilkah itu buat gw…?!”

Chandra terdiam.

“loe Cuma pembawa pesan…!!!, gak usah banyak komentar…!!!, you’re just the messenger…!!!”

“hai…”, suara citra membuat obrolan mereka terhenti.

“hai, citra…”,sahut Chandra sambil tersenyum.

“koq belum turun juga ke kolam renang…?!”, Tanya citra sambil membelai rambut sandy.

“nanti ya, aku lagi ngobrol sama Chandra…”

“ngobrolin apa…?!, kayaknya seru banget…?!”

“ngobrolin kerjaan…”

“ayo dong, temenin aku berenang….sekarang…”, ujar citra sambil menarik tangan sandy.

“nanti ya, cit…sebentar lagi. Kamu lanjutin aja berenangnya, sebentar lagi aku turun kok…”, ujar sandy sambil tersenyum.

“bener ya..?!, sebentar lagi ya…?!”

“iya…aku janji, udah sana, lanjutin lagi berenangnya…”, jawab sandy sambil tersenyum dan mencubit pipi citra.

“chan, gw tinggal ya…”, ujar citra sambil meninggalkan mereka.

Chandra mengangguk sambil tersenyum.

“itu yang gw bilang palsu…!!!, yang barusan itu…!!!, loe bisa dengan tenangnya ngelakuin itu. Benar2 gak ada perasaan bersalah sama sekali…!!!, gila loe…!!!”, ujar Chandra.

“loe benar. Tak ada perasaan sama sekali. Cuma topeng. Palsu. Fake. Dengan topeng ini gw jauh merasa lebih baik, lantas kenapa…?!”

“kalo loe sendiri yang jadi citra bagamana…?!”, Tanya Chandra.

“hahahaa…itu bukan pertanyaan. Ini baru pertanyaan ; gimana kalo cewek loe nge-fake perasaannya ke loe…?!”

Chandra terdiam.

“apakah loe tau…?!, darimana loe bisa tau…?!, gimana caranya loe bisa tau…?!”

Chandra masih terdiam. Taapannya kosong. Kepalanya memikirkan sesuatu.

“gimana kalo ternyata semua pasangan kita nge-fake perasaannya ke kita..?!, bohong tentang perasaannya yang paling dalam…?!, di hati mereka hanya ada orang lain, gak ada kita di dalam hati mereka. Gimana…?!”

“menurut loe gimana…?!”, Tanya Chandra. Suranya bergetar kesakitan.

“gw gak tau…!!!, karena di hati gw hanya ada dia, dan di hati dia hanya ada gw. Jadi, gw gak tau gimana rasanya. Maaf…!!!”

Chandra terdiam. Diambilnya sebatang rokok dengan tergesa lalu menyalakannya.

“gw tau apa yang loe pikirkan, chan…”

“apa…?!”

“cewek loe bukan…?!”

“entahlah….”

“loe pasti berpikir ini ; gimana kalo selama ini cewek loe nge-fake perasaannya ke elo…?!, iya kan..?!”

“menurut loe, san…?!”

“gw gak tau…!!!, kan udah gw bilang tadi, gw gak tau rasanya. Gw gak tau, chan….”

“pasti sakit ya…?!”

“gw gak tau…sekali gw bilang, gw gak tau rasanya…”

Chandra tak lagi mampu berkata-kata.

“loe Cuma pembawa pesan, chan. Loe gak perlu ikut masuk ke dalam pusaran ini. Loe harus menjaga perasaaan loe dari pesan yang gw dan dia sampaikan buat loe. You’re just the messenger…!!!, pembawa pesan tak perlu melibatkan perasaannya terhadap isi pesan yang akan dia bawa dan sampaikan. Itu hanya akan menggerogoti dirinya sendiri…!!!”

“entahlah, san…di satu sisi, loe dan dia begitu saling menyayangi. di sisi lain, kalian sedang menyakiti orang2 di sekitar kalian. Aneh dan rumit sekaligus. Gw bingung….”

“tanamkan ini dalam pikiran loe ; loe gak akan tersakiti, kalo loe gak membawa perasaan ke dalam hal2 yang bisa membuat loe tersakiti…!!!”

“setiap orang punya perasaan, san…!!!. Bagaimana mungkin…?!”

“maka pakailah topeng…!!!”

Chandra terdiam. Sandy berjalan menuju kolam renang, menghampiri citra. Citra tertawa, citra senang, citra bahagia karena memiliki sandy. Citra tak pernah tahu, pria yang ia cintai adalah seorang pria yang memakai topeng. Palsu. Bohong. Kosong. Di hatinya hanya ada dia, bukan citra.

Tapi sampai kapan…?!

Minggu, 24 Mei 2009

anxietas akut

Pria itu terbangun dari tidur yang tak pernah bisa lelap, selalu kurang oleh kecemasan-kecemasan tentang masa depan, juga penyesalan – penyesalan dari masa lalu miliknya.
Terbangun di pagi yang telah beranjak siang, sebentar melamun, seolah bingung harus apa, seperti baru mengalami pengalaman bangun tidur, lantas meloncat ke halaman.
Ditantangnya langit lewat tatapan matanya yang kosong, bergumam tentang gejolak di jiwa rapuh miliknya yang tak mampu ia sangkal.

Untuk terus bertahan hidup adalah ide klasik yang bulat-bulat ia telan dan muntahkan, ia haus pengalaman-pengalaman baru, hal-hal baru, terlebih lagi sesuatu yang menarik buat otaknya cerna, ia lapar akan ide-ide segar setiap harinya...

Matanya bergerak aktif di setiap detik, memperhatikan hampir semua titik tangkap, terduduk bosan bersama lelah di bangku kuliah, jemu dengan semua diktat-diktat kuliah, teman-teman yang acuh tak acuh, kadang ia bingung pada tempat dirinya berkawan, coba tuk pahami namun terlalu sering sakit hati, ini bukan hidup yang ia inginkan, namun tak kuasa ia tolak, ia jalani terus sampai jenuh, tapi tak jenuh-jenuh juga, ia bingung...

Sejauh ini, hati yang tegar miliknya terlalu sering selamatkan ia dari rasa-rasa yang mungkin telah habisi umurnya, entah ia sadari atau tidak, kurasa ia tak mau peduli, cukuplah ia sekedar tahu bahwa ia masih mampu tuk tuk merasakan hal-hal yang kadang ia sendiri pun enggan tuk rasakan...

Inilah kesaksiannya di waktu malam, menuliskan asanya di kertas-kertas tak bernyawa, tumpahkan egonya di sana, kerinduannya, harapannya, penyesalannya, pengalamannya, terlebih lagi hidupnya, tuk menjadi tugu peringatan untuk dirinya sendiri, semoga semua itu berharga dan tak sia-sia...

Devyandra

We fear what does’nt exist.
I have two choice.
If I don’t wield the sword.
I can’t protect you.
If I keep wielding the sword.
I can’t embrace you.
I’m merely practicing goodbye to you.


Aku tahu ini pasti terdengar gila dan tak masuk akal, bagiku atau siapapun..
Dalam mimpiku, aku memimpikanmu.
Kau berada tepat di belakangku, berdiri dekat denganku. Antara terkejut dan aneh, perlahan aku mulai menikmati mimpi ini, hanya saja aku sedikit merasa ada kejanggalan di balik semua ini.
Waktu itu, kau memelukku dari belakang, erat seperti tidak mau terlepas lagi. Jantungku berdebar sangat keras, sampai-sampai aku bisa mendengarnya sendiri keluar dari dadaku. Sepertinya aku bisa merasakan seluruh perasaanmu saat itu ,mengalir dari kedua lenganmu, menyerbak dari dadamu, karena kau memelukku begitu erat.
Penuh rasa sayang, begitu lembut sampai terasa menyakitkan. Lenganmu yang melingkari bahu kecilku, melindungiku dari setiap kenyataan kejam dari dunia ini. Dari kata-kata yang bertujuan untuk menyakitiku.
Aku merasakan jemari menyusuri rambutku, menyentuh telingaku, membelai pipiku dengan sentuhan yang kupikir tak akan pernah kurasakan seumur hidupku.
Aku menggengam lenganmu, menutup kedua mataku, sebisa mungkin aku ingin jadikan ini kenyataan, kenyataan yang selalu lari dariku
Kau tak pergi menjauhiku, tetap berada bersamaku, meskipun banyak orang yang memperhatikan, seolah kau tak pernah peduli dengan mereka.
Aku ingin dunia berakhir di sini, saat ini juga, meskipun aku tak akan pernah bisa membuka mataku kembali sekalipun.
Saat ini, hanya ingin waktu ini milikku, hanya untukku seorang, karena aku tak pernah ingin membagimu untuk orang lain.
Aku tak akan bersikap naif dengan berpura-pura tidak suka. Hanya saja ini memang terasa aneh bagiku. Terlebih bagimu. Bagi siapapun.
Namun, aku tahu saat aku harus membuka mataku, kau akan menguap lenyap meninggalkan tempat kosong yang hanya cukup diisi oleh misteri-misteri tentang kehidupan, ketakutan, kekosongan, dan kekecewaan, terlebih lagi kekalutan pikiranku yang makin menjadi. Aku tak peduli, aku hanya ingin dirimu.

