[Jika dulu kejadiannya berakhir seperti ini, aku gak akan pernah memaafkan diri aku sendiri]
Zaki masih sibuk berkutat dengan komputer di kantornya. Tak dihiraukannya lagi orang2 di sekitarnya. Di dalam kepalanya hanya ada satu hal, yaitu tugas kantor ini harus selesai tepat pada waktunya.
Beberapa SMS masuk, kesemua SMS itu dilihatnya namun tak dibalasnya. Semenjak kerja, zaki memang berubah, menjadi seorang workaholic.
Tak lama kemudian, HP zaki berbunyi, diraihnya HP tersebut dari meja.
“ya..?!”,ujar zaki pelan.
“kamu gak balas SMS aku, ki…?!”,suara dinda terdengar sedikit kesal.
“aku lagi sibuk sekarang…”
“sampe gak sempat balas SMS aku…?!”
“aku sedang sibuk banget sekarang, nanti akan aku balas…”
“gak usah, udah basi…”
“oh..yaudah kalo gitu..”
Tak ada jawaban dari dinda.
“sabtu minggu besok aku gak bisa ikut kamu ke acara reuni SMA kamu, aku ada kerjaan nih…gak apa2 ya..”
Telefon pun ditutup oleh dinda.
Zaki kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Hari berlalu dengan cepat.
Zaki masih sama seperti dulu, dia begitu menyayangi dinda. Namun, pekerjaannya memang membutuhkan pengorbanan waktu yang sangat besar. Zaki berharap dinda mengerti, namun dinda merasa dirinya kehilangan zaki, seorang pria yang begitu dicintainya.
Disebuah siang yang terik di kawasan perkantoran tersibuk di Jakarta.
Zaki berjalan tergesa menyusuri lobby gedung tempatnya bekerja. Tak disadarinya dinda sedang menanti dirinya di sebuah kafe di lobby gedung tempat zaki bekerja. Dinda pun menghampiri zaki yang sedang berjalan dengan tergesa itu.
“zaki…”, suara dinda memanggil kekkasihnya itu.
Zaki membalikkan badannya mencari sumber suara.
“Dinda…?!, ngapain kamu disini..?!”
“aku mau mengajak kamu makan siang, ki…”
“aku gak bisa, dinda…lain kali aja ya..?!”
“aku sudah disini zaki, ayolah, sebentar saja…”
“aku bener2 gak bisa, dinda. Aku hari ini mau nemuin supplier, ada hal penting yang harus dirapatkan…”
“kenapa kamu seolah menghindari aku, zaki…?!”
“aku gak menghindari kamu, dinda. Tolonglah mengerti, dinda…”
Dinda tak menjawab, hanya mengangguk sambil tersenyum.
Zaki pun melanjutkan langkahnya dan meninggalkan dinda yang hatinya terluka.
Hari-hari terus berlalu. Zaki semakin jauh dari dinda. Semua telefon dan SMS dinda hampir tak ada yang dibalasnya. Frekuensi pertemuan mereka berdua pun semakin jarang. Zaki semakin larut dalam kesibukan pekerjaannya.
Beberapa kali dinda pergi ke kantor zaki hanya sekedar untuk mengajak zaki makan siang, namun dinda harus kembali kecewa dan kecewa, karena zaki begitu memilih pekerjaanya dibanding dirinya.
Di sebuah siang saat jam makan siang.
“aku tak bisa terus2an seperti ini, zaki…”
Zaki mengerutkan dahinya, dia tak mengerti apa yang dikatakan dinda.
“kamu semakin jauh dari aku, ki…apakah kau sadari itu…?!”
Zaki tak menjawab. Dia masih ingin mendengarkan.
“kamu lebih memilih pekerjaan kamu dibanding aku…”
“dinda, aku kerja bukan buat aku aja, buat kamu juga, buat kita..”
“tapi aku gak bisa seperti ini, ki…aku gak bisa…”
Zaki tak menjawab.
“tempatmu bekerja dan tempatku bekerja hanya dipisahkan dua buah gedung saja zaki, tapi kita belum pernah makan siang bersama. Sudah mau dua tahun kita seperti ini, ki…”
“tolonglah mengerti, dinda…”
“katakan padaku, ki….apakah ada perempuan lain…?!”
“kamu ngomong apa sih, dinda…?!”
“bilang saja…!!!”
“tentu tidak ada, dinda…ngawur kamu…!!!”
“lalu, kenapa kamu seperti menghindari aku…?!”
“aku tidak menghindari kamu, dinda. Aku memang sibuk…!!!, tolonglah kamu mengerti…!!!”
“ya, aku mengerti. Aku mengerti kalo aku perlahan-lahan kehilangan kamu. Hanya aku yang kehilangan, kamu tidak…”
“mau kamu apa sih…?!”, ujar zaki dengan suara yang tinggi.
Dinda seolah tersambar petir mendengar kata2 zaki barusan.
“mau aku apa…?!”
“iya, mau kamu apa sih…?!”
“kamu tak tahu mau aku apa…?!, seharusnya kamu tahu, ki…dulu kamu selalu tahu mau aku apa…”
Zaki terdiam. Kepalanya mencari2 jawaban yang dinginkan dinda. Namun sepertinya zaki benar2 lupa.
“kamu tak lagi tahu mau aku apa..?!”
Zaki masih terdiam.
“teruslah seperti ini zaki, aku akan mencoba mengerti bahwa aku akan semakin kehilangan kamu…”, suara dinda lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
“dinda..”
“selamat siang….”, ujar dinda sambil berlalu meninggalkan zaki.
“dindaaa….”, teriak zaki memanggil dinda.
Dinda tak berhenti, hatinya terlalu hancur saat mengetahui bahwa pria yang dicintainya itu sama sekali tak tahu lagi apa yang diinginkannya. Air matanya mengalir.
Waktu terus berjalan dengan cepatnya. Zaki masih terus2an berkutat dengan kesibukannya di pekerjaan. Bahkan semakin tak kenal waktu, zaki begitu larut dengan pekerjaannya.
Dinda benar2 telah kehilangan zaki semenjak hari itu. Tak ada lagi canda zaki yang selalu bisa membuatnya tertawa. tak ada lagi cerita2 dari zaki yang selalu bisa mebuatnya betah mendengarkan berjam-jam di telefon. tak ada lagi tempat untuknya menangis dan berkeluh kesah tentang keluarganya yang semakin hari semakin membuatnya tertekan. Dinda merindukan zaki. Dinda benar2 kehilangan zaki.
Zaki tak pernah tahu bahwa orang tua dinda akan segera bercerai. Zaki tak pernah tahu bahwa kakak laki2 dinda kini berada dalam penjara setelah tertangkap tangan menggunakan narkoba. Zaki tak tahu bahwa dinda semakin hari semakin tertekan dengan keadaan keluarganya sendiri. Zaki tak pernah tahu bahwa kondisi kesehatan tubuh dinda semakin hari semakin menurun. Terlebih lagi, zaki tak pernah tahu bahwa dinda membutuhkan dirinya lebih dari apapun saat ini. zaki tak pernah tahu, zaki terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Di sebuah sore yang mendung. Zaki masih berkutat dengan laporan2 yang menumpuk di meja kerjanya. Sebuah telefon masuk ke HP nya.
“halo..”, sapa zaki.
“zaki, cepetan ke rumah sakit…”, suara seorang perempuan temen dinda terdengar panik
Ngapain ke rumah sakit..?!, siapa yang sakit…?!”, Tanya zaki.
“dinda, zaki…dinda sedang di UGD sekarang…”
“kenapa dia…?!, dinda kenapa…?!”
