Tampilkan postingan dengan label Grey's Note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grey's Note. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Agustus 2010

Dearest you...I'm Sorry...I'm So Sorry...

Seseorang bertanya padaku di sebuah sore yang hitam dan murung,

"mengapa kamu murung seperti itu...?!",

jawabku padanya ;

"ada sesuatu yang hilang...semakin lama semakin terasa..."

lalu aku pun terdiam dan terpejam.


Aku bertanya pada seorang teman ;

"bagaimana caranya meminta maaf...?!"

temanku itu berkata ;

"bagaimanapun caranya, yang penting disertai ketulusan..."

tubuhku bergetar.


Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan,

tentang suatu masa yang begitu cepat dan terlampau singkat,

ini masih tentang seseorang,

masih juga tentang perasaan,

dulu pernah ada namun sekarang hilang.


Aku tak rindu masa-masa singkat itu,

saat aku berlari kesana-kemari sambil memeluk kecemasan,

dicumbui keresahan yang dibawa oleh angin,

tertidur bersama keringat dingin,

terbangun oleh mimpi-mimpi buruk di setiap malam,

membuatku membenci tidur.


Namun, dirinya hadir pada masa-masa itu,

membawa lukanya padaku,

entah aku harus apa...?!

"bagaimana mungkin aku yang terluka bisa menyembuhkan luka...?!"

tapi, aku tak sampai hati tuk mengacuhkan dirinya,

wajahku pun tertutup sempurna,

lagi.


Untuk merasakan kecemasanku bertambah karena dirinya,

aku tak menyesal merasakannya,

untuk merasakan ketakutan bahwa aku akan kehilangan dirinya pada sebuah malam,

tak ada penyesalan sedikit pun padaku,

untuk cemoohan dan komentar miring beberapa orang,

aku berlalu pergi dari kalian tanpa penyesalan.


Aku rindu saat-saat itu,

kebut-kebutan di jalanan dengan motorku di waktu malam,

hanya untuk bisa mengobrol sebentar dengannya sebelum dia berangkat tidur,

untuk terkaget-kaget lantas tersenyum geli saat dia muncul kembali setelah mengatakan selamat malam dan selamat tidur,

kalimat-kalimat canda yang dibalut tawa,

rayuan-rayuan yang membuatnya risih,

itu membuatku tersenyum bila mengingat dirinya.


Jelas ada yang hilang,

kata-kata miliknya yang tak ada pada perempuan-perempuan kebanyakan,

cerita-cerita darinya yang luar biasa,

caranya berpikir yang di luar kebiasaan membuatku teringat pada seorang teman yang telah lama 'hilang',

aku menyukai semua hal yang ada pada dirinya,

hampir segala hal yang dia bagi padaku,

namun, disaat yang sama,

sesuatu yang menutupi wajahku pun mulai retak dan hancur di beberapa bagian,

jiwaku bergetar kencang.


Aku benar-benar tak bisa,

membiarkan tanganmu meraba-raba wajahku,

memasuki bagian tergelap dari kesunyian jiwa yang masih terus merindu,

bercampur darah yang mengalir ke seluruh raga,

bukan aku tak mau,

tapi aku tak bisa membiarkanmu masuk sejauh itu.


Sekarang kamu tahu tentangku,

ada diriku yang lain yang tak bisa berkompromi dan tak berperasaan,

sesuatu yang terus kutekan supaya ia tak bisa muncul sesukanya,

sesuatu yang ingin kamu lihat,

sesuatu yang kuingkari ada di dalam jiwa.


Bukan karena dirimu pergi dan kita menjadi asing yang aku sesali,

tapi, tak ada yang bisa kubagi denganmu,

sedikitpun kurasa tidak,

hanya itu yang kusesali,

hingga saat ini.


Aku melihat dirimu kemarin,

dalam jarak yang aku ingat kita pernah lebih dekat dari sekarang ini,

memuaskan mataku tuk melihatmu tersenyum dan tertawa dengan beberapa orang teman,

semoga kamu tahu bahwa aku pun ikut tersenyum karenamu,

aku tersenyum untukmu kemarin.