Aku memangil namamu dengan jiwaku, tanpa terdengar, tanpa terasa..
“Hmm..” kau menjawabku, dengan suara hangat yang lambat laun semakin kurindukan. Dalam satu pengucapan yang perlahan, meninggalkan satu perasaan yang tak terkatakan pada kulitku, pada jiwaku. Aku merasa bahwa kau sedang tersenyum padaku.
Aku sadar bahwa luka hatiku sedang terkoyak,terbuka lebar dan mengeluarkan cairan merah yang pekat dan kental. Perlahan mengalir melalui kedua mataku.
Kumohon tinggalah di sini lebih lama lagi, sebentar lagi. Karena ...
Dalam mimpiku, kau adalah milikku satu-satunya, dan aku adalah milikmu satu-satunya…
Sekali lagi aku akan merasa terluka lebih dalam lagi. Tak akan ada lagi yang membantuku keluar dari semua ini.
Aku ingin memelukmu dengan seluruh tenaga yang ada, aku ingin melindungimu dalam pelukanku sepenuh jiwaku, aku berani bertaruh nyawa untukmu.
Tapi tetap saja, semuanya ini seperti jalan buntu. Tak ada persimpangan untuk sekedar membantuku memilih. Tak ada.

Kita seperti berdiri di tengah jurang, jalan apapun tampak sama saja, berujung pada kematian.
Berdoa pun sepertinya menjadi hal yang percuma kulakukan. Aku mencarimu di setiap sudut kehidupanku, namun tetap nihil. Hanya sisa-sisa kenanganku bersamamu.
Tak ada yang bisa kulakukan untuk mendapatkanmu, di sisiku, bersamaku.
Baik itu dalam masa lalu, masa ini maupun masa depan. Aku tak bisa melihatmu di kehidupanku yang akan datang.
Kurasa itulah akhir dari semuanya, aku akan terus berputar pada kebingungan ini.
Sebelum semuanya berubah menjadi air mata
Tak ada cahaya yang menuntunku ke arahmu, meskipun sebersit saja
Berharap pada kebohongan, aku akan terus menderita
Mengenggam kenyataan yang terus menyapu jiwaku pada kehampaan
Apa aku yang membuat segalanya menjadi seperti ini? Tidak, bukan aku ataupun kau.


I want to be a wind…
A wind like a breath..At times.
I want to be the wind that fights against you, the wind that dries your tears
Or the wind that easily your tiredness.
I want to be the wind like that


Aku akan bersiap kehilanganmu lebih dalam lagi, tanpa menoleh ke belakang, berharap masa lalu akan menyembuhkanku. Tidak. Aku tak akan mengijinkanmu.
Akan sulit bagiku melihatmu bahagia, jika itu bukan aku. Bila bukan aku yang membuatmu tersenyum seperti itu. Apa aku tak akan pernah menjadi orang itu?
Setidaknya aku pernah mencoba untuk menyukaimu seperti aku menyukai diriku. Kau satu-satunya orang yang ingin kulindungi sepenuh jiwaku.
Aku tidak akan pernah bersamamu seumur hidupku, kau bukan orang yang ada di ujung benang merahku. Seberapa pun aku berusaha menariknya, aku tak akan menemukanmu.
Kau hanya bisa kutemui lewat mimpi-mimpiku, aku hanya bisa mengejarmu lewat mimpiku
Tidak dalam duniaku, ataupun duniamu yang berlawanan denganku. Aku tak pernah mengerti, dan aku pun tak mau mengerti alas an apapun tentang ini.

Aku akan terus bermimpi, tentang hal yang sama. Terus berulang setiap saat. Semakin dalam dan semakin menjadi. Tentang kau dan aku. Tentang dunia yang kuciptakan.
Aku ingin kau menghilang dari hidupku. Pergilah sejauh mungkin.
Ketempat yang tak bisa kujangkau. Kematian.

Mungkin kau dan aku bukanlah orang yang ditakdirkan untuk berjalan di jalan yang sama. Untuk menyayangimu,…untuk dapat hidup bahagia bersamamu
Harus melewati jalan yang begitu berat. Jalan yang penuh dengan ketidakpastian
Jalan panjang, jalan yang harus kita tempuh. Jalan yang selalu ingin diulang kembali

Kau dan kau mempunyai takdir yang berbeda, saling berhadapan dan tak akan pernah tersatukan. Kau tak akan mengerti apa yang kuinginkan dan begitu pula sebaliknya
Kalau aku mengatakannya, apa kau akan mengerti? Apa kau mau berusaha mengerti aku? Aku sendiri bahkan takut untuk mengatakannya. Aku tak ingin mendengar jawabanmu.
Tapi kalau aku ingin mencobanya, apa kau mau mencobanya juga?
Melewati sebagian waktumu bersama diriku. Melewati sebagian kebahagianmu untuk menerima kesedihanku. Melihat semua kehidupan jiwaku.
Ketika terjadi perselisihan, apa kau mau menyelesaikannya. Saat kau menyadari semuanya, aku ingin melihatmu berlari, mengejarku.
Karena aku tak bisa memberimu banyak hal, tapi aku menjamin akan ada saat sulit maupun saat tersulit nantinya. Bahkan akan ada saat dimana kau dan aku merasa muak dengan segala yang ada. Tapi aku ingin kita berusaha, kita akan keluar dan bertahan dari saat-saat sulit itu.
Kalau kau percaya padaku, kalau kau yakin, aku pasti bisa melakukannya.


When I’m ailing and I’m tired, and my years are running out,
Can you take away all my doubt? Can you love me? Will you stay forever by my side?


Aku tak berharap banyak, karena sepertinya tak akan ada harapan yang tersisa. Semuanya akan berjalan seperti bagaimana seharusnya. Tak akan ada yang salah.
Tak ada cerita tentang aku, tentang kau, tentang kita baik di masa depanku maupun dirimu. Semuanya akan terlupakan seiring berjalannya waktu. Secepat angin berhembus. Secepat musim berganti.
Semuanya akan kembali seperti semula, seolah tak pernah terjadi apapun. Seolah tak ada yang akan tersakiti. Seolah tak ada yang merasa kehilangan…
Semuanya akan terkubur. Semuanya akan terlupakan.
Tidak untukku. Bahkan tidak saat huruf terakhir muncul.

Keajaiban. Aku berharap hal seperti itu ada. Terjadi padaku.
Keajaiban yang membawaku melebihi langit. Melewati batasan mimpi.
Keajaiban yang melewati batas keajaiban itu sendiri. Keajaiban yang membawamu padaku
Keajaiban yang bisa kugenggam.


What kind of memories do I have to search
For that will reach into my heart?
I want to at least remember your gentle words


Lagi-lagi aku bermimpi. Mimpi yang sama. Tentang aku. Tentang kau. Tentang kita.
Aku tak mengerti harus menyebut apa mimpi ini. Mimpi indah atau mimpi buruk.
Memburuku setiap malam. Seperti kutukan.
Kau duduk di sampingku, berada dekat denganku, memandang langit sore dan aku dapat menyentuhmu. Menatap lurus kedua matamu. Aku tahu kau sedang tidak berbohong padaku.
Tidak berbuat apapun. Terdiam, sepi. Tapi aku tak merasa aneh. Aku menyukainya.
Aku menoleh, melihatmu. Ketika kau menyadarinya, kau hanya mengangkat alismu dan tersenyum. Aku pun tersenyum kecil. Senyum rahasiaku.
Tak lama aku mendengarmu mengucapkan kata-kata yang selalu ingin kudengar.
“ Aku akan berada di sini untukmu, aku tak akan pergi. Kau tak perlu khawatir”.
Kau seperti menyadari apa yang kurasakan dalam jiwaku. Entahlah, aku merasa ada ketulusan dan kejujuran keluar dari senyummu. Dan itu membuatku nyaman.
“ Aku tak tahu sampai kapan waktuku berada di sini ”.
“ Aku juga tak tahu, tapi sampai dunia ataupun langit memanggilmu, sampai saat itu tiba aku akan menemanimu. Aku akan berada di sampingmu. Kau percaya padaku, kan”.
Aku tertunduk dan mengucapkan, “ Terima kasih”.
Kau mengulurkan tanganmu. Perlahan aku menyambut uluran itu. Memelukku.
Setengah berbisik, kau berkata, “ Jika waktu yang tersisa sedikit lagi, jangan berpikir lagi. Jangan menghitung. Tetaplah seperti ini “.
Aku menjawab dengan anggukan kecil.
Angin sangat bersahabat saat itu. Mengeringkan air mataku yang hampir menetes. Aku tahu tidak banyak yang bisa kulakukan. Tapi untuk saat ini aku tak ingin apapun.
Aku menutup mataku. Tidak berpikir apapun. Setidaknya inilah hal terakhir yang ingin kulakukan. Mendengar suara detak jantungmu.
Masih banyak yang ingin kukatakan. Masih banyak yang ingin kulakukan. Masih banyak cerita yang ingin kudengar darimu.

Tak ada jalan untukku. Tak ada cara mencegahnya. Semua hanya mimpi. Mimpi buruk.
Karena aku akan terluka saat terbangun. Luka hatiku akan semakin terkoyak.
Meninggalkan kembali ruang kosong, yang hanya cukup di isi dengan kekecewaan, kepedihan dan keputusasaan.
Aku tak akan mengerti. Begitu juga kau. Pada akhirnya tak akan ada yang mengerti. Karena aku sunguh tak ingin mengerti. Aku tak ingin terluka lebih dalam lagi.
Jika kau bukan untukku. Jika aku bukan untukmu. Tak ada yang harus kumengerti.