“cepatlah kesini…”, jawab teman dinda dengan suara panic dan menangis.
Zaki pun langsung loncat dari meja kerjanya. Dengan langkah tergesa dia mengambil kendaraannya di parkiran. Tak lama zaki sudah melaju dengan kencang menuju rumah sakit.
Dicobanya lagi menelfon temannya, namun tak bisa tersambung. Dinding UGD rumah sakit yang tebal memang terkadang mengganggu sinyal HP. Tak lama zaki pun sampai di rumah sakit itu. Dengan langkah tergesa zaki berjalan menuju UGD.
Dilihatnya seorang teman dinda menangis di tempat duduk di depan UGD.
“mana dinda….?!”, Tanya zaki.
“di dalam, para dokter masih mencoba menyelamatkannya…”
Zaki membuka pintu UGD, dilihatnya dinda tengah dikerumuni oleh beberapa dokter dan suster yang sibuk. Dinda seolah kesulitan bernafas. Masker oksigen menutupi separuh wajah dinda.
Air mata zaki meleleh melihat keadaan dinda. Perlahan zaki menghampiri dinda. Dilihatnya dinda begitu kepayahan dalam bernafas. Dilihatnya air mata dinda meleleh di pipinya yang putih. Zaki tersenyum saat dinda melihatnya.
“aku disini, dinda. Aku di sini…”, ujar zaki pelan.
Dinda tak mampu bersuara, hanya mampu menangis. Zaki menyeka air mata dinda.
Dinda berusaha melepas masker oksigen yang ada di wajahnya, dinda berusaha berkata sesuatu ke zaki.
“jangan dilepas dinda, ini harus tetap dipakai…”
Dinda menggeleng, air matanya terus mengalir deras.
“tolonglah…kita akan kehilangan dia bila terus seperti ini…”, suara seorang dokter terdengar jelas di telinga zaki. Zaki pun mulai menangis di depan dinda.
“enggak dinda…jangan…”, kali ini suara zaki terdengar lirih.
“zaki..”, ujar dinda dengan suara yang lemah dan nyaris tidak terdengar.
“aku disini, dinda, aku mendengarkan kamu…”, sahut zaki sambil mendekatkan telinganya ke mulut dinda.
“ini…ini…ini…”, ujar dinda sambil memberikan sebuah kertas kumal yang dari tadi terus digenggamnya kepada zaki.
Zaki mengambil kertas itu dan dibacanya. Itu adalah kertas yang berisi coretan2 mereka saat zaki hendak menyatakan cintanya kepada dinda. Air mata zaki semakin deras mengalir. Tangisnya meledak saat membaca tulisan tangan dinda dan dirinya di bagian bawah kertas itu.
“AKU TAK MAU APA2 DARI KAMU, AKU HANYA MAU KAMU, AKU HANYA MAU KAMU SELALU ADA DI SAMPING AKU, BERJANJILAH.”
“ITU SIH MUDAH, SEPERTINYA TAK PERLU BERJANJI.”
“BERJANJILAH.”
“BAIKLAH, AKU BERJANJI AKAN SELALU ADA BUAT KAMU. AKU AKAN SELALU ADA DI SAMPING KAMU.”
Zaki tak mampu lagi berkata-kata. Semua kenangan dengan dinda hadir kembali. Semua yang terlupa olehnya karena kesibukannya kini diingatnya kembali. Tangis zaki semakin kencang.
“aku tak mau apa2 dari kamu, aku hanya mau kamu..”, ujar dinda lemah
“maafin aku, dinda…maafin aku…aku pikir aku sedang berjuang untuk kita berdua, tapi..tapi…aku lupa…aku lupa bahwa yang kamu mau hanya aku, maafin aku dinda…”, ujar zaki dengan suara yang bergetar.
“tapi kamu sekarang ada buat aku…aku senang…”
Zaki mengangguk.
“aku berjanji, aku akan selalu ada buat kamu…bertahanlah dinda…jangan pergi sekarang…maafkan aku dinda…aku akan selalu ada buat kamu, dinda…aku sayang kamu dinda…jangan pergi…”, ujar zaki dengan suara terbata
Dinda tak menjawab, hanya tersenyum. Tak ada lagi air mata yang mengalir dari mata dinda.
Tangis zaki pun meledak, mengisi setiap ruang yang ada di UGD rumah sakit itu.
Tampilkan postingan dengan label The Saddest Note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Saddest Note. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 November 2009
a sample...hope you'll like it...^^
Seorang pemuda terlihat sibuk membereskan sebuah meja di sebuah kafe. Tangannya terlihat cekatan sekali.
Tak lama, 3 orang perempuan masuk ke dalam kafe tersebut. Pemuda itu melihat perempuan2 tadi sambil mengangkat beberapa buah gelas, tak lama ia berjalan menuju ke bagian belakang kafe itu.
“itu si Rendi kan, ma…?!”, Tanya seorang perempuan ke temannya.
Rima mengangguk pelan.
“hmm…pantas aja ngajak kita berdua ke kafe ini…”, ujar seorang perempuan yang satunya lagi.
Rima tersenyum.
Seorang pelayan menghampiri ketiga orang perempuan itu.
“selamat datang, mau pesan apa…?!”, Tanya pelayan itu ramah.
“ehh…mbak, kami mau pesan, tapi bisa temen mbak aja yang melayani kami tidak..?!”, ujar salah seorang perempuan tadi.
“susan….!!!”, sahut Rima.
“udah, gak apa2 koq…!!!”, ujar susan
“boleh koq, kalo boleh tau namanya siapa…?!”, ujar pelayan itu.
“rendi, mbak…”, ujar perempuan yang satu lagi.
“aduuuhh, Mita…!!!”, ujar Rima lagi.
“kami bertiga temannya rendi di kampus, mbak…tolong ya mbak…”, ujar mita menambahkan.
Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum.
Tak lama, pemuda yang bernama rendi datang menghampiri meja ketiga perempuan tadi.
“mau pesan apa…?!”, ujar rendi sambil bersiap mencatat pesanan.
“loe kerja disini, ren…?!”, Tanya susan.
“yup, seperti yang bisa loe liat sekarang…”, ujar rendi datar.
“enaknya pesen apa ya…?!”, Tanya mita sambil menatap rendi.
“liat aja di menu…”, sahut rendi sambil menatap balik mita.
“gw pesen yang biasa aja ya, ren..”, ujar rima.
rendi hanya mengangguk.
Tak lama, rendi selesai mencatat pesanan ketiga perempuan tadi.
“loe yang bawain pesanan kita ya, ren…”, ujar mita.
Rendi tak menjawab, kemudian dia berjalan ke belakang kafe.
15 menit kemudian rendi keluar sambil membawa pesanan ketiga perempuan yang juga temannya di kampus itu.
Setelah itu rendi sibuk kembali melayani pelanggan2 lain.
“dia sepertinya cowok yang bermasalah deh, ma…?!”, ujar susan sambil mengaduk2 strawberry nmilkshake di gelasnya dengan sedotan.
Rima menggeleng pelan. Dari tadi dia terus memperhatikan rendi.
“serius loe pernah pacaran sama cowok model begitu, ma..?!”, kali ini mita bertanya.
Rima mengangguk.
“kenapa harus dia lagi, ma…?!, kayak gak ada cowok lain aja…”, Tanya mita lagi.
“tak tahulah, hati gw maunya dia, dan hati gw gak pernah salah…”, ujar rima.
“meski loe akan tersakiti nanti…”
“iya, ma…”
“gw pernah menyakiti dia…gw rasa kalo dia nyakitin gw, kami impas, dan lagi, gw Cuma ngikutin perasaan gw aja…”, jawab rima.