Seorang teman bertanya padaku ;

"kamu tak ingin dirinya kembali...?!, menjadi akrab kembali...?!"

aku terdiam sebentar lalu berkata ;

"tidakkah kamu sedang melihat dirinya sekarang...?!,

lihatlah dia yang begitu bahagia, apakah matamu bisa melihat tawa miliknya...?!"

sahut temanku ;

"aku melihatnya, tapi...kamu ingin dirinya kembali, bukan...?!"

jawabku padanya ;

"aku tak lagi mau. aku tak mau mengganti tawa miliknya dengan sesuatu yang aku sendiri masih sangsi. tidak, aku tak ingin dia kembali..."

temanku bertanya lagi ;

"kamu bilang kalau kamu begitu sayang padanya...?!"

jawabku lagi padanya ;

"ya...karena itu aku tak mau dia kembali..."

tangan temanku itu yang menyeka air mataku.


Aku tak lagi punya alasan,

tak lagi punya kata-kata indah,

tak lagi punya kalimat-kalimat manis,

aku tak lagi berharap dirimu kembali,

kita biarkan saja seperti ini selamanya,

ini permintaanku yang terakhir padamu ;

"aku menyesal, maafkan aku..."

kabulkanlah.

Dear Cie Muth...^^

Pandangi hujan lebat dari tempat terbuka,

angin yang dibawanya serta sampai juga ke dalam jiwa,

hitamnya awan masih bergelayut di angkasa,

sore ini pun kan kuhabiskan bersama duka.


Pertanyaanmu semalam goreskan luka,

di kepalamu hanya ada angkara dan prasangka,

tak bisa tuk mengerti dan percaya,

pada sebuah kenangan lama yang kembali bergelora.


Seperti lukisan di depan mata,

dirimu dan dirinya bagiku serupa,

hanya saja,

dirinya seperti sebuah lukisan absurd namun penuh pesona,

dan dirimu baru akan menggoreskan kuas dan cat minyak padanya.


Tak bisakah untuk mengalah sebentar saja pada kehidupan lama ?,

pada cerita yang tak bosan tuk didengar oleh telinga ?,

pada kenangan yang masih tersimpan rapi di kepala ?,

pada api yang sebentar lagi akan padam di relung jiwa ?


Dalam kerendahhatian rasa kita bicara,

berdamai dengan semua masalah di segala masa,

tuk menemukan apa yang dicari manusia di segala usia ;

cinta.



[ Jakarta Selatan, 21 Mei 2010 ]

Anak - Anak Kehidupan...

Di sepanjang trotoar fly over ini mereka tertidur dalam gelap,

Juga di sepanjang trotoar underpass mereka terlelap,

Beralaskan koran dan kardus bekas,

Berselimutkan debu dari kendaran yang melintas.


Anak-anak itu...

Rumahnya beratapkan langit dan beralaskan tanah,

Jiwa-jiwa yang terluka dan bernanah,

Nyenyak kah tidurmu...?,

Indahkah mimpimu...?.


Anak-anak itu...

Ya, anak-anak itu,

Yang sekarang terbaring tidur di depan mataku,

Dipeluk semilir angin serupa lagu yang mendayu,

Membawa asa mereka lantas berlalu,

Pada siapa mereka mengadu...?.


Lihatlah anak-anak itu...

Untuk mengeluh pun lidahnya tak lagi mampu karena kelu,

Untuk menangis pun tak lagi bisa karena air dimata mereka telah membeku,

Tapi mereka masih tersenyum meski bibir mereka kaku,

Lihatlah mereka itu.


Mereka memiliki apa yang generasi muda sekarang tidak miliki,

Generasi depresi, anarki, pemuja cinta, pemuja setan, dan asal jadi,

Mereka hanya tidak memiliki satu hal dari yang kita miliki ;

UANG.


Aku tahu kita berbagi pendapatan untuk mereka,

Setiap bulan pendapatan kita dipotong untuk mereka,

Tapi, mengapa mereka masih ada...?,

Kurang banyakkah untuk mereka...?,

Potong lebih banyak saja jika itu berguna,

Sungguh, kami tak apa-apa.


Mereka yang memotong itu seharusnya tahu,

Jangan lantas jadi belagu karena berbaju,

Baju berwarna seperti keju busuk lagi bau,

Seharusnya kalian yang jadi babu.