Apa yang harus kukatakan. Menyesal. Mengumpat dan mencaci. Mengeluh.
Tak bisa. Tidak bisa keluar sedikit pun. Aku menerima ini dengan seluruh jiwaku. Tanpa keraguan sedikit pun. Aku menyadarinya ini tak akan terjadi. Padaku.
Aku menjalani hidupku. Seperti yang harus kujalani. Menyibukkan diriku, tanpa batas.
Aku tak ingin mengingat semuanya. Aku ingin menghilangkan semuanya.
Tetap saja ada bagian diriku yang tak rela. Sejauh apapun aku melangkah. Aku akan selalu kembali ke satu titik kehidupan masa laluku. Aku tak bisa menghindar.

Jiwaku akan kembali ke saat itu. Sama seperti dulu. Menemukan ketenangan dalam masa lalu. Aku ingin merubah takdirku. Mengeluarkan semua sisi gelapku.
Aku memandang langit malam. Sendirian. Melihat bintang. Aku ingin bertemu denganmu, tapi aku tak bisa terbang ke langit. Aku tak bisa melihatmu dari bawah sini.
Kupikir semuanya tak akan pernah sama. Tak ada hal sama untuk kedua kalinya.


Broken wings
That can’t fly…
What would you do for the rest of life?


Aku selalu merasa waktuku semakin dekat lagi. Aku merasa tidak punya banyak waktu lagi. Saat kelelahan memikirkan itu aku kembali tertidur. Ini bukan mimpiku, ini seperti ilusi alam bawah sadarku. Aku sedang tidak tertidur ataupun terbangun. Tapi aku merasakannya, jelas. Hal yang paling aku sesalkan, aku harus bermimpi. Mungkin tentangmu.
Dua episode yang paling kutakutkan selama rangkaian mimpiku. Aku tak ingin hal ini terjadi. Tidak untuk saat ini. Tapi pasti terjadi.
Saat yang paling kusuka. Berjalan berdua denganmu. Bergandengan tangan, saling mendekatkan diri. Kau berjalan di sampingku. Sepertinya aku sedang berada di taman, karena ada banyak orang berjalan-jalan. Anak-anak kecil yang bermain, berlarian. Warna-warni di sekelilingku. Semuanya tampak begitu menyenangkan untuk disebut sempurna. Sempurna untuk sebuah dongeng.
Entah mengapa, aku merasakan akan ada hal buruk terjadi setelah ini. Aku menguatkan genggaman tanganku. kau menoleh padaku. Seperti biasa, tanpa bicara, hanya mengangkat alis. Kemudian tersenyum kecil.
Entahlah aku merasa gelisah sekali. Jantungku berdebar keras. Seperti akan ada hal buruk.
“ Tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa. Aku tak akan melepaskanmu”.
Kata-katamu sedikit melegakan perasaanku. Aku terdiam. Tapi..
“ Kalaupun hal yang kau takutkan itu terjadi. Aku tak akan melepaskan pegangan tanganku. Aku akan selalu bersamamu. Percayalah “.
Aku menghela napas. Kau selalu bisa menebak apa yang kupikirkan. Tak banyak bicara. Tapi selalu membuatku tenang. Aku ingin merengkuhmu dengan kedua tanganku. Selagi mungkin. Selagi aku bisa.
Entah mengapa, tiba-tiba aku berhenti. Aku berputar ke arahmu. Aku ingin memelukmu. Seperti aku tahu ini adalah yang terakhir kalinya. Seperti tak akan pernah terjadi setelah ini. Seperti tak akan pernah tersampaikan sesudah ini.
Aku memelukmu. Aku tak peduli tentang hal lain. Aku hanya ingin memelukmu. Sekuat tenagaku. Segenap perasaanku. Kumohon, jangan terjadi apa-apa. Kumohon tetaplah seperti ini. Kumohon, aku tak ingin hal-hal aneh itu terjadi.
Sedetik kemudian keadaan berubah. Aku seperti terlempar ke dunia lain. Aku bilang jangan lepaskan tanganmu.
Lalu tiba-tiba aku seperti berada di keramaian orang banyak. Banyak sekali orang yang berjalan melaluiku. Melewatiku. Mendorongku kebelakang.
Tiba-tiba saja pegangan tanganku terlepas. Tidak. Bagaimana ini. Makin banyak saja orang yang berjalan menghalangiku untuk meraih tanganmu.
Kau mengulurkan tangan sambil berusaha menerobos barisan orang-orang itu. Aku tak bisa meraihnya. Aku merasa aku semakin terdorong ke belakang. Kau terlihat semakin jauh dariku.
Aku tak bisa meraih tanganmu. Aku terjatuh.
Apa ini. Inikah yang kukhawatirkan. Aku kehilanganmu.
Aku berlari mencarimu. Kau di mana. Aku terus berlari, berputar-putar. Memanggil namamu. Berulang kali. Sampai suaraku habis. Aku ingin menemukanmu.
Aku bilang jangan lepaskan tanganku. Karena jika hal itu terjadi, aku tahu, pegangan tangan itu tak akan tersambung lagi. Aku tak tahu apa hanya aku yang berpikir seperti ini. Apa aku yang terlalu mengada-ada. Tidak. Ini tidak mungkin benar.
Kau bilang kau tak akan melepaskanku. Aku percaya padamu. Sekarang bukan hanya terlepas, tapi kau pun menghilang.
Kau tak akan meninggalkanku. Aku percaya semua kata-katamu.
Aku benar-benar tak bisa menemukanmu. Putus asa. Menangis. Lelah.
Sedetik kemudian aku tersadar. Aku mendapati diriku sedang menangis. Bodoh.
Aku tak ingin kehilangan dirimu. Meskipun dalam mimpiku. Karena aku benar-benar akan kehilanganm dalam dua duniaku.

Tanpa akhir. Cerita ini akan berjalan tanpa akhir. Seperti dongeng anak-anak.
Tapi tidak dengan akhir yang bahagia. Karena aku tak pernah tahu akhirnya. Aku tidak bisa menentukan akhirnya. Aku tak pernah mau tahu akhirnya.
Harapanku. Ini akan berhenti. Berhenti menyakitiku.
Tak akan ada hal besar yang terjadi. Sekalipun aku menginginkannya. Sekalipun aku tidak menginginkannya juga.
Hari demi hari berlalu dengan perubahan. Sekalipun terlihat sederhana aku tak bisa menyampaikannya. Kata-kata yang ingin kuucapkan selalu kumasukan kembali ke dalam jiwaku.
Kupikir ini bukan saat yang tepat. Tidak ada saat yang tepat.
Bagaimana mengatakannya. Bagaimana agar semua ini hilang. Aku ingin berhenti dari kegilaan ini. Dan berjalan seolah tak terjadi apa-apa.

Semua terulang seperti pertama kali aku melihatmu, aku mengingatnya dengan baik sampai saat ini. Semua kejadian itu tersimpan dengan baik dalam diriku, tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
Aku tidak tahu apa yang menarik darimu. Tanpa ada hal lain di belakangnya. Aku pun tak tahu kenapa aku menyukaimu.
Gaya berpakaianmu saja aku tak bisa bilang bagus. Caramu berjalan pun tidak juga. Model rambutmu saja aku tak pernah suka. Dan aku juga tak suka melihat cara makanmu. Suaramu juga jelek saat bernyanyi.
Mungkin yang kusukai adalah jiwa atau hatimu…atau mungkin caramu berbicara padaku? Pokoknya aku tidak tahu mengapa aku menyukaimu.
Aku memang suka kalau mendengarmu memanggil namaku. Aku suka melihat caramu tersenyum. simpel dan tidak ada kebohongan. Aku juga suka berdebar-debar kalau berada dekat denganmu.
Aku pikir kau begitu sederhana untuk ukuran seorang manusia. Tidak ada hal-hal yang istimewa padamu.
Tapi ada sesuatu di dirimu yang tak bisa kutemukan pada diriku. Sesuatu yang membuatku merasa lengkap. Entahlah, apa yang kulihat darimu. Tapi tetap saja aku menyukaimu.
Aku suka saat kau melihatku. Atau saat kau tersenyum malu. Apa semua itu cukup untuk sebuah alasan untukku menyukaimu. Hal-hal yang sesederhana itukah? Kurasa tidak.
Aku suka melihatmu tertawa. Ketika kau berusaha menghiburku. Ketika kau mencoba untuk membuatku tersenyum. Ketika kau mencoba membuatku tertawa. Itu pun tidak cukup.
Aku pun tidak begitu menyukai beberapa sifatmu. Yang menurutku sangat menyebalkan. Lebih baik kalau kau merubahnya.
Kau juga keras kepala dan pemberontak. Sebenarnya itu pun sifatku. Tapi karena itulah aku tidak bisa menerimanya. Terkadang kau suka bertindak seenaknya. Tanpa memikirkan orang lain di sekelilingmu, yang mungkin saja tidak menyukainya.
Kau ini. Benar-benar tidak bisa di pikirkan dengan akal sehat. Seperti bom waktu yang siap meledak.
Kau tahu. Sifatmu yang seperti itu bisa mendatangkan masalah. Dan aku tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya. Biar saja. Kau yang cari masalah.
Aku takut saat melihatmu marah. Kau terlihat sangat menyeramkan.
Tetap saja aku menyukaimu. Tak ada alasan khusus.
Kau sangat menyebalkan. Kau dan aku sebenarnya mempunyai banyak persamaan. Menyukai hal-hal yang sama. Tapi mengapa kita selalu berbeda pendapat. Aku tak mengerti, terkadang aku benar-benar tak bisa mengerti jalan pikiranmu. Yang kukira tak masuk akal.
Pada akhirnya aku diam. Dan kau pun terdiam. Terkadang selalu berakhir seperti itu.
Tapi seperti yang kukatakan. Aku menemukan sesuatu di dalam dirimu. Sesuatu yang unik dalam dirimu. Sangat spesial. Entah apa ’sesuatu’ itu.