Obrolan diantara ketiga perempuan itu terus berlanjut. Rendi masih sibuk melayani pesanan pelanggan yang mulai memadati kafe itu.
Satu jam kemudian ketiga perempuan itu beranjak dari mejanya. Rima menghampiri rendi.
“ren, loe punya waktu gak malam ini…?!”
“jawaban gw sama seperti hari2 kemarin, gak punya…”
“Malam ini saja, ren…please…”
“sorry banget, ma…tapi gw kerja di kafe ini sampe malam…”
“bisanya kapan…?!”
“gw juga gak tahu kapan…sorry banget ya…”
“gak apa2 koq, ren…”, ujar rima pelan sambil menahan rasa kecewa dan sedih yang terus berulang.
“yaudah, gw pergi dulu ya…sampai ketemu besok pagi di kampus…”
“ya…”, ujar rendi pelan.
Rima berjalan menghampiri kedua temannya, lalu mereka bertiga berjalan keluar dari kafe. Rendi terus memandangi mereka.
“gila loe, ren…gak kasian apa sama itu cewek, tiap dia ngajak loe janjian buat ketemu selalu loe tolak…?!?!”, ujar seorang pelayan lain.
“karena gw kasian sama dia, makanya gw tolak terus…”
“sesekali loe terima lah ajakan dia, kasian tau, ren…”
“sudahlah…”, ujar rendi menyudahi pembicaraan.
Keesokan harinya di kampus.
“rendi…”, suara rima menghentikan langkah rendi.
Rendi menoleh ke arah rima.
“ada waktu gak nanti sore…?!”
Rendi menggeleng pelan.
“ohh…umh…gw mau ngajak loe ke dokter…”
“ngapain ke dokter…?!”
“check up…”
“gw harus kerja di kafe nanti sore sampai malam…maaf ya, ma..”
Rima menganggu sambil terseyum. Rendi bisa menangkap senyum rima yang sedikit dipaksakan.
“kapan kamu punya waktu buat aku, rendi…?!. Sehari saja, rendi…aku hanya ingin kamu tahu dan mengerti…”, ujar rima didalam hatinya.
“kedua teman loe mana..?!”, tanya rendi.
“susan gak masuk kampus hari ini, mita tadi dijemput pacarnya…”
“ohh…”
“yasudah, gw pergi ke dokter sendirian aja…”
“maaf ya, rima…”
Rima hanya tersenyum.
“yasudah, loe berangkat ke kafe, nanti telat…”
“iya..”
“hati2 di jalan ya…”
“iya…”
Beberapa minggu kemudian.
Rendi sedang membereskan beberapa buah payung besar di depan kafe. Badannya basah kuyup dihantam hujan deras. Angin kencang yang disertai hujan memang sempat membuat payung2 besar di depan kafenya hampir tumbang. Setelah selesai, rendi tak langsung masuk ke dalam kafe, dia diam dan duduk di jalan besar di depan kafe tempat dia bekerja. Ia meraih HP di saku celananya yang berbunyi. Sebuah telefon dari rima.
Rendi masih melihat HP nya, setelah menghela nafas panjang, dimatikannya HP nya lalu dimasukkan ke dalam saku celananya kembali. Rendi terduduk di trotoar, dibenamkannya kepalanya ke kedua lengannya. Rendi pun menangis.
Tak jauh dari rendi. Sebuah mobil sedan terparkir di pinggir jalan. Seorang perempuan di dalam mobil itu pun menangis. Sebuah lagu yang pernah dibawakan rendi bersama beberapa teman band nya saat acara musik di kampusnya turut larut bersama tangisnya.
Dia tahu lagu itu buat dia, meski rendi pernah berkata tidak. Dia tahu lagu itu untuknya. Hatinya yang memberi tahu.
"I never really wanted you to see
The screwed up side of me that I keep
Locked inside of me so deep
It always seems to get to me...
I never really wanted you to go
So many things you should have known
I guess for me there's just no hope
I never meant to be so cold...
What I really meant to say
Is I'm sorry for the way I am
I never meant to be so cold
Never meant to be so cold
What I really meant to say
Is I'm sorry for the way I am
I never meant to be so cold
Never meant to be so cold..."
http://www.youtube.com/watch?v=n61Du5lhWio&feature=fvst
( CROSSFADE - COLD )
Perempuan itu menghampiri rendi yang masih terisak di pinggir jalan yang mulai sepi dari kendaraan. Hujan masih turun dengan derasnya.
“rendi…”, ujar perempuan itu sambil berdiri di depan rendi.
“rima…”, sahut rendi sambil menatap rima.
“untuk yang kesekian kalinya, ren….aku minta maaf sama kamu…”
“sudahlah, ma…gak usah dibahas lagi…”
“aku tahu kalau aku pernah nyakitin kamu…”
“sudahlah, aku malas untuk mengingat-ingat lagi ke masa itu…”
“aku tak bisa terus2an menahan perasaan aku, ren…aku tak bisa tuk terus2an merasa kecewa seperti ini…”
“sudahlah, rima…aku benar2 sedang tidak ingin mengingat-ingat lagi…tolonglah…”
“sepahit itukah hatimu, ren…?!”
“pertanyaan macam apa itu…?!”
“iya, sepahit itukah hatimu bila denganku…?!, kamu sakiti aku terus, ren….!!!, aku ingin meengajakmu berbincang berdua saja, aku ingin bercerita agar kamu bisa mengerti, ren…”
“tak ada lagi yang harus kamu ceritakan, ma…dan tak ada lagi yang harus kumengerti…”
“Aku sayang kamu, ren…”,suara rima lirih, air matanya mulai meleleh kembali.
“sayang…?!”
“iya, ren…aku selalu sayang sama kamu, gak pernah berubah ren…”
“kamu sayang sama aku…?!”, Tanya rendi sambil bangkit berdiri.
Rima mengangguk, air mata mengalir deras dari kedua matanya.
“kamu pergi diwaktu aku terkena musibah, ma…apakah kamu lupa…?!”, suara rendi keras.
“aku tahu, ren…aku minta maaf…”
“apakah kamu tahu rasanya kehilangan kedua orang tua sekaligus…?!, apakah kamu tahu rasanya bekerja demi aku dan adikku satu2nya…?!, apakah kamu tahu bagaimana rasanya orang yang kamu sayang ternyata pergi ketika kamu sangat2 membutuhkan dirinya…?!, terlebih lagi, kamu sendiri tidak tahu orang yang kamu sayangi itu pergi kemana…?!, dia tiba2 saja lenyap, menghilang begitu saja…!!!”, ujar rendi dengan suara bergetar.
Rima tak menjawab. Dia hanya bisa menangis.
“jika kamu bertanya tentang kepahitan hatiku padamu, aku rasa kamu tahu sebabnya…”
“maafin aku, rendi…”, suara rima bercampur dengan tangisnya yang terisak. Kedua kakinya tak kuat lagi berdiri. Rima pun terduduk di trotoar.
“aku memang sayang kamu, ma…namun, semenjak hari itu, di dalam hatiku hanya ada ketegaran, semenjak hari itu, aku jatuh cinta pada ketegaran…tak ada lagi ruang di hatiku yang tersisa buatmu…”
“dengarkan aku, rendi…”, rima bangkit berdiri dan mendekati rendi.
“pulanglah, ma… aku bahkan menganggap kamu sudah tidak ada lagi…”
“Ren…”, ujar rima sambil meraih jemari rendi.
“pulanglah, rima…pulanglah…”, sahut rendi sambil melepaskan genggaman rima dan berjalan meninggalkan rima.