Anak-anak itu masih terlelap,

Di trotoar fly over dan underpass yang gelap,

Mempercayakan hidupnya pada setiap hal yang hinggap,

Melihat mereka membuat nafasku terasa pengap.


Mereka itu anak-anak kehidupan,

Kehidupan mempercayakan mereka pada manusia-manusia yang mereka temui,

Jauh dari kenyamanan dan rasa aman,

Jauh dari keinginan dan kebutuhan,

Namun mereka tidak depresi,

tidak juga anarki,

tidak memuja cinta apalagi memuja setan,

dan kelak mereka akan benar-benar menjadi.


Lihatlah mereka,

Anak-anak kehidupan itu,

Temuilah mereka,

Janganlah lagi menutup mata,

Bukan sebuah universitas atau sekolah tinggi yang mengajarkan tentang kehidupan,

Tapi di jalanan,

Ya...

Di jalananlah tempat kenyataan dan kehidupan dipelajari,

Dan maaf,

Teori-teori tak berlaku sama sekali disini.



Jakarta Selatan, 7 Mei 2008

Perempuan-Perempuan itu...

Suatu hari ketika hujan turun...

saat aku berteduh dari derai tangis cakrawala,

terduduk disini memandangi arahku,

teringat aku pada dirimu, duhai perempuan,

kesayanganku seorang.


Aku melihat seorang perempuan kecil, sayang...

berlari-lari kecil sambil membawa sebuah payung besar,

berusaha tuk berkata dengan jelas pada beberapa orang dalam getar badannya yang kedinginan,

perempuan itu tersenyum sambil menawarkan payungnya,

semakin indah senyumnya ketika dia beralih dari satu orang ke orang lainnya,

penolakan seperti air hujan, ia tepis dengan payungnya,

wajahnya lalu berseri saat seseorang memakai payungnya,

dengan wajah itu ia mengikuti orang yang memakai payungnya,

sebuah wajah perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar.



Aku melihat seorang perempuan muda, sayang...

mencari penumpang sambil berdiri di pintu bus kota,

aku dengar dirinya berteriak berulang kali menyebut nama sebuah tempat di selatan,

sebagian dari pakaiannya basah kuyup oleh hujan,

tapi teriakannya lantang tak bergetar,

suaranya jelas menembus dinginnya udara yang seolah tak ia hiraukan,

tak lama ia melompat turun dan berkata-kata lembut sambil membantu penumpang yang akan naik,

sebuah suara perempuan yang lantang namun penuh kelembutan.



Aku melihat seorang perempuan tua, sayang...

terduduk dibawah pohon yang tak bisa melindungi dirinya dari air hujan,

berkata-kata pada beberapa orang yang berlalu di hadapannya ; "kacang rebus...kacang rebus...",

kacang rebus di gerobaknya yang ia tutupi dengan plastik transparan ia tawarkan,

tak henti-henti ia berkata ; "kacang rebus...kacang rebus...",

tak pernah berhenti dirinya berkata-kata,

seolah pohon tempatnya bernaung adalah pohon ketegaran dan harapan,

perempuan tua itu tak pernah menyerah,

sebuah ketegaran perempuan yang ditopang oleh akar-akar harapan.



Aku melihat perempuan-perempuan itu, sayangku...

seperti aku juga sedang melihat dirimu dalam benakku,

disini...

berteduh sambil menanti derasnya hujan tuk berhenti,

ditemani petikan gitar butut seorang pengamen perempuan yang duduk tak jauh dariku memainkan "CAVATINA",

aku tahu jarinya lelah dan perih,

aku tahu senar gitar butut itu tajam dan menambah sakit jarinya saat ia memetiknya,

tapi itu adalah suara gitar terindah yang pernah kudengar,

suara-suara merdu dari perempuan-perempuan imajiner.



Saat aku melihat perempuan-perempuan itu,

aku pun melihat dirimu dalam anganku, sayangku...

saat aku mendengar suara-suara mereka,

aku mendengar suara Tuhan, sayangku...

cakrawala boleh menangisi kenyataan di dunia,

tapi mereka tidak pernah merasakannya sedihnya, sayangku...

lihatlah perempuan-perempuan itu, sayangku...

lihatlah mataku yang berkaca-kaca mendengarkan suara-suara mereka.