Aku selalu menikmati saat bersamamu. Karena kau tak pernah tahu kapan semuanya akan berakhir. Sebisa mungkin aku ingin berada dekat denganmu.
Aku suka saat melihatmu khawatir karena aku. Kau terlihat lucu. Seperti bukan kau yang biasanya.
Waktu itu aku sedang sakit. Entah ada apa. Lalu sedetik kemudian aku jatuh ke tanah. Rasanya pusing sekali. Sekelilingku berputar dan terlihat buram. Aku mendengar teman-temanku memanggil-manggil namaku.

Lalu aku merasa seperti sedang terbang. Kau sedang menggendongku. Merebahkanku. Meletakkan bantal di bawah kepalaku. Lalu membuatkanku minuman hangat.
Kau memanggil namaku. Menanyakan keadaanku. Wajahmu lucu sekali.
Aku tidak berkata sepatah kata pun. Aku hanya bisa tersenyum.
Rasanya aku ingin tertawa saat itu. Tapi aku tak tega. Kau terlihat sangat cemas.
Kau terus berada di sampingku. Sesekali menanyakan keadaanku. Dan aku bilang, aku baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan.
Lalu kau menyuruhku beristirahat dan mencoba untuk tidur. Kupikir kau akan pergi saat aku tertidur. Tapi kau selalu di sisiku. Menemaniku. Tidak pergi kemana pun.
Tidak ada yang lebih dari itu. Perhatian biasa. Tak ada yang istimewa.
Itu pun bukan alasan yang cukup untuk menyukaimu.
Aku suka melihat wajahmu saat sedang mencariku. Karena aku kecil, jadi aku susah terlihat di tengah kerumunan orang banyak.
Biasanya aku yang selalu melihatmu lebih dahulu. Karena kau tinggi sekali. Dan biasanya aku akan memanggil namamu. Lalu kau menoleh dan menghampiriku.
Terkadang kau bisa bersikap sangat manis dan membuatku merasa sedang di lindungi. Bukan karena kau menganggapku lemah. Tapi karena saat itu memang aku tak bisa berbuat apapun.
Kau sangat spesial untukku. Tapi bagian mana aku tak tahu. Sepertinya kau tak jauh berbeda dengan yang lain. Bahkan ada yang jauh melebihi dirimu. Dalam segala hal mungkin.
Mungkin karena itu. Karena kau tidak sempurna seperti yang kuinginkan. Karena kau mempunyai banyak kekurangan dari semua yang kuinginkan.
Kau bisa bersikap apa adanya. Mengimbangiku yang selalu ingin lebih. Terkadang kau bertingkah konyol. Seperti anak kecil.
Terkadang kau seperti ayahku. Sabar dan penuh pengertian. Seseorang yang selalu membuatku tenang dan merasa terlindungi.
Tapi kau juga bisa seperti ibuku. Terkadang terlalu khawatir dan selalu saja bersikap seolah aku masih anak-anak. Karena aku adalah orang yang kau sayangi maka hal itu wajar. Itu yang selalu kau katakan.
Kau juga terkadang seperti kakakku. Teman yang menyenangkan. Walaupun terkadang menyebalkan.
Kau mempunyai figur orang-orang yang paling kusayangi di dunia ini. Karena itu aku merasa nyaman dan tenang denganmu.
Kau itu. Jarang tersenyum. Terkadang orang lain takut melihatmu. Dan mengatakan kalau kau ini angkuh dan sombong. Aku hanya bisa tertawa mendengarnya. Apa hanya aku yang tahu kalau kau punya senyum yang bagus.
Tapi. Kau itu memang punya senyum yang bagus. Aku tak menyangkalnya.
Entahlah. Aku selalu merasa aman kalau kau ada dekatku. Tapi aku terkadang khawatir dan ragu.
Kau itu, terkadang terlalu baik. Aku takut ada seseorang yang melihatmu seperti aku melihatmu.

Aku ingin percaya padamu. Melebihi apapun yang dapat kupercayai. Tapi aku tak percaya pada diriku. Aku ingin bersamamu melebihi apapun di dunia ini.
Demi waktu. Aku ingin kau menghilang dari hidupku. Kenyataan tak akan pernah sama setelah hari itu. Kenyataan tak akan pernah kembali setelah hari itu.
Aku tahu. Ini terdengar gila dan tak masuk akal. Aku tak peduli. Bagiku, asalkan kau percaya padaku. Itu sudah cukup.
Kau bukan segalanya bagiku. Dan aku pun masih bisa hidup tanpamu. Hanya saja ada bagian yang kosong. Tak lengkap.
Aku masih ingin melihatmu lebih lama lagi. Masih ingin mendengar suaramu lebih lama lagi. Masih banyak yang belum kuketahui tentangmu.
Bukan untukku. Bukan demiku. Tapi untuk meneruskan kehidupanku.
Karena aku tidak bisa mengerti apapun tentang kenyataan ini. Tentang kau dan aku. Tentang cerita yang pernah terjadi. Tentang waktu yang kubagi denganmu. Tentang masa laluku.
Aku pernah bersamamu. Dan aku pernah berbagi denganmu. Tidak banyak. Dan tidak sedikit. Tapi cukup.
Entahlah. Apa yang akan terjadi padaku, bila saat itu aku menemukan orang lain. Bukan dirimu. Mungkin jalan cerita ini akan berbeda sama sekali.
Tak bisa. Aku tak bisa melupakanmu. Segalanya yang membuatku selalu teringat padamu. Selalu hal-hal yang tidak mengenakkan.
Aku menyukaimu. Tak ada alasan khusus. Dengan segala yang ada pada dirimu. Semua yang pernah kau tunjukkan padaku.
Seandainya aku punya lebih banyak waktu denganmu. Seandainya jalan cerita tak seperti ini. Apa kau akan mengerti.
Percuma saja. Meskipun aku bermimpi. Aku tak akan pernah menjadi orang yang akan menemanimu. Sepanjang sisa hidupmu. Itu bukan aku. Dan tak akan pernah menjadi aku.
Tapi aku tak bisa menerimanya. Tidak untuk saat ini.
Aku membayangkan. Bagaimana nanti jika kita bertemu pada satu waktu. Apa yang akan terjadi. Apakah akan terjadi hal buruk atau hal yang baik?
Bagaimana jika ada seseorang yang lain dalam hidupmu. Dan itu bukan aku. Apa yang akan kulakukan. Aku tak bisa. Tak akan bisa.
Aku takut. Takut sekali. Jika semua yang kubayangkan menjadi kenyataan. Tidak akan ada lagi aku, kau, kita. Tapi aku tak bisa melihatmu dalam masa depanku. Sepertinya kau bukan orang yang ada dalam masa depanku. Seberapa pun aku ingin.


I wanna be a sky
Wanna be brightly sky..smiling so gentle
Seems so pure and honestly.


Rasanya seperti telah berjalan jauh saja. Lelah sekali. Aku ingin beristirahat sejenak. Saat itu aku berpikir. Apa mungkin ini kuteruskan. Tanpa ada kepastian kapan akan berakhir. Aku tak tahu bagaimana mengakhirinya.
Seperti beban yang harus kubawa seumur hidupku. Seperti dosa yang yang harus kutanggung selamanya.
Menjauhlah. Karena itu mungkin membuatku lebih baik. Tak ada kata mungkin saat ini.
Aku ingin berjalan di jalan yang kupilih.Tanpa keraguan sedikit pun. Tanpa menoleh ke belakang.
Aku sering berpikir. Apa tak ada kesempatan itu. Tak ada kesempatan untukku, untuk kau bersamaku. Apa itu hal yang sangat mustahil. Sekali saja. Apa tak boleh.
Jika memang benar seperti itu. Lalu apa yang kulakukan. Semuanya tampak sama saja. Tak ada hasil. Tak ada jalan.
Sebenarnya apa ini. Apa artinya semua ini. Menyedihkan dan meyebalkan.
Sepertinya tidak ada cara lain. Aku tidak bisa berusaha lebih. Aku tidak bisa melihat jalan untukku meraihmu. Aku tidak bisa melihat jalan untukku menemukanmu. Aku benar-benar tidak bisa melihatnya.
Tak ada yang bisa kutanyai. Aku tersesat dalam kebingunganku sendiri. Rahasia yang semakin rumit. Mendadak semua ini seperti cermin yang hancur berkeping-keping. Setiap bagiannya menjadi begitu menyakitkan untuk disatukan.
Kenyataan yang terlihat olehku bukan kau. Seperti angin yang terus berlalu. Tidak akan dapat kugenggam. Aku tidak akan menerimanya. Apa tak bisa memulainya dari awal.
Sebenarnya aku masih punya sedikit harapan tentang hari esok. Tapi selalu saja terhempas. Aku masih mengharap ada sedikit keajaiban.
Untuk terakhir kalinya. Aku masih ingin bertemu denganmu. Meskipun sekilas lalu. Aku masih ingin melihatmu. Lebih dari apapun.
Karena aku punya firasat. Aku tak akan bertemu denganmu lagi. Untuk waktu yang sangat lama.
Tak ada kata yang masih dapat kuucapkan. Aku hanya ingin meringankan perasaanku yang tertekan. Apa yang harus kukatakan. Sudah tak ada lagi yang dapat kukatakan.
Karena rasanya berat sekali untuk menahannya lebih lama lagi. Aku ingin melepas semuanya. Jauh dan tak terjangkau lagi.
Kupikir semua ini sia-sia saja. Tak ada jalan. Semua yang telah kumulai harus berakhir. Tanpa sisa sama sekali. Tanpa goresan sama sekali.