“aku tak minta banyak, ren…!!!, sehari saja…!!!, aku ingin menceritakannya padamu rendi…!!!, sehari saja, rendi…!!!” teriak rima.
“ aku sibuk, ma…tak bisakah kamu lihat…?!”, sahut rendi sambil melanjutkan langkahnya berjalan menuju kafe.
“sehari saja rendi…tolonglah…!!!”
rendi tak bergeming, dia pun masuk ke dalam kafe meninggalkan rina yang masih menangis bersama hujan malam ini.
sebulan kemudian.
“rendi…”, teriak rima sambil menghampiri rendi.
“ya..?!”, sahut rendi datar.
“liburan semester ini mau kemana…?!”
“gak kemana-mana, gw kerja seperti biasa…”
“libur 3 bulan dihabiskan buat kerja…?!”
Rendi mengangguk.
“boleh ngobrol sebentar di bangku taman sana…?!, sebentaran aja…”
“jangan lama2 ya…gw harus ke kafe soalnya…”
“iya, janji…Cuma 15 menit aja…”, sahut rima sambill tersenyum.
Kedua orang itu pun berjalan menuju bangku di taman samping gedung perkuliahan.
“rendi…”, ujar rima membuka obrolan.
“ya…?!”
“kamu memang cowok paling tegar yang aku kenal, aku tahu aku udah nyakitin kamu, dan bila kamu nyakitin aku, aku anggap kita impas…”
Rendi mengerutkan dahinya.
“aku Cuma mau berpesan ke kamu, kamu harus jaga diri kamu baik2, aku tahu kamu bisa…aku sayang sama kamu rendi, selalu sayang sama kamu…dan sebulan ini…”, rima berhenti berkata-kata, matanya mulai berkaca-kaca.
Rendi diam dan mendengarkan.
“sebulan ini aku berusaha berdamai dengan masa lalu aku, dengan perasaan aku ke kamu, dengan diriku sendiri…dan…”, rima terdiam sambil menyeka air mata yang meleleh di kedua pipinya.
“dan apa…?!”, Tanya rendi.
“dan aku minta maaf sama kamu atas apa yang aku perbuat ke kamu waktu itu…”
Rendi terdiam.
“itu aja sih yang mau aku omongin ke kamu…kamu jaga diri kamu baik2 ya, aku akan sangat2 merindukan kamu, ren…”
“datang saja ke kafe bila kamu mau melihat aku…”, ujar rendi.
Rima tak menjawab. Hanya menangis sambil dicobanya tersenyum.
“itu saja…?!”, Tanya rendi.
Rima mengangguk sambil menyeka kedua matanya kembali.
“aku tahu kamu, rima…masih ada yang kamu mau ceritakan kan…?!”
rima menggeleng pelan.
“yasudah, aku pergi dulu ya…”
“ren…”
“ya…?!”
“ambillah cuti sehari saja dalam 3 bulan ini, dan temuilah aku…”
“untuk apa…?!”
“aku masih ingin bercerita ke kamu…sehari saja…”
Rendi tak menjawab.
“selamat liburan ya…aku pergi dulu…”, ujar rendi sambil berlalu dari taman.
Sudah 2 bulan ini rendi tak melihat rima datang ke kafe tempat kerjanya. Rendi berpikiran rima sedang liburan ke luar negeri seperti liburan2 yang lalu. Hanya ada kedua teman rima yang sering datang ke kafe tempat rendi kerja. Rendi pun sering bingung bila tiba2 kedua teman rima itu mengambil gambar dirinya atau merekam dirinya dengan HP mereka. Dalam benaknya, susan dan mita mengambil gambar dirinya dan merekan dirinya untuk dikirim kepada rima yang sedang ada di luar negeri.
Seminggu lagi sebelum masuk kuliah. Rima pun masih belum pernah datang ke kafe rendi. Rendi mulai merasakan keanehan yang pernah terjadi saat rima pergi dan menghilang sewaktu kedua orang tua rendi meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil 3 tahun silam.
Rendi memacu motornya di jalanan yang sepi dengan kecepatan tinggi. Kepalanya masih memikirkan rima. Otak rendi pun memutar potongan2 memori dirinya saat masih bersama rima. Tanpa disadari oleh rendi, motornya terus bergerak ke tengah jalan, dan terus bergerak ke kanan jalan. Sebuah truk berjalan dengan kencang ke arah rendi. Truk itu membunyiukan klakson berkali-kali dan memain kan dim lampu. Rendi tersadar dan kaget melihat sebuah truk besar di depannya. Dibantingnya kemudi motornya kearah pinggir jalan sebelah kanan…
CKIIITTTT……BRAAAAAAKKKKKKK…..!!!!
Motor rendi tertabrak dan terseret sejauh 10 meter. Rendi tergeletak di pinggir jalan dan tak sadarkan diri.
Rendi membuka kedua matanya. Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di lengan dan kakinya. Dicobanya untuk duduk, sambil terus2an mengaduh karena merasakan sakit di sekujur badannya, rendi pun terduduk di ranjang sebuah rumah sakit.
Dilihatnya satu persatu lukanya, kebanyakan hanya luka lecet dan memar. Rendi pun melihat sekelilingnya. Seorang teman baiknya di kafe tertidur di lantai. Adik perempuan satu2nya tertidur di kursi di samping tempat tidurnya.
Hari masih pagi. Rendi pun melanjutkan tidurnya. Jemarinya menggenggam jemari adiknya.
Rendi terbangun saat hari mulai beranjak siang. Hanya ada dirinya di dalam kamarnya. Temannya itu pasti sudah pergi kerja ke kafe. Adik perempuannya pasti sedang sekolah.
“sudah bangun, pak…?!”, suara ramah seorang suster sambil menghampiri rendi.
“iya..”
“masih sakit gak tangan dan kakinya..?!”
“masih lumayan sakit, sus…”
“saya suntik antibiotik dulu ya, pak..”
Rendi mengangguk sambil melihat suster tersebut menyuntikkan antibiotic ke dalam selang infusnya.
“sebentar lagi kita ke ruang CT scan ya, pak…”
“iya…”
“sebentar ya, saya ambil kursi rodanya dulu..”
Rendi mengangguk.
Tak lama, rendi pun sudah berada di kursi roda menuju ruang CT scan.
Setelah setengah jam rendi pun keluar dari ruang CT scan itu.
Rendi masih duduk di kursi roda di ruang tunggu CT scan. Suster yang mengantarnya masih ada di dalam ruang CT scan. Dilihatnya sekelilingnya. Pandanganya tertuju pada seorang perempuan yang terbaring lemah di sebuah ranjang di pojok ruang tunggu ini. diperhatikannya dengan seksama perempuan itu. Didekatinya perempuan itu. Semakin rendi mendorong kursi rodanya mendekati ranjang perempuan itu, semakin hancur rasa pahit di hatinya, semakin dekat dirinya dengan perempuan itu, semakin deras air matanya mengalir.
“rima…”, ujar rendi lirih.
Tak ada jawaban, yang rendi dengar hanya suara erangan pelan.
“rimaaa…”, perempuan itu menoleh ke arah rendi.
“rendi…”, ujar rima pelan. Senyum khasnya muncul dengan air mata.
“kenapa, ma…kenapa…?!”, sahut rendi sambil menyeka air mata rima.
Rima hanya tersenyum dengan derai air mata.
Rendi pun tak kuasa menahan tangisnya. Dicobanya tuk berdiri, tak dihiraukan lagi rasa sakit di tangan dan kakinya.
“ceritakan padaku, ma…”
“aku ingin sekali bercerita padamu, tapi kamu tak pernah punya waktu buatku…”
Tangis rendi semakin kencang mendengar kata2 rima.