PS : "Dear, Mom...Without you, I'm Nothing..."



~ Jakarta Selatan, 21 April 2010 ~

[ C~P~T~19~04~2010 ]

Karena aku terlalu ingin tuk mengerti dirimu.


Karena matamu bukanlah mataku,

aku tak bisa melihat semua yang kau lihat.

Karena telingamu bukanlah telingaku,

aku tak bisa mendengar semua yang kau dengar.

Karena pikiranmu bukanlah pikiranku,

aku tak bisa mengetahui apa yang kau pikirkan.

Karena hatimu bukanlah hatiku,

aku tak bisa mengetahui apa yang kau rasakan.


Manusia hidup dengan pengertiannya masing-masing,

aku hidup dengan pengertianku sendiri,

karena itu,

asaku sangatlah sederhana,

aku ingin tuk selalu bisa mengerti dirimu.

Ikutan Pura-Pura Amnesia...*Where's the TTB Doll...?!, It's Gonna Rain...!!!*

Aku lupa...sungguh...aku benar-benar lupa,

aku lupa kapan terakhir kali aku tidak mengingatmu,

bukannya aku tak ingin mencoba tuk mengingat,

aku sendiri pun bingung tuk mencari sebuah hari,

dimana tidak ada dirimu didalam kepalaku.


Aku tak mau...sungguh...aku benar-benar tak mau,

aku tak mau kerinduanku ini membuat angkasa menjadi semakin gelap,

karena setiap kali aku merindukanmu,

satu bintang jatuh ke bumi,

aku tak mau semua bintang jatuh ke bumi,

karena aku tahu besarnya kerinduanku padamu.


Aku mau dirimu...sungguh...aku benar-benar mau dirimu,

meski hanya sebentar rentang waktunya,

seperti embun pagi yang tak pernah lama hadirnya,

menguap dan hilang karena sinar dan hangat mentari,

namun, sejuknya terasa sampai saat ini.


Dengarlah...dengarlah mereka yang selalu bertanya padaku ;

"apa yang akan kamu lakukan dalam sisa hidupmu...?!"

dengarkan...dengarkan aku yang menjawab mereka ;

"aku akan menghabiskannya denganmu...!!!"


Kamu...sosok yang hadir dan berlalu dalam sekejap,

Cerialah selalu...^^

Yesterday, I dream about you...^^

Sebelum gelap memeluk dunia,

aku terjatuh dalam ketidaksadaran,

memasuki ruang gelap pekat saat mataku ini terpejam,

sore itu aku tertidur.


Aku bermimpi,

dalam tidur singkatku kemarin aku bermimpi,

ada aku dan kamu disana,

juga orang-orang yang kita berdua kenal.


Sungguh,

ketika terbangun aku berpikir,

ingin sekali tuk menangis,

hampir setiap malam aku meminta pada Tuhan untuk melihatmu,

dan Ia mengabulkan itu,

kamu datang lewat mimpi dalam tidur singkatku.


Dalam mimpi itu aku melihatmu,

lebih jelas dari semua kenyataan yang ada,

kamu tersenyum lalu tertawa dan berkata-kata padaku,

meski aku tak tahu cerita tentang mimpiku itu,

meski aku lupa,

terima kasih karena kamu telah datang menjenguk aku,

meski hanya dalam mimpi,

terima kasih pada-Nya karena Ia telah mengabulkan permintaanku disetiap malam-malamku,

meski hanya dalam mimpi.


Tak lama kulihat langit malam,

bintang-bintang bertaburan,

ohh...pantas saja,

kamu datang padaku,

kamu datang untuk menjenguk aku,

meski hanya dalam mimpi.



Serpong, 30 Maret 2010. 18:45 WIB

Senin, 23 November 2009

Jika Sekarang Adalah Saat Terakhirku...[ Tribute To : Aryani Kristanti ]

Jika sekarang adalah saat terakhirku,

Jika matiku bukanlah sebuah kematian yang wajar,

Jika tubuhku hancur dan terkoyak,

Jika tubuhku ku tak lagi bisa dikenali oleh siapapun,

Ayahku mengenaliku,

Jika teman-teman dan keluargaku tak lagi mampu melihat wajahku yang hancur,

Ayahku selalu memandangiku dari tempat-Nya,

Dia tahu bahwa aku sedang tersenyum.