I’m still miss you. No words behind.


Aku ingin percaya padamu. Tapi aku tak bisa. Tidak ada lagi yang bisa kupercaya. Tentang nasib. Tentang takdir. Tentang permainan ini.
Ini bukan sesuatu yang kupikir mudah. Kalau saja aku bisa menyalahkan takdir. Kalau saja aku bisa menyalahkan waktu.
Aku hanya tak ingin kecewa lebih dalam lagi. Rasanya sudah cukup untukku menderita.
Selalu ada hal yang tak bisa kukatakan dengan jelas. Aku selalu menyimpannya dalam hati. Tanpa peduli kau ingin dengar atau tidak.

Aku ingin bersamamu. Menghabiskan semua sisa hidupku bersamamu. Kalau aku memintamu seperti itu. Apa kau mau menerimanya. Atau mengatakan sebaliknya. Apa permintaanku terlalu berat. Aku tak ingin hal apapun di dunia ini selain kau.
Aku memintamu untuk diriku. Aku memintamu pada Tuhanku untukku.
Kau dan aku. Tak akan pernah ada cerita tentang kau dan aku. Tidak untuk kedua kalinya. Tidak pernah mengerti arti semua ini.
Pada akhirnya aku tidak mengerti. Pada akhirnya kau pun tidak akan mengerti. Tidak seorang pun.
Aku ingin mencoba mencari sesuatu yang dapat melegakan jiwaku. Sesuatu yang membuatku merasa seperti baru. Menjadi seseorang yang lebih baik.

Tidak ada. Aku tidak bisa melihat jalan lagi. Semua pintu seperti tertutup untukku. Kesempatan itu tidak akan datang lagi padaku. Meskipun aku sangat mengharapkannya.
Tak ada tanda sedikit pun. Semua mengarahkanku pada kebuntuan.
Jika pintu itu terlihat pasti akan kudobrak sekuat tenaga. Jika celah itu terbuk sedikit saja, pasti akan kuhancurkan sisanya.
Apa sebaiknya aku menyerah saja. Melupakan semua yang pernah terjadi. Padaku. Padamu. Masa laluku. Seperti tidak terjadi apa-apa. Karena aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Kau berada di dekatku. Tepat depan mataku. Tapi, aku tak bisa memanggil namamu. Suaraku tak bisa keluar. Pada akhirnya aku hanya terdiam dan memandangmu dari kejauhan. Memperhatikan dirimu.
Seandainya, hari itu aku mencobanya. Aku menyesal.


I want you in my life.
Here. Beside me. Never go away. Just stay next to me.
I wish for you…


Aku ingin menyayangimu sepenuh hatiku. Aku ingin memelukmu sekuat tenagaku. Segenap kekuatanku. Aku tak ingin ada seorang pun mengambilmu dariku.
Aku ingin kau menjadi milikku satu-satunya. Dan milikmu satu-satunya.
Aku ingin berjalan bersamamu.
Aku hanya ingin dirimu yang menyentuhku. Menggenggam tanganku. Membelai rambutku. Mengusap pipiku. Menciumku.
Bukan orang lain. Tidak akan pernah. Aku tak ingin siapapun kecuali kau. Hanya kau.
Hadiah terbaik dari Tuhanku yang pernah kuterima. Seseorang yang pernah diberikan takdir untukku.
Aku ingin mengumpulkan pecahan mimpiku bersamamu. Mencari setiap kepingan masa depan yang digariskan untukku.
Aku ingin menunggumu di rumah saat kau pulang. Aku ingin ada di sampingmu saat kau tertidur. Aku ingin melewati seluruh takdirku denganmu.
Aku ingin bermimpi bersamamu. Aku ingin jatuh bersamamu. Aku ingin melewati semua waktu bersamamu.
Aku ingin selalu jujur padamu. Aku ingin bersikap seperti aku seutuhnya. Tanpa perlu memakai topeng di hadapanmu.
Aku ingin kau mengenalku sepenuhnya. Sedalam yang kuberi. Aku ingin membuka jiwaku untukmu. Karena aku tak pernah bisa melakukannya dengan orang lain.
Ingin kumiliki tanpa terbagi. Tanpa terbagi dengan yang lain. Aku ingin membawamu masuk ke duniaku. Aku ingin masuk ke dalam duniamu.
Membawamu mengetahui diriku. Menjadi salah satu dari tiga hal terpenting bagi diriku. Aku ingin sekali lagi mencobanya.
Aku ingin mengetahui semuanya tentang dirimu. Segala hal yang belum kuketahui.
Padahal masih banyak yang ingin kukatakan padamu. Masih banyak yang ingin kulakukan untukmu.
Aku mencoba menjadi seseorang yang berarti untukmu. Tanpa batas.
Kau orang yang ingin kulindungi sepenuh jiwaku. Seluruh hidupku. Kau orang yang ingin kujaga dengan taruhan nyawaku.
Tempatku berpulang. Menjadi rumah keduaku. Menjadi segalanya yang kubutuhkan.
Aku selalu mendapatkan apapun yang kuinginkan. Kecuali dirimu. Aku tak bisa berbuat apapun untuk mempertahankanmu.
Tidak yang lain. Tidak ada yang lain. Hanya kau.
Aku pertaruhkan semua yang ada. Aku ingin percaya padamu. Aku ingin membagi setengah hidupku untukmu.


If only I can fly. I will follow you. Anywhere you want me to.
But there’s nothing to say since the day we left
I just stand with all the regrets
I wanna love you. Being so purely. Being so honestly. Being so truly. And being so gently.
For careless whispers. Everything seems so grey.
Can’t say any words. For healing the pain. Nothing can do.
I thought you’re the one for me. I thought I finally found someone. Someone, only for me.
Tiredly. Hopeless. Careless. Loveless.
Hopeless…a private secret


Hentikan. Aku tak akan berusaha lebih jauh lagi. Aku akan berhenti sampai di sini. Aku tak bisa melangkah lebih jauh lagi. Aku tak bisa mengejarmu lebih jauh lagi.
Alu ingin keluar dari kegilaan ini. Aku tak bisa berbuat apapun. Aku tak bisa berjanji untuk memenuhi sumpahku padamu. Jadi percuma saja aku masih berdiri di sini. Percuma saja aku masih berdiam di sini menunggumu.
Bila semua yang kuharapkan tak akan pernah menjadi kenyataan, aku tak akan berharap untuk kesekian kalinya. Aku akan menyerahkannya pada takdirku. Takdir yang akan membawaku nanti.
Ini bukan jalan yang akan kulalui denganmu. Sejauh manapun aku menghindar, sekuat apapun aku menyangkal. Tetap saja tak akan mengubah hasil. Dan itu tidak akan pernah berubah. Tidak pernah.
Aku akan melepasmu. Aku cukup sampai di sini.
Aku akan selalu terluka karena dirimu. Aku akan selalu menangis karena menyukaimu. Aku akan selalu menderita untuk menyukaimu.
Aku tidak bisa berharap banyak pada takdir. Pada nasibku. Tidak untukkmu. Tidak untukku. Tak akan ada cerita tentang kita bersama di dunia ini.

Sekarang aku takut. Aku takut kau pergi. Semakin hari semakin nyata.
Hari demi hari berganti. Waktu terus berjalan. Tanpa sadar waktu menciptakan jarak yang begitu jauh antara kau dan aku.
Semua berjalan tanpa persetujuanku. Bukan seperti yang kuinginkan.
Perlahan tapi pasti aku melihatmu semakin jauh dari pandanganku. Sama seperti mimpiku. Aku akan kehilangan dirimu.
Aku tak bisa meraih tanganmu. Aku tak bisa mendengar suaramu. Dan aku akan terbangun dari mimpiku.
Dihadapkan pada kenyataan. Kenyataan yang selalu aku hindari. Kenyataan yang selalu aku sangkal. Kenyataan yang aku tak ingin tahu sama sekali.
Karena aku tahu apa yang akan dikatakan takdir padaku. Karena itu aku menutup semua inderaku. Aku tak ingin tahu apapun. Aku tak peduli.
Aku takut untuk mendengarnya. Untuk mengetahuinya.

Jika kau bukan untukku. Jika aku bukan untukkmu. Jika tak ada cerita antara aku dan kau. Jika tak ada kau di masa depanku.

Ketakutan itu yang terus menghantuiku. Kenyataan yang ingin kumusnahkan. Aku tak ingin mendengarnya.
Hanya dengan menyadarinya saja bisa membuatku jatuh. Aku benar-benar tidak mengerti. Satu hal aku tak mau belajar. Aku tak pernah belajar bagaimana untuk kehilangan. Seperti neraka.
Tapi aku tak bisa memaksakan kehendakku. Semakin hari luka jiwaku semakin terkoyak untuk menyadarinya.
Aku tak bisa terima dengan cara apapun. Tetap saja sulit untuk kuterima.
Sebisa mungkin aku menyadarinya. Tetap saja tak akan pernah sama.
Ribuan pertanyaan memenuhi pikiranku. Jiwaku. Pertanyaan yang selalu sama. Pertanyaan yang tak bisa kutemukan jawabannya.
Pertanyaan bodoh. Semua kalimat yang diawali dengan kata mengapa. Why..why and why..??!!