“maafin aku, rima…”
“itu bukan salah kamu, rendi. Kamu berhak menyakiti orang yang udah nyakitin kamu, anggap saja kita impas…”
Rendi membelai rambut rima dan menggenggam jemari rima.
“Tuhan menjawab doaku, ren…”
Rendi tak berkata, hanya menangis.
“kamu ada disini sekarang denganku, Tuhan menjawab doaku, ren…”
Rendi tak lagi mampu berkata-kata, berkali-kali dia menciumi tangan rima.
“tak lama lagi, ren…tak lama lagi…”
Rendi mencoba tenang. Ditariknya nafasnya dalam2. ceritakan padaku, ren…ceritakan padaku semuanya…”
“masih ada waktu beberapa hari lagi, aku akan ceritakan semuanya…”
“maafin aku, ma…aku tak setegar yang kamu pikirkan…”
“enggak, ren…kamu memang tegar…tegarlah buatku kali ini…”
Rendi mengangguk. Kedua orang itu pun larut dalam tangis. Air mata rupanya telah meluluh lantakkan rasa pahit yang telah membatu di hati rendi.
“aku ingin ada terus di sisi kamu hingga saat terakhirmu…aku sayang kamu, rima…”, ujar rendi sambil menyeka air mata di mata rima dan mengecup senyum di bibir rima.
Tak lama, 3 orang perempuan masuk ke dalam kafe tersebut. Pemuda itu melihat perempuan2 tadi sambil mengangkat beberapa buah gelas, tak lama ia berjalan menuju ke bagian belakang kafe itu.
“itu si Rendi kan, ma…?!”, Tanya seorang perempuan ke temannya.
Rima mengangguk pelan.
“hmm…pantas aja ngajak kita berdua ke kafe ini…”, ujar seorang perempuan yang satunya lagi.
Rima tersenyum.
Seorang pelayan menghampiri ketiga orang perempuan itu.
“selamat datang, mau pesan apa…?!”, Tanya pelayan itu ramah.
“ehh…mbak, kami mau pesan, tapi bisa temen mbak aja yang melayani kami tidak..?!”, ujar salah seorang perempuan tadi.
“susan….!!!”, sahut Rima.
“udah, gak apa2 koq…!!!”, ujar susan
“boleh koq, kalo boleh tau namanya siapa…?!”, ujar pelayan itu.
“rendi, mbak…”, ujar perempuan yang satu lagi.
“aduuuhh, Mita…!!!”, ujar Rima lagi.
“kami bertiga temannya rendi di kampus, mbak…tolong ya mbak…”, ujar mita menambahkan.
Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum.
Tak lama, pemuda yang bernama rendi datang menghampiri meja ketiga perempuan tadi.
“mau pesan apa…?!”, ujar rendi sambil bersiap mencatat pesanan.
“loe kerja disini, ren…?!”, Tanya susan.
“yup, seperti yang bisa loe liat sekarang…”, ujar rendi datar.
“enaknya pesen apa ya…?!”, Tanya mita sambil menatap rendi.
“liat aja di menu…”, sahut rendi sambil menatap balik mita.
“gw pesen yang biasa aja ya, ren..”, ujar rima.
rendi hanya mengangguk.
Tak lama, rendi selesai mencatat pesanan ketiga perempuan tadi.
“loe yang bawain pesanan kita ya, ren…”, ujar mita.
Rendi tak menjawab, kemudian dia berjalan ke belakang kafe.
15 menit kemudian rendi keluar sambil membawa pesanan ketiga perempuan yang juga temannya di kampus itu.
Setelah itu rendi sibuk kembali melayani pelanggan2 lain.
“dia sepertinya cowok yang bermasalah deh, ma…?!”, ujar susan sambil mengaduk2 strawberry nmilkshake di gelasnya dengan sedotan.
Rima menggeleng pelan. Dari tadi dia terus memperhatikan rendi.
“serius loe pernah pacaran sama cowok model begitu, ma..?!”, kali ini mita bertanya.
Rima mengangguk.
“kenapa harus dia lagi, ma…?!, kayak gak ada cowok lain aja…”, Tanya mita lagi.
“tak tahulah, hati gw maunya dia, dan hati gw gak pernah salah…”, ujar rima.
“meski loe akan tersakiti nanti…”
“iya, ma…”
“gw pernah menyakiti dia…gw rasa kalo dia nyakitin gw, kami impas, dan lagi, gw Cuma ngikutin perasaan gw aja…”, jawab rima.
Obrolan diantara ketiga perempuan itu terus berlanjut. Rendi masih sibuk melayani pesanan pelanggan yang mulai memadati kafe itu.
Satu jam kemudian ketiga perempuan itu beranjak dari mejanya. Rima menghampiri rendi.
“ren, loe punya waktu gak malam ini…?!”
“jawaban gw sama seperti hari2 kemarin, gak punya…”
“Malam ini saja, ren…please…”
“sorry banget, ma…tapi gw kerja di kafe ini sampe malam…”
“bisanya kapan…?!”
“gw juga gak tahu kapan…sorry banget ya…”
“gak apa2 koq, ren…”, ujar rima pelan sambil menahan rasa kecewa dan sedih yang terus berulang.
“yaudah, gw pergi dulu ya…sampai ketemu besok pagi di kampus…”
“ya…”, ujar rendi pelan.
Rima berjalan menghampiri kedua temannya, lalu mereka bertiga berjalan keluar dari kafe. Rendi terus memandangi mereka.
“gila loe, ren…gak kasian apa sama itu cewek, tiap dia ngajak loe janjian buat ketemu selalu loe tolak…?!?!”, ujar seorang pelayan lain.
“karena gw kasian sama dia, makanya gw tolak terus…”
“sesekali loe terima lah ajakan dia, kasian tau, ren…”
“sudahlah…”, ujar rendi menyudahi pembicaraan.
Keesokan harinya di kampus.
“rendi…”, suara rima menghentikan langkah rendi.
Rendi menoleh ke arah rima.
“ada waktu gak nanti sore…?!”
Rendi menggeleng pelan.
“ohh…umh…gw mau ngajak loe ke dokter…”
“ngapain ke dokter…?!”
“check up…”
“gw harus kerja di kafe nanti sore sampai malam…maaf ya, ma..”
Rima menganggu sambil terseyum. Rendi bisa menangkap senyum rima yang sedikit dipaksakan.
“kapan kamu punya waktu buat aku, rendi…?!. Sehari saja, rendi…aku hanya ingin kamu tahu dan mengerti…”, ujar rima didalam hatinya.
“kedua teman loe mana..?!”, tanya rendi.
“susan gak masuk kampus hari ini, mita tadi dijemput pacarnya…”
“ohh…”
“yasudah, gw pergi ke dokter sendirian aja…”
“maaf ya, rima…”
Rima hanya tersenyum.
“yasudah, loe berangkat ke kafe, nanti telat…”
“iya..”
“hati2 di jalan ya…”
“iya…”
Beberapa minggu kemudian.
Rendi sedang membereskan beberapa buah payung besar di depan kafe. Badannya basah kuyup dihantam hujan deras. Angin kencang yang disertai hujan memang sempat membuat payung2 besar di depan kafenya hampir tumbang. Setelah selesai, rendi tak langsung masuk ke dalam kafe, dia diam dan duduk di jalan besar di depan kafe tempat dia bekerja. Ia meraih HP di saku celananya yang berbunyi. Sebuah telefon dari rima.
Rendi masih melihat HP nya, setelah menghela nafas panjang, dimatikannya HP nya lalu dimasukkan ke dalam saku celananya kembali. Rendi terduduk di trotoar, dibenamkannya kepalanya ke kedua lengannya. Rendi pun menangis.