Jika sekarang adalah saat terakhirku,

saat kata maaf belum sempat terucap,

saat kata cinta belum ku ungkap,

saat sesal masih membekap,

saat kepahitan masih membuat ruang di hati menjadi pengap,

kepada mereka orang-orang yang pernah mengisi singkatnya kehidupanku,

Ayahku berkata dengan lembut ; “sampaikanlah padaKu semuanya, Aku akan menyampaikan semua pesanmu pada mereka dengan caraKu”.




Jika sekarang adalah saat terakhirku,

Ketika aku masih tersesat,

Ketika aku masih mencari arti dan berusaha memahami,

Ketika aku masih lupa pada hakikat penciptaanku sendiri,

Ketika aku masih mengulangi hal-hal yang dilarang oleh Ayahku,

Ketika aku masih sedemikian jauhnya dari Ayahku,

Ayahku berteriak memanggil-manggil diriku,

Aku pun menjawab panggilanNya ;

“ampunilah anakMu ini, Ayah. Ampunilah aku…”

DijulurkanNya kedua TanganNya padaku,

Aku meraihNya segera,

Dia tidak memarahiku,

Dia hanya menangis.




Jika sekarang adalah saat terakhirku,

kala mimpi masihlah berupa mimpi,

kala kemashyuran masihlah berupa angan,

kala kehidupan masihlah menjadi sebuah beban,

saat mereka berucap demikian ; “kasihan dia, padahal dia masih begitu muda. Terlalu cepat dia pergi…”,

Ayahku berbisik lembut kepadaku ; “waktumu telah selesai, lingkaranmu telah sempurna…”.




Jika sekarang adalah saat terakhirku,

Tak peduli dimana dan bagaimana,

Ayahku akan segera menghampiriku dan berkata ;

“marilah, masuklah kerumahKu…”

Ayahku adalah butiran air mata yang tercipta dari mataku,

Ayahku adalah suara keceriaan yang tercipta dari tawaku,

Ayahku adalah suara jiwa yang berteriak saat aku memalingkan wajahku dariNya,

“Aku menyayangimu, anakKu. Jangan kau palingkan wajahmu dari padaKu…”, teriakNya

Ayahku adalah bisikkan lembut yang meredakan rasa sakit di hati,

“tenang dan sabarlah, jadilah kuat dan tegarlah…”, bisikNya.




Jika sekarang adalah saat terakhirku,

Aku ingin berakhir disana,

Didalam pelukan Ayahku.

Sabtu, 12 September 2009

[ S.H.A ]

Awan putih yang berarak,
Naungi dirimu,
Tak berbeda,
Sama putihnya,
Dimataku.

Dirimu yang berdiri,
Di depanku saat ini,
Ku jadikan sebuah cermin,
Tempatku berkaca,
Menelanjangiku seutuhnya.

Kita pandangi langit biru,
Saling menatap,
Saling berucap,
Dan tersenyum,
Karena hidup tak seperti langit biru,
Namun cinta ;
Mengapa tak kita coba ?!

Long Distance Relationship Darling

Suatu saat nanti kan kubuktikan,
Bahwa kesetiaan yang kumiliki,
Tak bergeming oleh citra-citra dan nuansa yang lain.

Suatu saat nanti kan kubuktikan,
Bahwa cinta sejati itu memang ada,
Mengikis habis cinta-cinta palsu.

Suatu saat nanti kan kubuktikan,
Bahwa kerinduan,
Akan menjaga cintaku padamu.

Senin, 31 Agustus 2009

SUCKER LOVER TENTACLE...

I’m in your “liver” now,
I’m here to “live your life”,
Not to “fu*k” you,
Or make you “drown”.

I’m a part of your “cure”,
I’m here to heal your “fever”,
A discusting “fu*king fever”,
But hey, it’s “taste” so good.

I’m your “guardian angel”,
Always makes you “satisfied”,
Again and again.