Saat ini kau dan aku. Berdiri saling membelakangi. Membiarkan orang berjalan melewati ruang antara kita. Datang dan pergi. Pada akhirnya akan ada seseorang yang tinggal di garis batas itu.
Dan itu bukan aku. Orang itu bukan aku. Dan mungkin tidak akan pernah menjadi aku.
Dan mungkin saja hal yang sama terjadi padaku. Akan ada seseorang yang berjalan bersamaku.
Tapi itu bukan kau. Tidak pernah menjadi kau.
Mungkin saat itu tiba. Mungkin saja perasaanku tidak seperti saat ini. Kau dan aku bisa menerimanya.
Tapi kumohon. Tidak untuk saat ini. Aku belum bisa melihatnya. Tidak saat ini.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Aku hanya ingin melihat matahari. Terlepas dari semua beban yang menindihku.

Aku ingin bersamamu. Tak akan ada keajaiban untukku saat ini. Aku harus melihat pada kenyataan. Kenyataan yang sudah begitu lama ada di hadapanku. Tapi aku tak pernah mau melihatnya. Aku selalu menghindar dari kenyataan itu. Aku tak ingin tahu apa yang akan kulihat nanti.
Ketakutanku. Kekhawatiranku. Akan terjadi dengan jelas sekarang. Semuanya akan menjadi hampa dan kosong sama seperti dulu. Sesaat sebelum aku meletakkanmu dalam hidupku.
Aku tak bisa memintamu untuk kehidupanku. Aku tak bisa memintamu untuk mengisi sebagian ruang kosong dalam jiwaku. Aku tak bisa memintamu untuk menemani seluruh sisa perjalanan hidupku.
Meskipun aku ingin. Itu tak mungkin.
Aku masih ingin merubah cerita ini. Sampai suatu saat aku akan melarikan diri darimu. Aku tak ingin berada dekat denganmu. Aku tak ingin mengenalmu. Aku tak mau tahu apapun tentangmu.
Ceritaku. Akan berakhir di sini. Tidak akan ada cerita lain setelahnya.


If it’s not about you..if it’s not about me. I’ll never hoping anymore
It can’t be you. It’s never be you.
You are just not the one for me after all…


Aku mengambil semua yang pernah kutinggalkan padamu. Semua yang kupikir indah. Semua hal yang mengingatkanku padamu.
Aku senang dengan semua caramu mengubahku. Menjadi seseorang yang lebih baik. Membuatku tersenyum ketika kau mengatakan kau senang saat menemukanku. Aku berharap saat di mana aku menemukanmu aku ingin tahu apa persaanku sama denganmu.
Menutup mataku. Seolah tak ada apapun dihadapanku. Aku sungguh ingin melupakannya. Melupakan semua keinginanku. Khayalanku. Mimpiku. Bersamamu.

Aku ingin bersamamu dengan cara yang tak bisa kubayangkan.
Aku tak akan bertanya lagi. Tentang semua hal yang masih mengganjal di hatiku. Tentang semua hal yang membuatku tak bisa bersamamu. Tentang semua yang telah terjadi.
Tentang mengapa kau tak bisa mengerti diriku. Tentang mengapa aku tak pernah bisa memahamimu.
Aku akan meletakkan semuanya seperti awal. Mencoba untuk tertawa. Sekali saja.
Kalau boleh aku meminta. Aku tak ingin seperti ini. Bukan ini yang kuiginkan. Bukan ini yang kuharapkan.
Kalau aku menutup mata. Semua akan terbayang dengan jelas. Setiap detiknya. Aku masih bisa menemuimu lewat cara ini. Antara kita. Tidak pernah terjadi sesuatu.

Tak ada lagi semua kenangan yang kusimpan. Tak akan pernah kembali.
Terakhir. Aku ingin mengucapkan kata-kata ini padamu. Yang tak pernah bisa kusampaikan dalam mimpi sekalipun.


Nothing is to be the way, that you used to. Everything just seem so blind
give me the truth. In me, and tell me somebody watching. Over me..
Don’t you run too fast my dear, why don’t you stop. Stop and listen on your soul. What is it said. In you, I see somebody watching. One moment, will be one trutht, one moment I’ll looking at you.


Aku akan mengembalikanmu ke tempat semula. Saat kita masih berjalan sendiri-sendiri. Saat semuanya belum tercampur baur seperti ini. Saat semuanya masih bersih dan terjalin rapi.
Saat semua harapanku tak ada. Saat semua keinginanku tak pernah ada.
Semua hal yang kau lakukan untukku. Semua hal yang kau katakan. Semua hal yang menjadi alasan. Semua hal yang menjadi beban.
Aku akan melepasnya untukmu. Tidak ada perjanjian sebelumnya. Dan tidak ada yang harus dibayar setelah ini.
Aku tak ingin menangis. Aku tak ingin menangis untukmu.
Aku hanya ingin melegakan perasaanku. Aku hanya ingin memulai hidup baru. Tanpamu. Seumur hidupku.
Aku hanya ingin mengatakannya padamu. Aku tak tahu kapan kau akan mengetahuinya. Aku tak berharap kau mengetahuinya. Bagiku itu sama saja. Tak akan mengubah hasil.
Setidaknya aku mencobanya. Rahasia jiwaku.

Untuk sebuah nama yang tak akan kulepaskan seumur hidupku...
Aku menyukaimu. Aku tak tahu alasannya mengapa aku menyukaimu. Kau melakukan banyak hal yang kusukai. Kau melakukan banyak hal yang membuatku tersenyum. aku berharap bisa menjelaskan alasannya.
Kau adalah orang yang paling kusukai di dunia ini. Kau orang yang paling ingin kulihat di saat-saat terakhir hidupku. Kau orang yang ingin kubagi segalanya di dunia ini. Kau orang yang kuingin menemaniku selama sisa perjalananku. Hanya kau yang tak akan kulepaskan.
Hanya kau yang boleh menyakiti hatiku. Hanya kau yang boleh membuatku menangis. Hanya kau yang boleh membuatku terluka.

Aku ingin memelukmu. Aku ingin menyayangimu sepenuh hatiku. Aku ingin merengkuhmu dalam genggaman tanganku. Aku ingin selalu memastikan kau baik-baik saja.
Aku ingin dirimu untukku. Sepenuhnya untukku. Aku ingin bersamamu. Selamanya.
Seandainya aku bisa mengubah kenyataan yang ada di depan mataku. Seandainya aku punya kekuatan melebihi sekarang. Aku ingin menarikmu saat ini juga.
Aku membutuhkanmu. Dalam hidupku. Dalam setiap detik debaran jantungku.
Aku tak bisa berbohong padamu. Dalam hal apapun. Terlebih dengan perasaanku. Kalaupun aku berbohong, aku hanya ingin memastikan itu tidak menyakitimu. Tapi kebohongan tetap saja sebuah kebohongan, apapun niat di belakangnya.
Aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku. Aku tahu ini tidak masuk akal ataupun logika. Tetap saja semua ini sulit untuk dikatakan.

Jika takdirku mengarah kepadamu. Aku akan tetap menunggumu. Entah sampai berapa kali dilahirkan pun aku akan tetap menunggu.
Kau orang yang paling kusayangi. Tapi juga orang yang paling ingin kulupakan dalam hidupku. Karena kau menyakiti hatiku sampai begini sakitnya.
Aku hidup di tanah yang sama denganmu. Menghirup udara yang sama denganmu. Mengetahui keadaanmu baik-baik saja, itu sudah cukup untukku.
Suatu saat nanti aku ingin mengetahuinya. Tentang semua ini. Tentang jawaban yang selalu kutunggu. Tentang mimpiku.
Kata-kata yang kusimpan. Semua kata-kata yang tak tersampaikan jiwaku. Tak tersampaikan jiwaku padamu.
Semua hal yang membuatku melepasmu. Semua hal yang membuatku putus asa. Aku akan meletakkannya kembali seperti semula. Semua harapan yang kulepas. Semua mimpi yang kubiarkan menguap.
Alasan mengapa aku meninggalkanmu. Alasan yang cukup untuk membuatku mengerti. Ini tak akan mungkin kuteruskan. Kalaupun kuteruskan, akan semakin banyak darah yang mengalir. Akan semakin dalam luka yang kudapat.