Tak jauh dari rendi. Sebuah mobil sedan terparkir di pinggir jalan. Seorang perempuan di dalam mobil itu pun menangis. Sebuah lagu yang pernah dibawakan rendi bersama beberapa teman band nya saat acara musik di kampusnya turut larut bersama tangisnya.
Dia tahu lagu itu buat dia, meski rendi pernah berkata tidak. Dia tahu lagu itu untuknya. Hatinya yang memberi tahu.
"I never really wanted you to see
The screwed up side of me that I keep
Locked inside of me so deep
It always seems to get to me...
I never really wanted you to go
So many things you should have known
I guess for me there's just no hope
I never meant to be so cold...
What I really meant to say
Is I'm sorry for the way I am
I never meant to be so cold
Never meant to be so cold
What I really meant to say
Is I'm sorry for the way I am
I never meant to be so cold
Never meant to be so cold..."
http://www.youtube.com/watch?v=n61Du5lhWio&feature=fvst
( CROSSFADE - COLD )
Perempuan itu menghampiri rendi yang masih terisak di pinggir jalan yang mulai sepi dari kendaraan. Hujan masih turun dengan derasnya.
“rendi…”, ujar perempuan itu sambil berdiri di depan rendi.
“rima…”, sahut rendi sambil menatap rima.
“untuk yang kesekian kalinya, ren….aku minta maaf sama kamu…”
“sudahlah, ma…gak usah dibahas lagi…”
“aku tahu kalau aku pernah nyakitin kamu…”
“sudahlah, aku malas untuk mengingat-ingat lagi ke masa itu…”
“aku tak bisa terus2an menahan perasaan aku, ren…aku tak bisa tuk terus2an merasa kecewa seperti ini…”
“sudahlah, rima…aku benar2 sedang tidak ingin mengingat-ingat lagi…tolonglah…”
“sepahit itukah hatimu, ren…?!”
“pertanyaan macam apa itu…?!”
“iya, sepahit itukah hatimu bila denganku…?!, kamu sakiti aku terus, ren….!!!, aku ingin meengajakmu berbincang berdua saja, aku ingin bercerita agar kamu bisa mengerti, ren…”
“tak ada lagi yang harus kamu ceritakan, ma…dan tak ada lagi yang harus kumengerti…”
“Aku sayang kamu, ren…”,suara rima lirih, air matanya mulai meleleh kembali.
“sayang…?!”
“iya, ren…aku selalu sayang sama kamu, gak pernah berubah ren…”
“kamu sayang sama aku…?!”, Tanya rendi sambil bangkit berdiri.
Rima mengangguk, air mata mengalir deras dari kedua matanya.
“kamu pergi diwaktu aku terkena musibah, ma…apakah kamu lupa…?!”, suara rendi keras.
“aku tahu, ren…aku minta maaf…”
“apakah kamu tahu rasanya kehilangan kedua orang tua sekaligus…?!, apakah kamu tahu rasanya bekerja demi aku dan adikku satu2nya…?!, apakah kamu tahu bagaimana rasanya orang yang kamu sayang ternyata pergi ketika kamu sangat2 membutuhkan dirinya…?!, terlebih lagi, kamu sendiri tidak tahu orang yang kamu sayangi itu pergi kemana…?!, dia tiba2 saja lenyap, menghilang begitu saja…!!!”, ujar rendi dengan suara bergetar.
Rima tak menjawab. Dia hanya bisa menangis.
“jika kamu bertanya tentang kepahitan hatiku padamu, aku rasa kamu tahu sebabnya…”
“maafin aku, rendi…”, suara rima bercampur dengan tangisnya yang terisak. Kedua kakinya tak kuat lagi berdiri. Rima pun terduduk di trotoar.
“aku memang sayang kamu, ma…namun, semenjak hari itu, di dalam hatiku hanya ada ketegaran, semenjak hari itu, aku jatuh cinta pada ketegaran…tak ada lagi ruang di hatiku yang tersisa buatmu…”
“dengarkan aku, rendi…”, rima bangkit berdiri dan mendekati rendi.
“pulanglah, ma… aku bahkan menganggap kamu sudah tidak ada lagi…”
“Ren…”, ujar rima sambil meraih jemari rendi.
“pulanglah, rima…pulanglah…”, sahut rendi sambil melepaskan genggaman rima dan berjalan meninggalkan rima.
“aku tak minta banyak, ren…!!!, sehari saja…!!!, aku ingin menceritakannya padamu rendi…!!!, sehari saja, rendi…!!!” teriak rima.
“ aku sibuk, ma…tak bisakah kamu lihat…?!”, sahut rendi sambil melanjutkan langkahnya berjalan menuju kafe.
“sehari saja rendi…tolonglah…!!!”
rendi tak bergeming, dia pun masuk ke dalam kafe meninggalkan rina yang masih menangis bersama hujan malam ini.
sebulan kemudian.
“rendi…”, teriak rima sambil menghampiri rendi.
“ya..?!”, sahut rendi datar.
“liburan semester ini mau kemana…?!”
“gak kemana-mana, gw kerja seperti biasa…”
“libur 3 bulan dihabiskan buat kerja…?!”
Rendi mengangguk.
“boleh ngobrol sebentar di bangku taman sana…?!, sebentaran aja…”
“jangan lama2 ya…gw harus ke kafe soalnya…”
“iya, janji…Cuma 15 menit aja…”, sahut rima sambill tersenyum.
Kedua orang itu pun berjalan menuju bangku di taman samping gedung perkuliahan.
“rendi…”, ujar rima membuka obrolan.
“ya…?!”
“kamu memang cowok paling tegar yang aku kenal, aku tahu aku udah nyakitin kamu, dan bila kamu nyakitin aku, aku anggap kita impas…”
Rendi mengerutkan dahinya.
“aku Cuma mau berpesan ke kamu, kamu harus jaga diri kamu baik2, aku tahu kamu bisa…aku sayang sama kamu rendi, selalu sayang sama kamu…dan sebulan ini…”, rima berhenti berkata-kata, matanya mulai berkaca-kaca.
Rendi diam dan mendengarkan.
“sebulan ini aku berusaha berdamai dengan masa lalu aku, dengan perasaan aku ke kamu, dengan diriku sendiri…dan…”, rima terdiam sambil menyeka air mata yang meleleh di kedua pipinya.
“dan apa…?!”, Tanya rendi.
“dan aku minta maaf sama kamu atas apa yang aku perbuat ke kamu waktu itu…”
Rendi terdiam.
“itu aja sih yang mau aku omongin ke kamu…kamu jaga diri kamu baik2 ya, aku akan sangat2 merindukan kamu, ren…”
“datang saja ke kafe bila kamu mau melihat aku…”, ujar rendi.
Rima tak menjawab. Hanya menangis sambil dicobanya tersenyum.
“itu saja…?!”, Tanya rendi.
Rima mengangguk sambil menyeka kedua matanya kembali.
“aku tahu kamu, rima…masih ada yang kamu mau ceritakan kan…?!”
rima menggeleng pelan.
“yasudah, aku pergi dulu ya…”
“ren…”
“ya…?!”
“ambillah cuti sehari saja dalam 3 bulan ini, dan temuilah aku…”
“untuk apa…?!”
“aku masih ingin bercerita ke kamu…sehari saja…”
Rendi tak menjawab.
“selamat liburan ya…aku pergi dulu…”, ujar rendi sambil berlalu dari taman.