I’m “sailing” accros your body,
To find out your “desire”,
I’m “crawling” accros your mind,
To reach out your “pleasure”.

Everybody knows that this is not “love”,
But it’s called “making love”,
And it’s “fun”,
Because, there’s no “pain” at all.

[Untukmu Pelacurku]

Dinginnya malam setubuhi nafasmu yang menderu,
Mental block menahan semua ingatanmu,
Terjaga di larut malam dari mimpi buruk,
Kegelapan ada di sekelilingmu,
Hanya detak jantungku yang beradu dengan detak jam yang bisa telingamu dengar,
Sebentar,
kau berjalan menuju jendela dan kau buka lebar-lebar,
Angin malam yang dingin menyibak rambut hitammu,
Kau duduk termangu disana,
Menatap temaramnya lampu jalan yang mencoba menerangi jalanan yang hitam,
Seperti hidupmu yang tak berarti,
Kehampaan,
Keputusasaan,
Kegalauan,
Adalah desah di bibirmu dan keringat di badanmu yang mampu kutangkapi,
Memory di kepalamu adalah reaksi hormonal dan impuls syaraf yang mengejang,
Selalu terulang setiap malam,
Tak kutemukan kenikmatan di tatapan kosong milikmu,
Bagimu, ini hanya sebuah rutinitas belaka,
Bagiku, ini adalah penyaluran dahaga,
Lantas kau berdiri di tepi jendela,
Seolah kau lupa berada di lantai lima,
Dirimu menangis bersama langit yang gelap pekat,
Kau cari bintang tuk kau simpan di matamu,
Namun tak kautemukan,
Tubuhmu bergetar saat angin menyibak daun-daun pohon beringin,
Daun-daun itu jatuh berguguran,
Terpisah dari sang pemberi kehidupan,
Menjadi layu dan kering,
Mati,
Aku melihatmu berdiri dan siap melompat dari jendela,
Aku mendengarmu saat kau bergumam tentang sesal dan kesal,
“lompatlah…!!!”, ujarku,
“lompatlah tanpa keraguan…!!!”,
Kau mengangguk sambil menyeka air mata,
Sesaat kemudian,
Tangismu sirna,
Senyummu ada tuk selamanya,
Meski layu,
Meski kering,
Mati.

Minggu, 23 Agustus 2009

L.U.V.E.N.A *nama anak perempuan gw kelak LoL*

Hari ini kan kubuat sedikit keajaiban untukmu…

tak banyak memang..hanya sedikit saja…

kan kubuat kau terbang…terbang ke angkasa yang maha luas…

terbang…menuju hangat mentari…



Sudah kukatakan dari dulu…

kamu itu serupa peri…punya sayap…

meski tipis…rapuh…dan kecil…

tapi…sayap itulah yang kan membawamu terbang…

tinggi…dan semakin tinggi…



Hari ini kan kubuat sayapmu cukup kuat tuk terbang tinggi…

terbanglah…kemana pun yang kamu inginkan…

ayo…terbanglah…

gerakkanlah sayap mungilmu itu…

jangan takut jatuh…

aku kan selalu menjagamu dari sini…

aku kan selalu mengawasimu dari sini.


ps : "pergilah ke dunia luas anakku sayang..." by Chairil Anwar

Maaf...Jika Kau Terlupakan....!!!

Tak berkedip mataku memandang,

bintang di bola matamu,

terbitkan cahaya buram,

dalam rintik air mata.



pejamkanlah…matamu lelah dan berselimutkan debu,

tak ingin kulihat pesonamu pudar,

bersama jerit pilu bintang di langit,

dan menghilang.



Biar kuambil lukamu yang hitam,

kutatap wajahmu dalam-dalam,

kusisipkan senyum untukmu hari ini,

ku tahu itu kan terbitkan terang,

di dunia mimpimu yang hitam.

FRIENDSHIP ^^

Setiap orang punya bermacam cerita kehidupan tuk dibagi,

kadang dengan canda, kadang dengan kepiluan,

teman terbaik adalah mereka yang sedikit bicara tentang dirinya,

banyak mendengar dan tak pernah berhenti bertanya,

ingin tahu lebih dalam di dalam pemahaman,

merekalah teman terbaik.