Semakin aku tak menerimanya, semakin aku tertusuk. Aku bertaruh jiwaku untukmu. Memegang perasaan yang seperti pedang ini. Menahannya sekuat tenaga. Membiarkan tanganku terluka. Tidak. Bukan ini yang kumau.
Kekosongan yang ada dalam jiwaku. Semua kepedihan yang kurasakan. Sampai saatnya tiba. Aku akan menyerahkan semua ini padamu.
Aku berharap kau satu-satunya bagiku. Orang yang ditakdirkan bersamaku. Bila kenyataan berbicara lain. Aku tetap ingin memperjuangkanmu. Seumur hidupku. Bila kau memang untukku.
Aku hanya ingin bersamamu. Karena kau orang yang berharga untukku. Karena itu aku ingin menjagamu. Melindungimu

Aku tak tahu apa kau pernah merasakan suatu hal tentangku. Kumohon, jangan berbohong pada dirimu sendiri. Sekali ini jujurlah padaku. Meskipun lebih baik kalau kau berbohong untukku saat ini.
Kalau memang sesuatu hal itu ada, apa aku boleh menanyakannya sekarang.
Mengapa kau begitu baik padaku, kau melakukan sesuatu yang membuatku selalu tersenyum. Kau selalu bersikap seolah aku adalah seseorang yang paling kau perhatikan.
Apa semua hal di masa lalu itu sesuatu yang berarti bagimu. Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa masih tersisa? Apa masih ada ingatanmu tentangku? Apa yang kau ingat tentangku?
Ini sudah lama sekali. Ini hampir tahun keenam sejak saat itu. Semakin jauh aku meninggalkanmu. Dan semakin aku tak bisa menemukan jalan untuk kembali padamu.
Aku tak tahu harus memulai dari mana. Semua jalan tidak memberikan pilihan yang baik.
Aku menyayangimu sepenuh jiwaku. Tapi aku lebih tak suka kalau memaksakan takdir. Kita mempunyai jalan yang berbeda. Kurasa sudah saatnya untuk memilih. Dan pilihanku bukan dirimu. Pilihanmu bukan aku.

Aku hanya berharap sekali lagi pada takdir. Kalau memang keajaiban masih ada. Kita akan bertemu sekali lagi. Entah itu dalam mimpi atau dalam kenyataan.
Kalau kau memang orang yang terhubung dengan benang merahku. Maka kita akan bertemu lagi. Tapi jika tidak. Ini akan jadi yang terakhir kalinya.
Kita tak akan bertemu lagi. Aku akan melupakanmu. Aku sungguh berharap bisa melupakanmu. Secepatnya. Dan begitu juga sebaliknya.
Aku hanya ingin mengatakan padamu tentang perasaanku.
Aku menyukaimu. Aku ingin dirimu. Berapa kali pun harus kuulang, jawabannya tetap sama. Aku tak punya jawaban lain.
Andai saja aku bisa berjalan di jalan yang sama denganmu. Tapi aku tak bisa. Hal-hal yang membuatku tak bisa itu, hal-hal yang selalu tak dapat kujelaskan dengan baik.
Aku bukan seorang yang sempurna baik fisik maupun jiwa. Tap aku hanya ingin berusaha menjadi yang terbaik dari yang bisa kuberikan. Aku tak ingin menjadi sempurna untukkmu. Karena aku ngin kau melihatku dengan segala kekurangan yang ada pada diriku. Karena aku ingin kau melihatku dengan diriku seutuhnya.
Tapi aku tak suka memaksa. Aku merelakanmu. Bukan untukmu. Tapi untukku.
Ini bukan tentangmu. Ini tentang aku. Tentang bagaimana aku memandangmu.
Aku belum mencintaimu. Aku hanya masih menyukaimu.
Aku berharap pada dunia untuk memberimu kebahagiaan. Menjagamu. Melindungimu.
Memberikan yang terbaik dari yang bisa kuberikan padamu. Memberikan semua kebahagiaan yang belum sempat kuberikan padamu.
Aku tak punya pilihan. Aku juga tak bisa kembali. Memutar waktu. Menghentikan waktu. Ini sudah terjadi.

Ini sudah berakhir. Di batas kemampuanku. Aku tak bisa melangkah lebih jauh. Mungkin saja akan ada seseorang yang mengantikan tempatku. Memahamimu. Mengerti dirimu.
Aku ingin mengatakan pada angin yang berhembus. Untuk kesekian kalinya. Di setiap pertemuan kita. Untuk hujan yang terus turun di jiwaku.
Kumohon kalau kau mempunyai keinginan untuk kembali, sedikit saja. Beritahu aku. Aku akan berlari menjemputmu. Kalau waktu itu kau berlari untukku, maka aku yang akan berlari untukmu sekarang.
Suatu saat, perasaan ini akan tersampaikan. Di saat semuanya berjalan tak sesuai keinginan. Aku hanya berharap aku bisa menerimanya. Suatu saat aku berharap aku bisa memandangmu apa adanya.
Aku ingin mengatakannya. Dunia ini begitu indah, meskipun tidak dengan dirimu di sampingku.. Begitu berwarna. Banyak tempat yang ingin kudatangi. Banyak hal yang ingin kuketahui. Masih banyak hal yang ingin kulakukan. Melihat berbagai macam peristiwa.

Aku menyayangimu. Tapi aku juga ingin tahu bagaimana kau ingin di sayangi, diperlakukan olehku. Bagaimana aku harus bersikap sebaiknya. Karena aku ingin melakukannya untukmu.
Melihat pelangi. Menunggu hujan reda. Menghirup udara. Mengumpulkan keping-keping terakhir mimpiku. Karena kau sebagian mimpiku. Menjadi seseorang yang lebih baik. Membukakan pintu surga untukku. Membawaku ke dalamnya. Membawaku ke kebahagiaan abadi yang tak ternilai harganya.
Berada bersama Tuhanku. Dengan segala limpahan berkah dan kesucian. Aku ingin kau menuntunku ke jalan itu.
Aku ingin melakukan itu semua denganmu. Aku ingin dirimu bersamaku. Melewati semua hal di dunia ini. Aku ingin selalu tersenyum untukmu.
Aku memintamu pada Tuhanku. Kalau ternyata Tuhanku tidak memberikanmu untukku. maka aku akan mencoba bersabar. Entah bagaimana aku harus memintamu lebih dari ini.
Karena aku tahu apa yang diberikan-Nya tak akan pernah sia-sia. Aku hanya tak ingin mengotori perasanku lebih jauh dari ini. Jika aku hanya boleh menyayangimu seperti ini maka aku tak akan meminta lebih dari ini.
Aku meminta pada Tuhanku untuk menjagamu. Dengan segala kebesaran-Nya, aku hanya berharap yang terbaik yang akan diberikan-Nya padamu.
Dan bila yang terbaik itu bukan diriku. Maka tak ada lagi yang akan kukatakan lagi.
Aku ingin bersamamu. Lebih dari apapun juga di dunia ini. Karena kau orang yang kusukai, karena aku menyayangimu. Sepenuh hatiku. Setulus jiwaku.
Aku ini wanita egois. Hanya memikirkan kepentinganku sendiri. Membiarkanmu pergi. Aku sedang bertaruh dengan dunia. Dan aku memilih diriku. Dan artinya harus ada sesuatu yang harus kulepaskan untuk kupertaruhkan. Dan itu adalah dirimu.
Bodoh. Sebenarnya hal manapun yang kupertaruhkan tak akan pernah menguntungkan untukku. Aku tetap akan terluka. Maaf, ya. Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk diriku.
Suatu saat nanti, aku ngin kau mengerti arti tatapan mataku. Saat mataku memandangmu. Saat kau menemukan diriku, kau akan mengerti seberapa beratinya dirimu bagiku. Karena itulah aku tak ingin kehilanganmu.
Karena aku ingin kau memandangku seperti itu…
Aku ingin kau menemukanku dalam kehidupanku…yang nyata.
Aku menyukaimu dan aku tak pernah tahu alasan mengapa aku bisa menyukaimu. Jika setelah dirimu tak ada orang lain yang kusukai melebihi hidupku, itu bukan salahmu. Kesalahan terbesarku adalah aku terlalu menyukaimu.
Untuk sebuah nama yang tak akan kulepaskan seumur hidupku. Menjaga dan menyimpan nama itu di tempat yang paling dekat dengan cintaku, jiwaku...hidupku. Semua kesakitan dan kepedihanku yang terus membuatku mengingatmu, mengiris setiap lapisan hatiku, menikmati penderitaan yang terjadi padaku. Jika itu adalah harga yang harus kubayar, maka aku akan membayarnya seumur hidupku. Jika waktu tak bias membantuku melupakanmu aku tak akan pernah meminta lebih dari ini. Keinginan untuk menangis dan menangis. Setiap detik dalam hidupku, aku akan jadi orang paling menyedihkan. Kehilangan seseorang yang kusayangi.
Saat ini dan sampai kapan pun aku ingin selalu bisa mengatakan ini “ I really do miss you, so much miss you, dear “.


I am so tired of being here and if you have to leave, I wish that you just leave.
Because your presence still lingers here and it wont leave me alone
Just let me know, let me know where I belong. I can’t go on like this. Don’t keep me waiting, keep me calling. Maybe you hesitate, maybe I set my hopes to high. But all I wanna do is hold you close and everything between I wait for you to call me. I wait for you to tell me and to set me free. I guess it’s the price I have to pay. still everything happens for a reason is no reason not to ask myself. Damn, why you?!
It was never good enough. I wonder sometimes, if the distance and culture were nothing, what would you do? What would you tell me? Because I wonder sometimes it will be vanish.
What else should I be, what else I could write. I wish I was like you. Everybody’s got their problems just like we are. Everybody says the same things to you. And I asked you someday, why you listened of what they said to you. It’s just a matter how you solve then and knowing how to change the things you’ve been through.
I feel I’ve come to realize something, how fast life can be compromised. It’s just a problem that you faced with me. Would you step back to see what’s going on. I cant believe this happened to you, for me I cant believe it either. Why do things that matter the most, never end up being our choice. I don’t think I knew what I had.
for you opened my eyes. to the beauty I see. I will pray for us. Sometimes I think I’m going mad. We’re losing all we had. And no one seems to care.
Never be untrue .
It is not about a pain. It is about being someone.
About learning how to let go something. Something deeply.
Surely, there must be a wish and can not realize alone. Of your life.
The paint was finished. The stories was ended.
And the journeys ended here.
Loving is a battle. Caring is struggle. Hoping is healing. And wishing is nothing.
Being loved is so wonderful. Being hurt is wonderful.
Someday I’ll understand what is those mean. Maybe.
Miracle.Bless.Curse.Destin
y.Tears.Eyes.Soul.Pain.Faith.Struggle.Courage.Battle.Win.Lost.Hope,Answer,Crush.