Sudah 2 bulan ini rendi tak melihat rima datang ke kafe tempat kerjanya. Rendi berpikiran rima sedang liburan ke luar negeri seperti liburan2 yang lalu. Hanya ada kedua teman rima yang sering datang ke kafe tempat rendi kerja. Rendi pun sering bingung bila tiba2 kedua teman rima itu mengambil gambar dirinya atau merekam dirinya dengan HP mereka. Dalam benaknya, susan dan mita mengambil gambar dirinya dan merekan dirinya untuk dikirim kepada rima yang sedang ada di luar negeri.
Seminggu lagi sebelum masuk kuliah. Rima pun masih belum pernah datang ke kafe rendi. Rendi mulai merasakan keanehan yang pernah terjadi saat rima pergi dan menghilang sewaktu kedua orang tua rendi meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil 3 tahun silam.
Rendi memacu motornya di jalanan yang sepi dengan kecepatan tinggi. Kepalanya masih memikirkan rima. Otak rendi pun memutar potongan2 memori dirinya saat masih bersama rima. Tanpa disadari oleh rendi, motornya terus bergerak ke tengah jalan, dan terus bergerak ke kanan jalan. Sebuah truk berjalan dengan kencang ke arah rendi. Truk itu membunyiukan klakson berkali-kali dan memain kan dim lampu. Rendi tersadar dan kaget melihat sebuah truk besar di depannya. Dibantingnya kemudi motornya kearah pinggir jalan sebelah kanan…
CKIIITTTT……BRAAAAAAKKKKKKK…..!!!!
Motor rendi tertabrak dan terseret sejauh 10 meter. Rendi tergeletak di pinggir jalan dan tak sadarkan diri.
Rendi membuka kedua matanya. Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di lengan dan kakinya. Dicobanya untuk duduk, sambil terus2an mengaduh karena merasakan sakit di sekujur badannya, rendi pun terduduk di ranjang sebuah rumah sakit.
Dilihatnya satu persatu lukanya, kebanyakan hanya luka lecet dan memar. Rendi pun melihat sekelilingnya. Seorang teman baiknya di kafe tertidur di lantai. Adik perempuan satu2nya tertidur di kursi di samping tempat tidurnya.
Hari masih pagi. Rendi pun melanjutkan tidurnya. Jemarinya menggenggam jemari adiknya.
Rendi terbangun saat hari mulai beranjak siang. Hanya ada dirinya di dalam kamarnya. Temannya itu pasti sudah pergi kerja ke kafe. Adik perempuannya pasti sedang sekolah.
“sudah bangun, pak…?!”, suara ramah seorang suster sambil menghampiri rendi.
“iya..”
“masih sakit gak tangan dan kakinya..?!”
“masih lumayan sakit, sus…”
“saya suntik antibiotik dulu ya, pak..”
Rendi mengangguk sambil melihat suster tersebut menyuntikkan antibiotic ke dalam selang infusnya.
“sebentar lagi kita ke ruang CT scan ya, pak…”
“iya…”
“sebentar ya, saya ambil kursi rodanya dulu..”
Rendi mengangguk.
Tak lama, rendi pun sudah berada di kursi roda menuju ruang CT scan.
Setelah setengah jam rendi pun keluar dari ruang CT scan itu.
Rendi masih duduk di kursi roda di ruang tunggu CT scan. Suster yang mengantarnya masih ada di dalam ruang CT scan. Dilihatnya sekelilingnya. Pandanganya tertuju pada seorang perempuan yang terbaring lemah di sebuah ranjang di pojok ruang tunggu ini. diperhatikannya dengan seksama perempuan itu. Didekatinya perempuan itu. Semakin rendi mendorong kursi rodanya mendekati ranjang perempuan itu, semakin hancur rasa pahit di hatinya, semakin dekat dirinya dengan perempuan itu, semakin deras air matanya mengalir.
“rima…”, ujar rendi lirih.
Tak ada jawaban, yang rendi dengar hanya suara erangan pelan.
“rimaaa…”, perempuan itu menoleh ke arah rendi.
“rendi…”, ujar rima pelan. Senyum khasnya muncul dengan air mata.
“kenapa, ma…kenapa…?!”, sahut rendi sambil menyeka air mata rima.
Rima hanya tersenyum dengan derai air mata.
Rendi pun tak kuasa menahan tangisnya. Dicobanya tuk berdiri, tak dihiraukan lagi rasa sakit di tangan dan kakinya.
“ceritakan padaku, ma…”
“aku ingin sekali bercerita padamu, tapi kamu tak pernah punya waktu buatku…”
Tangis rendi semakin kencang mendengar kata2 rima.
“maafin aku, rima…”
“itu bukan salah kamu, rendi. Kamu berhak menyakiti orang yang udah nyakitin kamu, anggap saja kita impas…”
Rendi membelai rambut rima dan menggenggam jemari rima.
“Tuhan menjawab doaku, ren…”
Rendi tak berkata, hanya menangis.
“kamu ada disini sekarang denganku, Tuhan menjawab doaku, ren…”
Rendi tak lagi mampu berkata-kata, berkali-kali dia menciumi tangan rima.
“tak lama lagi, ren…tak lama lagi…”
Rendi mencoba tenang. Ditariknya nafasnya dalam2. ceritakan padaku, ren…ceritakan padaku semuanya…”
“masih ada waktu beberapa hari lagi, aku akan ceritakan semuanya…”
“maafin aku, ma…aku tak setegar yang kamu pikirkan…”
“enggak, ren…kamu memang tegar…tegarlah buatku kali ini…”
Rendi mengangguk. Kedua orang itu pun larut dalam tangis. Air mata rupanya telah meluluh lantakkan rasa pahit yang telah membatu di hati rendi.
“aku ingin ada terus di sisi kamu hingga saat terakhirmu…aku sayang kamu, rima…”, ujar rendi sambil menyeka air mata di mata rima dan mengecup senyum di bibir rima.
Your Failed Guardian Angel
“kamu tidak akan bunuh diri kan…?!”, ujar satria pelan.
Perempuan itu menggeleng pelan.
“mungkin, aku akan menemani kamu malam ini, perasaanku benar2 was2…”, ujar satria lagi.
“aku sudah baikan sekarang, berkat kamu…”, sahut perempuan itu.
“obatnya sudah kamu minum…?!”, Tanya satria sambil menatap wajah kekasihnya itu.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum kecil.
“tak ada yang perlu kamu risaukan, aku punya kamu…”, ujar perempuan itu sambil memegang pipi satria.
Satria hanya tersenyum sambil memegang tangan halus milik perempuan itu yang sedang mengelus pipinya.
“jangan bunuh diri ya…”, ujar satria pelan.
Perempuan itu tak menjawab, hanya tersenyum.
“jangan bunuh diri ya…?!, berjanjilah padaku…”, ujar satria lagi.
“aku punya kamu, tak hanya hari ini, kemarin pun aku punya kamu, selamanya aku akan punya kamu…”, sahut perempuan itu.
“aku tahu, tapi gak tau kenapa, perasaan aku benar2 tidak enak sekarang…tak seperti hari2 kemarin…”, ujar satria sambil menyenderkan badannya ke dinding kamar.
“pulanglah, sudah larut malam…”, ujar perempuan itu.
“berjanjilah dulu padaku…!!!”, sahut satria.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum.
“sebenarnya aku ingin sekali disini, setidaknya sampai besok pagi…”, ujar satria.
“pulanglah, aku baik2 saja, aku punya kamu, selamanya…”, sahut perempuan itu sambil mencium kening satria.
Satria mengangguk dan mulai berdiri.
“besok pagi aku jemput seperti biasa ya..”, ujar satria sambil membuka pintu kamar.
perempuan itu mengangguk pelan.
Satria pun berlalu pulang dengan perasaan was2 yang terus berkecamuk di dalam dirinya.