PILU ( Untuk Hati Yang Tak BerNaMa )

Bintangku redup,

bukan karena kamu, bukan karena dia, bukan karena mereka,

tapi karena aku.


Terjaga dan larut bersama malam,

angin melantunkan tembang kerinduan,

yang tak pernah mampu ‘tuk diucapkan,

kepada hati yang tak sanggup ‘tuk kunamakan.



Debu semesta hinggap di mata,

percuma terpejam, hanya terpana,

aku yang bingung hanya berpegang pada asa yang meranggas,

percuma dijaga,

ia serupa makhluk fana yang lainnya.


Maafkan aku mentari,

yang membakar luka hingga kering darahnya,

aku berteriak dalam kebisuan,

bersama muram cuaca yang selalu jadi temen dalam penantian,

mencari dirimu yang berlalu,

sebentar datang dan sebentar hilang,

aku ingin menjadi sesuatu buatmu,

dan kau menjadi segalanya buatku,

dinaungi sebuah bintang yang redup,

bintangmu,

aku.

aku terlalu peduli padamu…dan itu tak perlu tuk kau tahu…

hey, cewek hitam manisku….

senangnya melihatmu baik-baik saja,

senangnya melihatmu bertambah anggun dan lebih manis dari yang dulu,

banyak hal yang berubah darimu,

meski ada beberapa hal dari dirimu yang hilang,

tak perlu kau tahu bahwa aku kehilangan semua itu,

mungkin, kita harus memahami dan menghargai diri kita masing-masing lebih baik lagi,

dan satu hal lagi,

"dilarang mencekik, mencubit, dan memukul dengan alasan apapun tak terkecuali gemas"

dan satu hal lagi,

jika kau bilang bahwa aku memberikan kebahagiaan dan keceriaan padamu,

maka, bagilah kebahagiaan dan keceriaan itu pada orang-orang disekitarmu,

tak perlu cinta dan asmara,

semua kan sirna dan lekas lekang oleh nuansa,

aku ingin mendengar lagi kisah darimu,

"tentang secuil kebahagiaan yang harus dibagi"

dan kutahu,

kau terlalu peduli padaku.

a Note 4 my Failed Guardian Angel

Katakanlah dengan tegas kepadaku,

apakah ini adalah sebuah mimpi ataukah hanya semata-mata ilusi belaka...?!,

Tinggallah...!!!,

jangan tinggalkan aku sendiri dalam suatu kegilaan yang tak terperikan,

Jawablah aku dengan suaramu yang lantang,

sampai kapan ku harus menunggu harapan yang pernah kau janjikan...?!,

Lupakan sajalah...!!!,

kurasa, dalam deru waktu, meskipun harapan itu tiba,

ia hanyalah segumpal waktu yang sia-sia,

Dengarkan aku...!!!,

cukup sudah, aku ingin menghilang dari dunia ini.



ps : i'll do my suicide. Please, don't blame yourself for what I do.

Senin, 17 Agustus 2009

"aku mau note ini ditulis di nisan ku suatu hari nanti..."

aku kan pergi perlahan,

di keindahan dunia pelangi,

dalam istana para malaikat,

kan kutinggalkan semua yang kusayang,

semua yang kucinta,

aku tak ingin ciptakan,

luka dengan kesedihan,

serta ucap penyesalan,

ku kan terbaring diatas gumpalan mega,

dengan senyum kebahagiaan,

apakah aku kan terindukan,

bila berada diatas sana...?!

apakah aku kan diizinkan,

datang dalam mimpi indah...?!

biarkan aku terpejam,

dalam sinaran yang indah,

biarkan cintaku membawa,

kepergianku keatas sana.

"untukmu, aku rela mati untuk hidup kembali, untukmu..."

Lembayung senja sebening kaca,

memancarkan makna ke dalam sukma,

menembus nuansa jiwa,

menerangi cakrawala,

mengorek kata ;

menggelora...!!!,

menyimpan segala duka,

seiring perjalanan usia.


Diantara pejam dan tiada,

mendekap rasa kian membara,

nostalgia masih terkenang,

ungkapan hati masih terngiang,

rindu ini belum pudar,

apakah itu salah...?!,

nuansa indah tinggal kenangan,

inikah akhirnya...?!