Aku selalu ingin bertemu dengannya. Dalam mimpiku, ia adalah milikku satu-satunya. Dalam mimpiku aku adalah seseorang yang berada disisinya. Dalam mimpiku aku adalah miliknya satu-satunya. Tak akan ada orang lain.
Tapi, mengapa mimpiku tak pernah berlangsung lebih lama, aku selalu benci saat terbangun. Ketika mimpi itu berlalu seperti serpihan kecil, melewati alam sadarku, mengalir dari kedua mataku. Saat terbangun, aku akan menangis. Selalu seperti itu. Aku kehilangan dirinya, dalam dunia mimpiku dan dunia nyataku. Aku benar-benar tak bisa meraihnya. Aku ingin terus bermimpi, jika mimpi itu adalah hal terakhir yang bisa kulakukan. Aku ingin terus tertidur. Melupakan kesakitanku, melupakan kepedihanku, melupakan keperihan jiwaku. Berharap jika hanya itu yang bisa membuatku merasa hidup...
Setelahnya. Tak pernah ada mimpi setelahnya. Tak ada mimpi selain dirinya. Hanya dirinya yang ingin kulihat, hanya dirnya yang selalu ingin kutemui, hanya dirinya yang selalu ingin kumimpikan dalam setiap tidurku. Tak akan pernah menjadi orang lain.
Aku hanya meminta dirinya untuk mengisi seluruh hidupku. Hanya dirinya. Tak pernah ada orang lain. Sejak hari itu, saat ini maupun hari-hari berikutnya...seluruh sisa hidupku.


Aku pernah berjanji padanya. Aku akan selalu bersamanya, menyayanginya apapun yang terjadi. Ketika janji itu terucap, aku tak pernah berpikir sampai sejauh ini. Semua beban yang kutanggung, janji yang kuucapkan. Bahkan saat melepas semua janjiku padanya, aku masih merasakan kesakitan itu. Luka yang semakin dalam dan dalam, merobek seluruh jiwaku.
Aku benar-benar tak bisa berhenti. Harapan yang semakin mengecil itu terus saja menggangguku. Langkahku selalu tertahan ditempat yang sama. Berulang dan berulang seperti itu. Aku tak pernah beranjak dari sini. Aku tak pernah bisa dan tak ingin meninggalkannya.
Semua kenangan itu, terasa begitu dekat dan menyenangkan untuk dinikmati. Aku tahu luka hatiku akan semakin membesar. Aku pertaruhkan semua perasaanku, berharap suatu saat jalan itu akan terbuka bagiku. Baginya. Terus menerus berharap benang merahku akan tersambung dijarinya.

Tuhanku...
Aku sangat tersiksa dengan seluruh perasaanku ini. Aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan untuk menghilangkan perasaan ini. Inikah cara untuk menebus dosaku. Apakah menyukainya hal yang terlarang untukku. Seluruh juwaku, hatiku terasa begitu sakit. Luka itu tak pernah bisa mengering. Apalagi yang harus kulakukan, aku ingin melupakannya. Benar-benar ingin melupakannya. Jika itu adalah satu-satunya cara untukku. Bagaimana caranya. Jika perasaan ini terlalu dalan, jika keinginan dan harapan ini terlalu jauh untuk kuraih, jika perasaanku tak bisa lepas darinya, apa yang harus kulupakan.

Berkali-kali terus kukatakan pada diriku. Bukan aku. Bukan aku yang akan bersamanya selama sisa hidupnya. Bukan aku yang akan berjalan disisinya. Bukan aku yang akan melihatnya saat tertidur dan terbangun di keesokan paginya. Tapi, tetap saja. Semakin aku bersikeras seperti itu, aku semakin menyakiti dirku. Menusuk jiwaku lebih dalam lagi, mencoba menelan kenyataan yang kuciptakan. Kebohongan yang kuciptakan untuk menutupi kesakitanku.
Tak ada yang bisa mengerti. Tak apa. Bagiku cukup hanya aku yang mengerti. Jika hanya aku yang bisa mengerti pun, tak mengapa. Semua yang kumiliki, seluruh perasaan yang kugenggam saat ini, seluruh air mata yang kutahan sampai saat ini. Semuanya akan kupertaruhkan. Semuanya akan kugulirkan satu per satu. Kata demi kata, cerita demi cerita, semua kisah yang kurangkai. Seluruh perasaanku yang terdapat dalam setiap kata yang kuucapkan. Selruh perasaan sayangku yang kucurahkan dalam setiap cerita itu, hanya sedikit dari yang bisa kurasakan. Hanya sedikit dari seluruh perasaan sayangku padanya. Aku menyayanginya dengan segenap jiwa dan ragaku. Dengan seluruh harapan tentang hidupku. Menjadikannya satu-satunya seseorang yang sangat kusayangi. Menjadikan namanya hal terakhir yang ingin kusebut saat menutup mataku.

Aku hanya bisa menyukaimu, menyayangimu dengan seluruh jiwaku. Aku akan berusaha untuk menjagamu, melindungimu dengan taruhan nyawaku. Aku hanya bisa menjanjikan hal itu padamu... Saat tahun demi tahun berlalu dan langkah mulai terasa berat untuk berayun, aku yang akan menopangmu. Aku tak akan pernah pergi dari sisimu. Apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu...

Janji itu. Janji yang kuucapkan. Janji yang dengan jelas dan tanpa keraguan mengalir dari mulutku. Seterang cahaya matahari dan sejernih embun pagi, aku dengan suara terisak mengatakannya. Hanya padanya. Untuk pertama kalinya dan terakhir kalinya...
Hanya dirinya yang membuatku mengatakannya. Karena hanya ia yang ingin kujanjikan seperti itu. Satu-satunya orang yang ingin kusayangi sepenuh jiwaku, satu-satunya orang yang akan kulindungi. Kau adalah orang itu...

Lalu...sekarang. Aku melepas janjiku.Hal yang sangat bodoh dan menyedihkan.
Karena aku sedang melakukan suatu kebohongan besar dalam hidupku. Jika aku mengatakan aku sudah melupakannya. Tidak. Tidak akan bisa. Mungkin tidak akan pernah
Dimanapun dirinya, sejauh apapun jarak yang ada diantara aku dengannya aku tak akan pernah bisa melupakannya. Seluruh perasaan tak akan bisa dihapus dan dihilangkan begitu mudah dengan waktu dan jarak. Tak ada yang dapat memastikan apakah harus menepuh jarak beribu kilometer atau beribu kelahiran sekalipun. Perasaan ini tak akan bisa dipastikan kapan akan bisa sedikit demi sedikit memudar. Tanpa terasa menyakitkan.

Jika sedalam itu perasaan yang kumiliki. Bagaimana bisa aku menatap hal lain. Hal yang jelas-jelas ada di hadapanku. Menunggu untuk kusambut. Sebegitu sulitnyakah untuk melihat selain dirinya.
Aku tak bisa menyukai seseorang seperti aku menyukainya. Dengan seluruh jiwaku, hidupku. Aku tak memiliki cukup keberanian untuk meninggalkannya. Karena aku terlalu menyayanginya.
Jika aku berbohong deminya, aku akan berbohong pada diriku sendiri. Aku tak pernah bisa benar-benar menyukai seseorang setelahnya. Sejak hari itu dan sampai saat ini hanya orang itu yang selalu ada dalam pikiranku.
Aku menyerahkan selruhu harapanku tentang kehidupan, tentang mimpiku, tentang masa depanku padanya. Karena aku hanya ingin dirinya satu-satunya orang yang kutemui dalam mimpiku, dalam kehidupanku, dalam setiap kelahiranku.
Nama itu, nama yang tak akan kulepaskan seumur hidupku. Aku tak bisa menemukan nama selain namanya untuk kuucapkan setiap detik dalam hidupku.
Aku hanya menginginkan dirinya, untukku, untuk seluruh sisa hidupku. Aku percaya padanya. Aku sangat mempercayainya melebihi apapun. Aku sangat ingin mempercayai jika suatu saat nanti kalan itu akan terbuka. Jika aku berusaha sedikit lagi, mungkin aku akan dapat menemukan cara untuk menemukannya. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan, jika saja aku masih bisa memahami apa arti dari percaya itu sendiri.
Seandainya aku masih bisa mempercayai seseorang selain dirinya. Aku benar-benar ingin berhenti, menyerah dan melaps semua kesakitan ini dari dalam jiwaku. Aku merasa sangat lelah sekali. Sangat lelah...
tersikasa dengan perasaan ini, tak bisa beranjak dari tempatku, melanjutkan kembali kehidupanku. Jika aku mneyesal dan memintanya untuk mengulang semuanya dari awal apa akan ada yang berubah. Apa itu akan membuatku bahagia seperti harapanku. Bersamanya selamanya seperti keinginanku, benarkah ia yang trebaik untukku. Benarkah ia yang kuinginkan seumur hidupku?

Aku hanya tak bisa lepas darinya.