Dicobanya untuk tetap tenang, namun tak bisa.
Keesokan paginya.
Satria berlari di jalan komplek perumahan kekasihnya itu, hujan gerimis turun di pagi yang muram ini. Semalaman dia tak bisa tidur.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat rumah 2 lantai yang dicat putih itu penuh dengan orang2 di halaman. Sebuah mobil ambulan diparkir tepat di depan pintu gerbang.
Kakinya seperti tak punya tenaga untuk berdiri, apalagi untuk berjalan. Dia tahu apa yang terjadi. Satria berjalan menuju rumah itu, suara2 orang2 yang riuh tak terdengar di telinganya.
Hening.
Dilihatnya sepasang orang tua yang terus menangis di ruang tamu. Satria terus berjalan menuju kamar kekasihnya yang sudah di pasang garis polisi.
Satria menarik nafasnya dalam2, perlahan-lahan dibukanya pintu kamar kekasihnya itu.
Air matanya mengalir deras, kepalanya tertunduk dan tak sanggup melihat kekasihnya yang tergantung dengan seutas tali tambang di langit2 kamar. Darah dari nadi kekasihnya memenuhi lantai kamar.
Dicobanya untuk tetap tegar, namun tak bisa.
“kenapa kamu berbohong padaku…?!, kenapa…?!”, ujar satria lirih, bercampur dengan air mata dan penyesalan.
Dilihatnya sekali lagi wajah kekasihnya itu. Air matanya masih mengalir deras.
Ditutupnya perlahan pintu kamar itu. Satria kembali berjalan keluar sambil memegangi dinding rumah sebagai pegangan.
Satria terus berjalan keluar dari rumah itu. Hujan lebat mengguyur tubuh satria.
Tangisnya berbaur dengan hujan. Sebanyak itulah rasa kehilangannya. Tak didengarnya lagi suara2 di sekitarnya, hanya keheningan.
Kata2 kekasihnya masih terngiang di kepalanya ; ““aku punya kamu, tak hanya hari ini, kemarin pun aku punya kamu, selamanya aku akan punya kamu…”
“aku akan selalu jadi kepunyaanmu, meski aku gagal menyelamatkanmu…”, ujar satria lirih.
You called me after midnight,
it must have been three years since we last spoke.
I slowly tried to bring back
the image of your face from the memories so old.
I tried so hard to follow,
but didn't catch a half of what had gone wrong,
said "I don't know what I can save you from. "
I don't know what I can save you from.
I asked you to come over,
and within half an hour,
you were at my door.
I had never really known you,
but I realized that the one you were before,
had changed into somebody for whom
I wouldn't mind to put the kettle on.
Still I don't know what I can save you from.
I don't know what I can save you from.
(KINGS OF CONVENIENCE - i don't know what i can save you from)
[ untuk mereka yang telah membunuh dirinya sendiri, kalian memang pemberani dan tak sekedar omong kosong belaka, I salute you...!!! ]
Perempuan itu menggeleng pelan.
“mungkin, aku akan menemani kamu malam ini, perasaanku benar2 was2…”, ujar satria lagi.
“aku sudah baikan sekarang, berkat kamu…”, sahut perempuan itu.
“obatnya sudah kamu minum…?!”, Tanya satria sambil menatap wajah kekasihnya itu.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum kecil.
“tak ada yang perlu kamu risaukan, aku punya kamu…”, ujar perempuan itu sambil memegang pipi satria.
Satria hanya tersenyum sambil memegang tangan halus milik perempuan itu yang sedang mengelus pipinya.
“jangan bunuh diri ya…”, ujar satria pelan.
Perempuan itu tak menjawab, hanya tersenyum.
“jangan bunuh diri ya…?!, berjanjilah padaku…”, ujar satria lagi.
“aku punya kamu, tak hanya hari ini, kemarin pun aku punya kamu, selamanya aku akan punya kamu…”, sahut perempuan itu.
“aku tahu, tapi gak tau kenapa, perasaan aku benar2 tidak enak sekarang…tak seperti hari2 kemarin…”, ujar satria sambil menyenderkan badannya ke dinding kamar.
“pulanglah, sudah larut malam…”, ujar perempuan itu.
“berjanjilah dulu padaku…!!!”, sahut satria.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum.
“sebenarnya aku ingin sekali disini, setidaknya sampai besok pagi…”, ujar satria.
“pulanglah, aku baik2 saja, aku punya kamu, selamanya…”, sahut perempuan itu sambil mencium kening satria.
Satria mengangguk dan mulai berdiri.
“besok pagi aku jemput seperti biasa ya..”, ujar satria sambil membuka pintu kamar.
perempuan itu mengangguk pelan.
Satria pun berlalu pulang dengan perasaan was2 yang terus berkecamuk di dalam dirinya.
Dicobanya untuk tetap tenang, namun tak bisa.
Keesokan paginya.
Satria berlari di jalan komplek perumahan kekasihnya itu, hujan gerimis turun di pagi yang muram ini. Semalaman dia tak bisa tidur.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat rumah 2 lantai yang dicat putih itu penuh dengan orang2 di halaman. Sebuah mobil ambulan diparkir tepat di depan pintu gerbang.
Kakinya seperti tak punya tenaga untuk berdiri, apalagi untuk berjalan. Dia tahu apa yang terjadi. Satria berjalan menuju rumah itu, suara2 orang2 yang riuh tak terdengar di telinganya.
Hening.
Dilihatnya sepasang orang tua yang terus menangis di ruang tamu. Satria terus berjalan menuju kamar kekasihnya yang sudah di pasang garis polisi.
Satria menarik nafasnya dalam2, perlahan-lahan dibukanya pintu kamar kekasihnya itu.
Air matanya mengalir deras, kepalanya tertunduk dan tak sanggup melihat kekasihnya yang tergantung dengan seutas tali tambang di langit2 kamar. Darah dari nadi kekasihnya memenuhi lantai kamar.
Dicobanya untuk tetap tegar, namun tak bisa.
“kenapa kamu berbohong padaku…?!, kenapa…?!”, ujar satria lirih, bercampur dengan air mata dan penyesalan.
Dilihatnya sekali lagi wajah kekasihnya itu. Air matanya masih mengalir deras.
Ditutupnya perlahan pintu kamar itu. Satria kembali berjalan keluar sambil memegangi dinding rumah sebagai pegangan.
Satria terus berjalan keluar dari rumah itu. Hujan lebat mengguyur tubuh satria.
Tangisnya berbaur dengan hujan. Sebanyak itulah rasa kehilangannya. Tak didengarnya lagi suara2 di sekitarnya, hanya keheningan.
Kata2 kekasihnya masih terngiang di kepalanya ; ““aku punya kamu, tak hanya hari ini, kemarin pun aku punya kamu, selamanya aku akan punya kamu…”
“aku akan selalu jadi kepunyaanmu, meski aku gagal menyelamatkanmu…”, ujar satria lirih.
You called me after midnight,
it must have been three years since we last spoke.
I slowly tried to bring back
the image of your face from the memories so old.
I tried so hard to follow,
but didn't catch a half of what had gone wrong,
said "I don't know what I can save you from. "
I don't know what I can save you from.
I asked you to come over,
and within half an hour,
you were at my door.
I had never really known you,
but I realized that the one you were before,
had changed into somebody for whom
I wouldn't mind to put the kettle on.
Still I don't know what I can save you from.
I don't know what I can save you from.
(KINGS OF CONVENIENCE - i don't know what i can save you from)
[ untuk mereka yang telah membunuh dirinya sendiri, kalian memang pemberani dan tak sekedar omong kosong belaka, I salute you...!!! ]
Langganan:
Postingan (Atom)
